Kamis, 28 Maret 2013

His Preaching Angel and My Loving Dad


Bagian ini didedikasikan untuk kekasih kita, para Pahlawan Allah, yang telah menang dan menunjukkan keteladanan iman yang memberi kesan yang mendalam; tidak hanya berbicara mengenai mereka yang sudah kembali ke Rumah Sejati, namun juga menjadi sharing kita yang masih tinggal dalam kefanaan dan bergumul dengan misteri kehidupan yang bernama: kehilangan. Kiranya kolom ini menjadi sarana untuk saling berbagi, dan silakan mengirimkan kesaksian Anda (teks dan foto) ke alamat email kami: militiachristi2010@gmail.com


DEDDY S HARYONO
Lahir: Cirebon, 12 Agustus 1946 
Wafat: Jakarta, 21 Oktober 2001

Pelayanan:
  • 10 Feb. 1973: Mulai melayani di GKI Serang
  • 12 Agst. 1973: Diteguhkan sebagai Penatua Khusus
  • 16 Juli 1974: Ditahbiskan sebagai Pendeta di GKI Serang
  • 1975 – 1982: Ketua Badan Kerjasama Kristen Katolik di Serang
  • 1975 - 1977: Menjadi Pendeta Konsulen di GKI Mero dan GKI
    Bandar Lampung
  • 1982 - 1983: Menjadi Pendeta Konsulen di GKI Bandar Lampung
  • 25 Juli 1983: Diteguhkan sebagai Pendeta di GKI Mangga Besar
  • 1983 – 1985: Guru Agama Kristen di SMP SMA Mangga Besar
  • 15 Januari 1991: Mulai bertugas di Jemaat GKI Nurdin
  • 13 Agustus 1991: Diteguhkan sebagai Pendeta di GKI Nurdin

Minggu, tanggal 21 Oktober 2001 adalah hari yang tidak akan pernah terlupa olehku karena hari itu merupakan hari perpisahanku secara jasmani untuk selama-lamanya dengan papaku yang aku kasihi. Ia pergi begitu mendadak, namun secara keseluruhan proses kepergiannya terlihat indah. Ia tidak tersiksa oleh sakit yang berkepanjangan, ia pergi di hari minggu, sepulang dari gereja, di puncak pelayanannya, dan aku pikir…ia adalah pahlawan Tuhan yang setia sampai akhir hayatnya.  Di detik-detik terakhir hidupnya, perkataan yang keluar pun masih berkisar tentang pelayanannya. 

Dua minggu terakhir sebelum kepergiannya, aku bersama papa terlibat aktif dalam persiapan dan pelaksanaan Panitia Retret Jemaat. Dalam retretpun aku banyak mendampingi papa karena ia terlihat kurang fit. Sebab sebelumnya, memang sudah banyak pelayanan yang beliau lakukan dan jalani tanpa pernah mengeluh. Tidak kecil pula tantangan dan kesulitan yang ia hadapi dalam pelayanannya, namun ia tetap berpegang teguh bahwa Tuhan yang akan menguatkannya. Tidak sedikit pula masalah pribadi dan keluarga yang timbul, namun beliau pasrah bahwa Tuhan akan  buka jalan dan memberikan yang terbaik. Di tengah-tengah banyaknya pergumulan yang dihadapinya, papa masih cukup memperhatikan orang lain, baik kepada anggota keluarga  maupun jemaat.   

Saat itu, aku seperti bermimpi, papa meninggal di tanganku. Jam 5 pagi, aku dan papa masih sempat nonton berita di TV sambil bercakap-cakap tentang pelayanan beliau pada hari minggu itu. Ia pergi ke gereja sendiri dengan berjalan kaki. Jam 8 lewat, ia pulang diantar mobil gereja dalam kondisi yang lemas. Ia berkata “badannya lemes sekali, tolong buatkan teh hangat manis.” Di kamar, aku membuka kemeja, dasi, dan ikat pinggang agar papa dapat bernafas dengan lebih lega. Aku tanya “Pa, ada yang dirasakan?”. Jawabnya : “Dadanya sesak sekali, sakiiiit!”. Aku langsung berpikir : jangan-jangan papa kena serangan jantung lagi. Lalu aku ingat untuk segera memberikan obat yang harus ditaruh dibawah lidah sebagai pertolongan pertama. Beliau tampak sedikit tenang, tidak mengeluh…. Tak lama kemudian ia minta oksigen, aku memberikan tabung oksigen kecil dan ia mampu menyemprotkan oksigen sendiri. Setelah itu, kondisinya terlihat agak tenang, aku berada di sampingnya sambil memegang tangannya dan aku sudah meneteskan air mata….entah kenapa? Kemudian, papa ingin membalikkan tubuhnya ke kiri, sambil meminta oksigen kembali. Aku memberikannya namun ia tidak bisa menyemprotkan oksigen sendiri karena kondisinya yang amat lemah. Aku membantu memberikan oksigen sambil berkata :“Pa, tarik nafas pelan-pelan pa. Pa, tarik nafas pa……tapi tak lama kemudian, ia menarik nafas panjang…..dan berhenti bernafas… mukanya membiru, dan tubuhnya tergeletak lemas di kasur.

Mama, aku, dan adik-adik berteriak…..’papa jangan pergi…………, papa jangan pergi.’ Air mata mengalir deras tanpa bisa dibendung. Setelah itu, aku tidak berani lagi untuk melihat papa….. aku meninggalkan kamar papa dan aku masih berharap kalau papa hanya pingsan, meskipun aku sudah tahu bahwa tidak ada nadi lagi yang berdenyut di tubuhnya.

Lalu aku masuk ke kamarku dan berdoa “Tuhan, mengapa papa diambil sekarang?” Kenapa Tuhan? Kenapa? Apakah Tuhan tidak mengerti bahwa saya masih membutuhkan papa dan ingin bisa membahagiakan papa? Aku tidak tahu apa maksud Tuhan, tapi aku minta Engkau yang memberi aku kekuatan untuk menghadapi dan menerima kenyataan ini. Tolong Tuhan……… tolong kuatkan aku.

Setelah aku lebih mampu mengendalikan diri, aku keluar kamar dan mendampingi adikku yang juga amat terpukul hingga ia histeris. Jenazah papa dibawa ke RS Sumber Waras. Sejam kemudian aku ke sana bersama adik perempuanku. Aku memberanikan diri masuk ke kamar jenazah….aku melihat wajah papa begitu tenang dan damai. Aku menangis dan memeluknya…sambil berkata dalam hati  : “Pa, selamat jalan. Pergilah dengan tenang. Kelak kita akan berkumpul kembali dalam sukacita di rumah Bapa.” Aku keluar dari kamar jenazah dengan perasaan yang amat menyakitkan,   sekaligus…… ada juga keyakinan bahwa papaku kini telah bahagia dan terbebas dari segala penderitaan, dan ia sudah layak untuk menerima itu.

Puncak dari proses perkabungan yang kurasa akan sulit untuk dihadapi adalah ketika kebaktian tutup peti karena saat itulah…saat terakhir kali aku dapat melihat tubuh jasmani papaku. Air mata yang keluar, kuyakini bukan berarti aku tidak beriman. Air mata bagiku adalah hal yang wajar sebagai akibat dari rasa sedih yang aku rasakan karena kehilangan papa.

Ternyata hari-hari terasa  lebih berat setelah segala proses/upacara perkabungan usai. Tinggal di rumah adalah waktu-waktu yang amat menyakitkan. Melihat ruang kerjanya, kamarnya, barang-barang dan buku-buku miliknya, dapat membuat air mata mengalir begitu saja. Foto keluarga yang ada di dinding pun membuat rasa kehilangan itu makin terasa.  

Aku sungguh tidak tahu pada waktu itu harus berbuat apa untuk mengatasi rasa duka ini. Satu hal yang kutahu yaitu jika aku merasa sedih, aku akan menangis yang kupikir sebagai cara untuk mengekspresikan kesedihan itu. Biasanya setelah menangis, ada kelegaan.

Perasaan duka masih terus terasa, namun kehidupanku  harus terus berjalan. Aku berusaha untuk memfokuskan diri pada tugas-tugas studiku yang sempat tertinggal karena aku tidak masuk selama beberapa hari. Namun aku mengalami kesulitan untuk berkonsentrasi. Tugas-tugas yang begitu banyak membuat aku putus asa kalau-kalau aku dapat menyelesaikan studiku yang tinggal sedikit lagi.  

Suatu malam yang menyakitkan timbul kembali yaitu pada malam natal dan malam tahun baru dimana biasanya, kami sekeluarga ke gereja bersama dan mengadakan doa malam bersama di akhir tahun. Namun tahun ini, keadaan sudah berubah dan aku masih dalam proses menyesuaikan diri dengan keadaan yang baru ini. Pada malam hari-hari tersebut, aku di kamar menangis, berdoa, dan menulis surat atau ungkapan hatiku kepada papa. Itu membuat aku lega.

Satu hal yang membuat ku bahagia adalah pada tanggal 19 Februari 2002, aku dinyatakan lulus. Di samping rasa bahagia tersebut, ada pula rasa sedih karena papa ku tidak sempat melihat anaknya berhasil meraih cita. Setelah studiku selesai, hal yang harus kupikirkan adalah mengenai pekerjaan dan mencari tempat tinggal. Hal-hal tersebut membuatku semakin tertekan. Air mata banyak mengalir di malam hari ketika aku merasa tidak yakin akan mampu menjalani kehidupan selanjutnya, terutama pada saat anak-anak papa belum benar-benar bisa mandiri secara ekonomi.

Saat-saat itu…saat yang tidak mudah untuk dilalui….aku seringkali rindu papa, ingin sekali bisa cepat berkumpul kembali dengannya, bahkan ada rasa putus asa dan ingin segera bersatu dengan papa di surga. Aku menemui kesulitan mendapatkan seorang teman untuk saling berbagi, saling menguatkan, saling mendukung, saling mendoakan. Aku takut untuk terbuka kepada orang lain karena….. ungkapan-ungkapan atau pemikiran-pemikiran logis yang dilontarkan orang terhadap rasa duka dan pergumulan yang aku hadapi….acapkali membuat aku merasa tidak dimengerti dan lemah iman.  Padahal ketika aku sharing….. yang aku butuhkan hanyalah sepasang telinga yang bersedia untuk mendengar…… 

Kini, pergumulan demi pergumulan terjawab…..datang dan pergi……, bergumul kembali atas hal-hal yang lain. Makin hari makin kurasakan kasih Tuhan. Sampai detik ini, kami sekeluarga tidak terlantar dan aku imani itu karena Tuhan yang memelihara hidup kami sekeluarga. Ya memang benar…Sumber Daya Manusia Sumber itu terbatas, sedangkan Sumber Daya Tuhan tidak terbatas………..Duka yang ada kuyakin pasti akan sirna.

Banyak perkara yang tak dapat kumengerti
Mengapakah harus terjadi di dalam kehidupan ini?
Satu hal kuyakin dan kusimpan dalam hati
Tiada sesuatu kan terjadi tanpa Allah Peduli

Allah mengerti, Allah peduli,
Segala persoalan yang aku hadapi.
Tak akan pernah dibiarkanNya
Ku bergumul sendiri, sebab Allah peduli.
Di bukaNya jalanku sebab Allah mengerti.

- Yanthi AH, April 2002 -

Sabtu, 09 Maret 2013

Referensi Musik Gereja dari Sahabat

Saya bersyukur kalau ada banyak Sahabat yang concern dengan musik gereja kita, diantaranya adalah GKI Harapan Indah dan Bapak Lukas Wiryadinata (dari GKI Wongsodirjan). Mereka telah post di internet tentang musik gereja kita (KJ, PKJ, dan NKB) yang free download yang tentu sangat membantu kita dalam meningkatkan pelayanan musik bahkan pelaksanaan peribadahan.
GKI Harapan Indah telah menyalin semua teks KJ, PKJ, dan NKB yang dapat kita copas untuk memudahkan kita dalam menyusun buku tata ibadah, bahkan menyisipkan sound clip nya sehingga kita mengetahui bagaimana bunyi lagunya.
Sementara Bapak Lukas Wiryadinata telah membuat tampilan not angka yang dapat kita ambil untuk tayangan multimedia.
Luar biasa hasil karya mereka ini, dan saya pun akan mencoba berkontribusi melalui sharing akord yang akan terus saya publikasikan di dalam blog saya ini.

Berikut link-nya:












Kidung Jemaat:
http://www.gkiharapanindah.org/download/rekap-kidung-jemaat/












Pelengkap Kidung Jemaat












Nyanyikanlah Kidung Baru

Mari terus berkarya di ladangNya, karena tidak ada yang percuma di dalam ministry kita.
Salam berdaya!

Kamis, 07 Maret 2013

CSS - Doa 2

Matriks CSS
DOA BERSAMA

Setelah kita membahas tentang 'doa pribadi' kini kita lanjutkan membahas hal yang kedua, yaitu: doa bersama.

Di depan saya sudah menjelaskan tentang satu hal yang paling membedakan antara doa pribadi dan doa bersama, yakni: inisiatornya. Doa pribadi inisiatornya adalah masing-masing pribadi, sehingga bisa menjadi indikator tingkat spiritualitas umat, sedangkan doa bersama inisiatornya adalah tata ibadah atau pemimpin ibadah (liturgos atau pendeta). Nah karena bersifat ajakan, maka perlulah doa bersama ini diatur sedemikian rupa sehingga tidak menjadi aktivitas ibadah 3B: basa-basi basi! Tidak cukup umat di 'brainwash' ttg apa itu doa atau pentingnya doa (sehingga mereka rajin berdoa dan mau berdoa dengan sungguh-sungguh). Faktanya begitu banyak umat yang berdoa sekedar LTD: (L)ipat tangan, (T)unduk kepala, dan (D)engar liturgos/pendeta berdoa.... dan tak jarang sampai.... (T)idurrr. Mungkin baik juga doa itu 'diperagakan' seperti saudara kita umat Muslim, sehingga tidak sekedar LTD bahkan menjadi LTDT.

Saya tidak sedang mengarahkan topik ke 'peragaan doa' (baru-baru ini di sebuah pertemuan raya pelayan ibadah sinode, memang ada workshop tentang peragaan doa, silakan saja selama hal itu membantu umat untuk berdoa dengan lebih baik). Tetapi doa bersama memang perlu diatur dan disiapkan dengan baik agar mengurangi kecenderungan negatif seperti tersebut di atas.

Pengaturan dan penyiapan doa bersama tersebut akan menyangkut 3 hal:
1. Alasan Doa
2. Keterlibatan Umat
3. Suasana

