Sabtu, 01 Januari 2011

Beribadah di GRII Kemayoran

Saya beruntung sekali di awal tahun 2011 ini berkesempatan untuk beribadah di salah satu gereja yang ukuran gedungnya terbesar se-Jakarta. Gereja itu adalah Gereja Reformed Injili Indonesia yang berada di daerah Kemayoran, Jakarta Pusat. Saya memang mempunyai resolusi 2011, yang salah satunya adalah: sebulan sekali mengunjungi gereja-gereja dari berbagai denominasi. Untuk apa? Untuk menimba ilmu, siapa tahu ada yang bisa diterapkan di GKI. Dan kalau saat ini saya menuliskan catatan hasil kunjungan ke GRII, saya menuliskannya tanpa tendensi apapun, selain untuk membagikan kembali apa yang sudah saya dapatkan. Dan perlu ditegaskan diawal, bahwa catatan hasil kunjungan ini merupakan catatan dari kacamata 'seorang tamu', yang baru atau jarang datang ke sana. Jadi mohon dimaklumi kalau hasil catatan tersebut bukan untuk meng-generalisir, namun sekedar memaparkan 'first impression' alias kesan pertama yang dalam banyak aspek tidak bisa dibilang mewakili seluruh kebenaran.

Catatan hasil kunjungan ini memakai formulir evaluasi kebaktian yang telah dikembangkan oleh Majelis Jemaat GKI Jemaat Nurdin Jakarta, dengan menganalisa 25 item pengamatan yang mencakup 5 aspek, yaitu: (1) Penyambutan, (2) Suasana Ibadah, (3) Pendukung Ibadah, (4) Khotbah, dan (5) Pelayanan Penatua.

Mari kita mulai....

OVERVIEW
GRII memang bukanlah gereja Reformed Historis, yaitu Gereja Reformed yang secara historis di-plant oleh gereja-gereja Reformed Belanda (seperti GKI, GKJ, dll). Namun GRII memosisikan dirinya sebagai gereja yang menganut Teologi Reformed, sebagai buah kristalisasi pemikiran dan pergumulan pendirinya, yaitu Pdt. Stephen Tong. Seharusnyalah GRII memiliki kesamaan dengan Gereja-gereja Reformed lainnya yang sudah lama established, sehingga mustinya ada satu kesatuan yang cukup erat (karena menganut teologi yang sama). Apalagi GRII semula diusung oleh 3 serangkai yang 2 diantaranya merupakan pendeta Reformed Historis (yaitu eks pendeta GKI). Namun di lapangan lain ceritanya.... Ada banyak kerikil tajam yang membuat gereja-gereja yang se-azas ini menjadi tidak mesra hubungannya... (terlalu panjang untuk dibahas dalam kesempatan ini). Saya juga tidak tahu apakah GRII sudah menjadi anggota Gereja-gereja Reformed Sedunia (yaitu WCRC: World Communion of Reformed Churches). Mungkin ada pembaca yang anggota GRII yang bisa membantu mengonfirmasikannya.

ASPEK 1: PENYAMBUTAN
Memasuki gedung GRII ternyata musti melewati pengamanan berlapis, bagaikan di mall. Di luar ada security yang memeriksa setiap mobil yang akan masuk, dan di dalam ada pemeriksaan lagi atas tas yang dibawa oleh pengunjung ibadah. Hmm... agak menyebalkan, tapi mungkin langkah ini memang diperlukan mengingat sikon Indonesia yang sering kurang aman untuk kegiatan peribadahan. Namun rasa sebal itu agak berkurang dengan kehadiran para usher yang begitu sigap menyambut bahkan mencarikan tempat duduk atau sekedar menunjukkan arah. Namun... kurang senyum dan sapa ya.... Oya, satu catatan lagi, yaitu parkir. Tadinya saya menduga parkirnya bakal susah, tapi ternyata tidak. Setelah membayar tarif parkir flat sebesar Rp. 5.000,- (untuk mobil) atau Rp. 1.000,- (untuk motor), cukup dibutuhkan waktu sekitar 10 menit untuk mendapatkan tempat parkir... Okelah.

APEK 2: SUASANA IBADAH
Nah ini dia.... memang sulit ya mengatur orang sebanyak ribuan orang. Dari ibadah dimulai sampai dengan 30 menit sesudahnya, ada ratusan bahkan ribuan umat yang datang terlambat dan berjalan kesana kemari untuk mencari tempat duduk, serta menimbulkan noise yang membuat ibadah berjalan kurang khidmat. Saat saya datang, 5 menit sebelum ibadah dimulai, juga masih dilakukan latihan atas lagu yang mungkin jarang dinyanyikan. Dan sesudah latihan itu, langsung saja ibadah dimulai... hmm menurut saya sih belum terbangun suasana ibadah yang baik.

ASPEK 3: PENDUKUNG IBADAH
GRII beruntung memiliki alat-alat musik terbaik, yaitu piano yang terbaik dan pipe organ 3500 pipa yang luar biasa bagusnya. Ini baru namanya gereja! Selain itu ada 2 orang violis dan satu orang song leader. Tapi sayang, perimbangan suaranya kelewat njomplang. Suara pipe organ begitu powerfull sehingga menenggelamkan suara piano dan violin (dari pantauan arah balkon sisi pipe organ). Mungkin disisi satunya lagi suara piano dan violin lebih terdengar, yah ini memang masalah mixing sound yang perlu mendapat perhatian dari pakar akustik. Juga ada suara 'ngiiing' feed back yang cukup mengganggu, sayang sekali padahal ruangan ibadah itu saya yakin sudah dibangun dengan sistem akustik yang baik. Lainnya, masalah penampilan/cara berpakaian pelayan, multimedia, dlsb saya pikir sudah oke.

ASPEK 4: KHOTBAH
Wah kalau yang ini betulnya saya nggak berkompeten untuk memberikan penilaian, wong yang khotbah adalah Pdt. Stephen Tong sendiri yang sudah jelas-jelas seorang pakar khotbah. Namun, with all respect, saya ingin memberi catatan kecil demikian: suaranya suka nggak jelas.... apalagi ibu penerjemah di sebelahnya sering balapan bicara, menimbulkan suara bising yang cukup mengganggu jemaat (yang duduk di area saya) dalam menangkap isi khotbah. Khotbah dibawakan cukup lama, sekitar 1,5 jam dimana 30 menit pertama digunakan untuk sharing pergumulan pribadi dan pelayanan gereja yang membutuhkan dukungan dana yang besar.... Selebihnya, saya harus akui bahwa ybs membawakan khotbah dengan baik dan inspiratif sekali, dan membuat saya pun membuat komitmen pribadi untuk merancang hidup saya dengan lebih baik di tahun 2011 ini..

ASPEK 5: PELAYANAN PENATUA
Saya agak sulit menemukan mana yang penatua dan mana yang bukan penatua. Mungkin yang pakai jas yang penatua... namun kebanyakan mereka hanya duduk/berdiri di tempat saja, kurang terlibat dalam kegiatan peribadatan. Namun saya ingin memberikan catatan mengenai pelaksanaan perjamuan kudus (PK). PK yang dilaksanakan dengan air anggur dan hosti memang agak kacau dalam pelaksanaannya, sampai-sampai saat PK dimulai pun masih ada jemaat yang belum menerima air anggur dan hosti. Mungkin petugas PK perlu mencontoh kolektan dalam membagikan kantong kolekte yang bisa dilaksanakan begitu cepat dan rapi.

Demikian catatan kecil saya, semoga menjadi masukan yang berguna bagi kita semua.
Salam berdaya!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar