Kamis, 28 Maret 2013

His Preaching Angel and My Loving Dad


Bagian ini didedikasikan untuk kekasih kita, para Pahlawan Allah, yang telah menang dan menunjukkan keteladanan iman yang memberi kesan yang mendalam; tidak hanya berbicara mengenai mereka yang sudah kembali ke Rumah Sejati, namun juga menjadi sharing kita yang masih tinggal dalam kefanaan dan bergumul dengan misteri kehidupan yang bernama: kehilangan. Kiranya kolom ini menjadi sarana untuk saling berbagi, dan silakan mengirimkan kesaksian Anda (teks dan foto) ke alamat email kami: militiachristi2010@gmail.com


DEDDY S HARYONO
Lahir: Cirebon, 12 Agustus 1946 
Wafat: Jakarta, 21 Oktober 2001

Pelayanan:
  • 10 Feb. 1973: Mulai melayani di GKI Serang
  • 12 Agst. 1973: Diteguhkan sebagai Penatua Khusus
  • 16 Juli 1974: Ditahbiskan sebagai Pendeta di GKI Serang
  • 1975 – 1982: Ketua Badan Kerjasama Kristen Katolik di Serang
  • 1975 - 1977: Menjadi Pendeta Konsulen di GKI Mero dan GKI
    Bandar Lampung
  • 1982 - 1983: Menjadi Pendeta Konsulen di GKI Bandar Lampung
  • 25 Juli 1983: Diteguhkan sebagai Pendeta di GKI Mangga Besar
  • 1983 – 1985: Guru Agama Kristen di SMP SMA Mangga Besar
  • 15 Januari 1991: Mulai bertugas di Jemaat GKI Nurdin
  • 13 Agustus 1991: Diteguhkan sebagai Pendeta di GKI Nurdin

Minggu, tanggal 21 Oktober 2001 adalah hari yang tidak akan pernah terlupa olehku karena hari itu merupakan hari perpisahanku secara jasmani untuk selama-lamanya dengan papaku yang aku kasihi. Ia pergi begitu mendadak, namun secara keseluruhan proses kepergiannya terlihat indah. Ia tidak tersiksa oleh sakit yang berkepanjangan, ia pergi di hari minggu, sepulang dari gereja, di puncak pelayanannya, dan aku pikir…ia adalah pahlawan Tuhan yang setia sampai akhir hayatnya.  Di detik-detik terakhir hidupnya, perkataan yang keluar pun masih berkisar tentang pelayanannya. 

Dua minggu terakhir sebelum kepergiannya, aku bersama papa terlibat aktif dalam persiapan dan pelaksanaan Panitia Retret Jemaat. Dalam retretpun aku banyak mendampingi papa karena ia terlihat kurang fit. Sebab sebelumnya, memang sudah banyak pelayanan yang beliau lakukan dan jalani tanpa pernah mengeluh. Tidak kecil pula tantangan dan kesulitan yang ia hadapi dalam pelayanannya, namun ia tetap berpegang teguh bahwa Tuhan yang akan menguatkannya. Tidak sedikit pula masalah pribadi dan keluarga yang timbul, namun beliau pasrah bahwa Tuhan akan  buka jalan dan memberikan yang terbaik. Di tengah-tengah banyaknya pergumulan yang dihadapinya, papa masih cukup memperhatikan orang lain, baik kepada anggota keluarga  maupun jemaat.   