Alasan Doa
Mengapa kita perlu berdoa? Saya pikir hal ini perlu disepakati di awal doa bersama. Sebuah introduksi singkat, penayangan poin-poin pergumulan jemaat/masyarakat, bahkan sebuah ulasan atau video singkat yang menggambarkan 'sesuatu yang perlu didoakan' merupakan sebuah awal doa yang baik. Apabila kondisi tidak memungkinkan atau karena minimnya persiapan, minimal dalam kata-kata pertama disampaikan hal 'alasan doa' ini.
Saya beri contoh tentang Doa Pengakuan Dosa.
Janganlah langsung mengajak umat untuk berdoa secara pribadi untuk mengakui dosa masing-masing, atau langsung mengatakan: 'Tuhan, dalam seminggu ini kami telah berbuat banyak dosa dan kesalahan...dst'. Percaya saya, umat terkadang tidak tahu DOSA APA YANG MUSTI SAYA AKUI DAN SESALI! Saya pernah dengar seorang pendeta yang berkata bahwa di GKI itu setiap minggu ada doa pengakuan dosa sehingga Tuhan pun bingung musti mengampuni dosa yang mana lagi! Itu pernyataan orang yang tidak tahu dosa dan keberadaan dirinya yang penuh dengan dosa, dan sebuah cerminan yang bagus atas kondisi real di jemaat. Ya memang seperti itulah kenyataannya, bahwa umat - bahkan pendeta/penatua - pun lupa atau tidak tahu akan lumuran dosa-dosanya yang begitu melekat dan begitu banyak itu! Itulah sebabnya, sebelum doa pengakuan dosa dinaikkan, cobalah menayangkan gambar-gambar atau video yang menggambarkan dosa disekeliling kita, seperti: suap, pelacuran, perjudian, perusakan lingkungan, pertengkaran, dsb, lebih baik lagi kalau tayangan tersebut related dengan tema ibadah. Misalnya tema ibadah tentang: Kebaikan yang dibalas dengan Kejahatan. Coba mencari tayangan yang mencerminkan hal itu, sebuah short movie atau gambar yang membuat umat berpikir: apakah saya juga melakukan hal itu? Atau... Minimal sekedar dikatakan, bahwa seringkali kita berbuat jahat kepada orang tua yang telah mengasihi kita, atau meng-korupsi perusahaan yang telah memberi kita gaji dan tunjangan-tunjangan setiap bulannya, atau menipu pelanggan setia kita dengan menjual barang-barang yang kurang berkualitas... Gambarkan alasan doa, maka umat akan bisa masuk ke dalam atmosfir doa yang lebih 'pas' dan bermakna.

Keterlibatan Umat
Saya sering merasa iri dengan umat di beberapa gereja Kharismatik yang sangat involve dalam doa bersama, yang ditunjukkan dengan ekspresi-ekspresi yang terkesan bebas, spontan, dan mandiri, seperti menangis, mengangkat tangan, ikut berkata-kata (termasuk dengan apa yang mereka yakini sebagai 'bahasa lidah'), melompat-lompat, dan lain sebagainya. Praktek-praktek doa seperti itu jelas tidak boleh di copas di gereja Protestan atau Reformed seperti GKI, karena ada pendasaran Alkitabiah yang jelas yang mengatur praktek ibadah seperti itu (tidak saya bahas disini, mungkin di lain kesempatan).
Tetapi kita perlu mencontoh spirit involvement-nya: doa bersama perlu rasa kebersamaan, yaitu adanya keterlibatan umat.
Umat tidak boleh sekedar LTD atau LTDT dalam doa bersama. Umat perlu merasa 'connected' dengan doa bersama, dan hal ini perlu diperhatikan secara serius agar gereja kita tidak terjebak pada formalitas dan seremonitas yang dibenci Tuhan, karena penuh dengan kepura-puraan (baca Matius 23:14) atau karena kurang sungguh-sungguh (baca Wahyu 3:15-16).
Nah sekarang, bagaimana caranya agar umat 'terlibat'?
Sebetulnya simpel saja: percayakan umat untuk memimpin doa bersama!
Pendeta atau liturgos atau penatua janganlah 'menguasai' doa. Apa yang bisa dilakukan umat, delegasikan kepada mereka!
Apa misalnya?
Doa persembahan misalnya. Setelah persembahan umat dikumpulkan oleh kolektan, silakan minta salah seorang kolektan untuk berdoa syukur atas berkat Tuhan. Jangan penatua lagi yang berdoa.
Contoh lainnya: doa syafaat. Nah, doa ini bisa 'menjaring' banyak keterlibatan umat. Ada berapa pokok doa syafaat? 5 pokok doa? Minta 5 orang umat untuk maju ke depan dan masing-masing memimpin satu pokok doa! Itu saja! Simpel kan?
Walah... Mana mau umat disuruh-suruh begitu. Ntar bukannya umat merasa terlibat, malah bisa kapok dan ngabur ke gereja lain yang lebih santai.
Saudara, setiap perubahan pasti akan ada pro dan kontra. Ada umat yang suka dan benci. Tapi bila perubahan itu adalah perubahan yang baik, maka yang pergi akan lebih sedikit ketimbang yang datang. Mungkin gereja akan sedikit 'guncang' dengan perginya tokoh-tokoh berduit ke gereja lain yang lebih suka jemaatnya LDT atau LTDT (karena yang penting uangnya masuk...). Tapi percaya saya, lewat pelibatan umat dalam pelayanan dan ibadah, maka Tuhan akan mempercayakan lebih banyak umat ke gereja Anda. Mengapa? Karena gereja Anda concern kepada pertumbuhan spiritualitas domba-dombaNya! Umat yang diminta terlibat dalam menaikkan doa pasti lebih bertumbuh spiritualitasnya ketimbang umat yang LTD bahkan LTDT. Saya sangat yakin akan hal itu! Silakan debat saya kalau Anda tidak setuju!
Betulnya hal 'membangun keterlibatan umat' ini dapat pula ditempuh dengan banyak cara, seperti membuka kesempatan umat untuk berdoa dengan cara membuka suara, saling mendoakan antar pasangan atau dengan sesama umat yang duduk bersebelahan, atau bahkan melalui doa yang diperagakan (meskipun saya agak kurang yakin dengan manfaatnya, karena peragakan ini terlalu diatur, tidak spontan, bahkan bisa menjadi formalitas dan seremonitas). Silakan dipikirkan bagaimana membuat umat menjadi terlibat. Saya hanya menyarankan hal tersebut (yaitu memberi kesempatan kepada umat untuk memimpin doa) supaya lebih fokus dan bisa bertahap: pertama-tama yang ditunjuk untuk memimpin doa adalah mereka yang memang sudah terbiasa, selanjutnya berangsur-angsur umat yang lain dilibatkan sebagai pemimpin doa. Wah, kalau semua umat pernah mendapat kesempatan memimpin doa, bahkan dijadwal secara teratur, saya yakin akan ada  gerakan Roh Kudus yang terjadi di gereja Anda! Di akhir ulasan ini saya akan mengusulkan sebuah struktur dosa syafaat yang mungkin dapat digunakan untuk mewujudnyatakan hal ini.