Saat itu, aku seperti bermimpi, papa meninggal di tanganku. Jam 5 pagi, aku dan papa masih sempat nonton berita di TV sambil bercakap-cakap tentang pelayanan beliau pada hari minggu itu. Ia pergi ke gereja sendiri dengan berjalan kaki. Jam 8 lewat, ia pulang diantar mobil gereja dalam kondisi yang lemas. Ia berkata “badannya lemes sekali, tolong buatkan teh hangat manis.” Di kamar, aku membuka kemeja, dasi, dan ikat pinggang agar papa dapat bernafas dengan lebih lega. Aku tanya “Pa, ada yang dirasakan?”. Jawabnya : “Dadanya sesak sekali, sakiiiit!”. Aku langsung berpikir : jangan-jangan papa kena serangan jantung lagi. Lalu aku ingat untuk segera memberikan obat yang harus ditaruh dibawah lidah sebagai pertolongan pertama. Beliau tampak sedikit tenang, tidak mengeluh…. Tak lama kemudian ia minta oksigen, aku memberikan tabung oksigen kecil dan ia mampu menyemprotkan oksigen sendiri. Setelah itu, kondisinya terlihat agak tenang, aku berada di sampingnya sambil memegang tangannya dan aku sudah meneteskan air mata….entah kenapa? Kemudian, papa ingin membalikkan tubuhnya ke kiri, sambil meminta oksigen kembali. Aku memberikannya namun ia tidak bisa menyemprotkan oksigen sendiri karena kondisinya yang amat lemah. Aku membantu memberikan oksigen sambil berkata :“Pa, tarik nafas pelan-pelan pa. Pa, tarik nafas pa……tapi tak lama kemudian, ia menarik nafas panjang…..dan berhenti bernafas… mukanya membiru, dan tubuhnya tergeletak lemas di kasur.

Mama, aku, dan adik-adik berteriak…..’papa jangan pergi…………, papa jangan pergi.’ Air mata mengalir deras tanpa bisa dibendung. Setelah itu, aku tidak berani lagi untuk melihat papa….. aku meninggalkan kamar papa dan aku masih berharap kalau papa hanya pingsan, meskipun aku sudah tahu bahwa tidak ada nadi lagi yang berdenyut di tubuhnya.

Lalu aku masuk ke kamarku dan berdoa “Tuhan, mengapa papa diambil sekarang?” Kenapa Tuhan? Kenapa? Apakah Tuhan tidak mengerti bahwa saya masih membutuhkan papa dan ingin bisa membahagiakan papa? Aku tidak tahu apa maksud Tuhan, tapi aku minta Engkau yang memberi aku kekuatan untuk menghadapi dan menerima kenyataan ini. Tolong Tuhan……… tolong kuatkan aku.

Setelah aku lebih mampu mengendalikan diri, aku keluar kamar dan mendampingi adikku yang juga amat terpukul hingga ia histeris. Jenazah papa dibawa ke RS Sumber Waras. Sejam kemudian aku ke sana bersama adik perempuanku. Aku memberanikan diri masuk ke kamar jenazah….aku melihat wajah papa begitu tenang dan damai. Aku menangis dan memeluknya…sambil berkata dalam hati  : “Pa, selamat jalan. Pergilah dengan tenang. Kelak kita akan berkumpul kembali dalam sukacita di rumah Bapa.” Aku keluar dari kamar jenazah dengan perasaan yang amat menyakitkan,   sekaligus…… ada juga keyakinan bahwa papaku kini telah bahagia dan terbebas dari segala penderitaan, dan ia sudah layak untuk menerima itu.

Puncak dari proses perkabungan yang kurasa akan sulit untuk dihadapi adalah ketika kebaktian tutup peti karena saat itulah…saat terakhir kali aku dapat melihat tubuh jasmani papaku. Air mata yang keluar, kuyakini bukan berarti aku tidak beriman. Air mata bagiku adalah hal yang wajar sebagai akibat dari rasa sedih yang aku rasakan karena kehilangan papa.

Ternyata hari-hari terasa  lebih berat setelah segala proses/upacara perkabungan usai. Tinggal di rumah adalah waktu-waktu yang amat menyakitkan. Melihat ruang kerjanya, kamarnya, barang-barang dan buku-buku miliknya, dapat membuat air mata mengalir begitu saja. Foto keluarga yang ada di dinding pun membuat rasa kehilangan itu makin terasa.  