Suasana
Diawal sekali saya sudah mengatakan bahwa sekalipun kita bisa berdoa kepada Tuhan dimana saja dan kapan saja, tetapi seharusnyalah moment doa di gereja merupakan moment doa yang terbaik, saat umat secara bersama-sama berdoa. Ini mustinya menjadi pengalaman spiritual yang powerful dan meneguhkan, asal dilakukan dengan benar. Kalau ada seorang yang tidak merasa butuh berdoa, tetapi masuk ke dalam gereja yang 99% umatnya berdoa dengan sungguh-sungguh, pastilah orang tersebut pun akan terinspirasi untuk berdoa dengan sungguh-sungguh. Tapi kalau yang dia lihat adalah umat yang tidak berdoa, hanya LTD bahkan LTDT, maka moment doa itu menjadi moment yang menghancurkan semangat dan motivasi yang bersangkutan untuk menjadi pendoa yang sungguh-sungguh.
Selain faktor alasan dan keterlibatan, faktor suasana juga cukup mendukung keberhasilan doa bersama yang inspiratif.
Saya ingin mengusulkan beberapa hal untuk membentuk suasana doa yang baik:
1. Bentuk Tim Doa dan sebarkan mereka di tengah-tengah umat yang beribadah, supaya mereka bisa menjadi contoh dan teladan bagi umat di sekitar mereka untuk berdoa dengan benar. Semakin banyak gereja memiliki anggota Tim Doa, semakin baik. Bagaimana pun juga, umat memerlukan keteladanan dari sesama umat yang terdekat, ketimbang mencontoh pendeta atau penatua yang duduk jauh di depan, bahkan yang di 'first seat'
2. Ruangan jangan terlalu terang dan berisik. Pemanfaatan dimmer untuk meredupkan lampu, dan instrumentalia teduh sebagai pengantar doa merupakan sebuah ide yang perlu dipikirkan secara serius. Dalam ibadah malam, pemanfaatan lilin yang dipasang di panggung dan beberapa lokasi yang aman di antara jemaat (untuk menggantikan lampu PLN) juga menjadi sebuah pembentuk suasana doa yang baik. Buat juga peraturan yang tegas, bahwa saat doa dinaikkan maka umat tidak boleh keluar masuk ruangan, artinya kalau pas ada umat yang ke toilet atau terlambat datang, maka ybs harus menunggu di luar ruangan sampai doa selesai dipanjatkan. Ini juga untuk menegaskan bahwa masalah doa itu tidak boleh dianggap main-main.
3. Susunlah struktur doa, terutama untuk doa syafaat. Doa yang cukup panjang dengan beberapa topik perlu disusun sedemikian rupa sehingga 'tidak bikin tidur'. Disini saya coba mengusulkan sebuah struktur doa syafaat yang mungkin dapat menjadi sebuah variasi doa:

Struktur Doa Syafaat
1. Pujian pengantar doa syafaat
2. Pendeta menaikkan doa seputar visi dan misi pelayanan gereja yang sedang dikembangkan
3. Pujian
4. Tiga kali calling untuk didoakan secara khusus (misalnya: bersyukur, keutuhan keluarga, sakit, pengampunan, keuangan, kehilangan, dll)
5. Pujian
6. Umat yang ditunjuk memimpin doa untuk pokok-pokok doa yang telah ditetapkan sebelumnya, seperti umat yang berulang tahun, yang sakit, suka-duka, pergumulan masyarakat, negara, bahkan dunia (lebih baik bila datanya ditayangkan)
7. Pujian
8. Penutup oleh Pendeta.

Selamat mempraktekkan dan salam berdaya!

Kamis, 21 Februari 2013

CSS: Doa 1

Matriks CSS
Dalam kuadran kedua, kita akan berbicara mengenai 'doa'. Seperti halnya khotbah, doa pun merupakan bagian yang penting dalam suatu peribadahan. Di gereja saya, ada cukup banyak doa dalam ibadah, yaitu:
  • doa pribadi diawal dan akhir ibadah
  • doa pengakuan dosa
  • doa sebelum khotbah (epiklesis)
  • doa sesudah khotbah (yang ini opsional bisa juga diisi saat hening, instrumentalia, atau altar call)
  • doa syafaat
  • doa persembahan
Dan dalam ibadah-ibadah khusus, jumlah doa nya bisa lebih banyak lagi.
Saya tidak akan membahas mengenai doa-doa seperti apa yang seharusnya dilakukan dalam ibadah, namun lebih kepada: bagaimana doa itu menjadi sebuah moment yang dirindukan, sebagai sebuah kesempatan untuk berbicara kepada Tuhan dan bukan sekedar menjadi sebuah urutan dalam tata ibadah.