Aku sungguh tidak tahu pada waktu itu harus berbuat apa untuk mengatasi rasa duka ini. Satu hal yang kutahu yaitu jika aku merasa sedih, aku akan menangis yang kupikir sebagai cara untuk mengekspresikan kesedihan itu. Biasanya setelah menangis, ada kelegaan.

Perasaan duka masih terus terasa, namun kehidupanku  harus terus berjalan. Aku berusaha untuk memfokuskan diri pada tugas-tugas studiku yang sempat tertinggal karena aku tidak masuk selama beberapa hari. Namun aku mengalami kesulitan untuk berkonsentrasi. Tugas-tugas yang begitu banyak membuat aku putus asa kalau-kalau aku dapat menyelesaikan studiku yang tinggal sedikit lagi.  

Suatu malam yang menyakitkan timbul kembali yaitu pada malam natal dan malam tahun baru dimana biasanya, kami sekeluarga ke gereja bersama dan mengadakan doa malam bersama di akhir tahun. Namun tahun ini, keadaan sudah berubah dan aku masih dalam proses menyesuaikan diri dengan keadaan yang baru ini. Pada malam hari-hari tersebut, aku di kamar menangis, berdoa, dan menulis surat atau ungkapan hatiku kepada papa. Itu membuat aku lega.

Satu hal yang membuat ku bahagia adalah pada tanggal 19 Februari 2002, aku dinyatakan lulus. Di samping rasa bahagia tersebut, ada pula rasa sedih karena papa ku tidak sempat melihat anaknya berhasil meraih cita. Setelah studiku selesai, hal yang harus kupikirkan adalah mengenai pekerjaan dan mencari tempat tinggal. Hal-hal tersebut membuatku semakin tertekan. Air mata banyak mengalir di malam hari ketika aku merasa tidak yakin akan mampu menjalani kehidupan selanjutnya, terutama pada saat anak-anak papa belum benar-benar bisa mandiri secara ekonomi.

Saat-saat itu…saat yang tidak mudah untuk dilalui….aku seringkali rindu papa, ingin sekali bisa cepat berkumpul kembali dengannya, bahkan ada rasa putus asa dan ingin segera bersatu dengan papa di surga. Aku menemui kesulitan mendapatkan seorang teman untuk saling berbagi, saling menguatkan, saling mendukung, saling mendoakan. Aku takut untuk terbuka kepada orang lain karena….. ungkapan-ungkapan atau pemikiran-pemikiran logis yang dilontarkan orang terhadap rasa duka dan pergumulan yang aku hadapi….acapkali membuat aku merasa tidak dimengerti dan lemah iman.  Padahal ketika aku sharing….. yang aku butuhkan hanyalah sepasang telinga yang bersedia untuk mendengar…… 

Kini, pergumulan demi pergumulan terjawab…..datang dan pergi……, bergumul kembali atas hal-hal yang lain. Makin hari makin kurasakan kasih Tuhan. Sampai detik ini, kami sekeluarga tidak terlantar dan aku imani itu karena Tuhan yang memelihara hidup kami sekeluarga. Ya memang benar…Sumber Daya Manusia Sumber itu terbatas, sedangkan Sumber Daya Tuhan tidak terbatas………..Duka yang ada kuyakin pasti akan sirna.

Banyak perkara yang tak dapat kumengerti
Mengapakah harus terjadi di dalam kehidupan ini?
Satu hal kuyakin dan kusimpan dalam hati
Tiada sesuatu kan terjadi tanpa Allah Peduli

Allah mengerti, Allah peduli,
Segala persoalan yang aku hadapi.
Tak akan pernah dibiarkanNya
Ku bergumul sendiri, sebab Allah peduli.
Di bukaNya jalanku sebab Allah mengerti.

- Yanthi AH, April 2002 -

Tidak ada komentar:

Posting Komentar