Dalam kisah penahbisan Bait Allah oleh Raja Salomo yang tercatat dalam kitab 1 Raja-Raja pasal 8, kita membaca bahwa doa yang dinaikkan dalam Rumah Tuhan (dalam hal ini adalah Bait Allah Yerusalem) adalah doa yang 'spesial' dan 'didengar' bahkan 'niscaya dijawab/dikabulkan' oleh Tuhan (dari pemahaman ini muncul konsep kiblat dalam agama Yahudi, baca 1 Raja 8:30, 48). Dalam Perjanjian Baru, konsep 'doa di Rumah Tuhan' itu diluaskan sehingga tidak merujuk pada Bait Allah Yerusalem saja, yaitu:
  • berdoa/menyembah dalam roh dan kebenaran (baca Yoh 4:24 ), artinya berada dalam dimensi yang tidak terikat pada tempat/lokasi, waktu dan seremoni tertentu
  • tubuh kita disebut sebagai Bait Roh Kudus (baca 1 Kor 6:19), artinya Tuhan begitu dekat dengan kita sehingga kita dapat memanggil namaNya kapan dan dimana saja, selain juga mengandung pengertian bahwa kita harus menjaga kekudusan hidup kita.
Ada kalangan yang secara keliru menafsirkan kedua hal diatas sebagai pembenaran atas kemalasan mereka untuk tidak datang beribadah ke gereja, bahkan untuk berdoa. Untuk apa lagi ke gereja, kan kita ini sendiri Bait Roh Kudus? Bahkan ada yang memandang gereja sebagai kelanjutan dari konsep Bait Allah Yerusalem yang sudah  'dirombak' Tuhan Yesus (dan yang dibangunkan kembali di dalam diriNya melalui kuasa kebangkitanNya, baca Yoh 2:19-22)
Ini jelas pemikiran yang nggak benar dan - tentu saja - tidak Alkitabiah. Mengapa? Saya bisa menyebutkan banyak alasan, tetapi saya sebutkan 2 saja:
  1. Komunitas Kristen perdana selalu beribadah di dalam Bait Allah Yerusalem, selain ibadah di rumah-rumah (baca Kis 2:46)
  2. Adanya sebuah ajakan untuk tidak menjauhkan diri pertemuan-pertemuan ibadah (baca Ibrani 10:25)

Memang kita sudah tidak perlu lagi beribadah di Bait Allah Yerusalem yang saat ini sudah tidak ada lagi. Tidak perlu jauh-jauh datang ziarah ke Yerusalem untuk sekedar menyampaikan suatu doa atau permohonan kepada Tuhan, karena kita yakin bahwa dimanapun juga kita berdoa maka Tuhan pasti mendengar dan mengabulkan doa yang seturut dengan kehendakNya. Namun aktivitas 'berdoa di Rumah Tuhan' tetaplah merupakan aktivitas ibadah yang perlu kita lakukan dengan sebaik-baiknya. Mengapa? Bukan karena doa di Rumah Tuhan itu lebih ampuh/mujarab dan kemungkinan terkabulnya lebih besar, tetapi karena di gerejalah (seharusnya) kita menemukan moment doa yang terbaik! Doa memang dapat dilakukan sendiri di dalam kamar yang tertutup (baca Matius 6:6). Tetapi manusia seringkali membutuhkan contoh, motivator, bahkan teladan dari orang lain dalam menjalankan aktivitas doa, dan itu dapat ditemukan dalam ibadah doa di gereja. Bagaimana pun berdoa bersama-sama dengan orang lain dapat lebih memotivasi ketimbang berdoa seorang diri, betul? Untuk itulah dalam bagian-bagian berikut ini kita akan membahas hal ini, yaitu doa pribadi dan doa bersama di dalam gereja, serta sebuah usulan untuk memodifikasi doa syafaat.

DOA PRIBADI

Apa bedanya doa pribadi dan doa bersama?
Beda yang paling jelas adalah dalam hal inisiatif: doa pribadi merupakan inisiatif pribadi (karena memang saya ingin/butuh berdoa), sedangkan doa bersama merupakan inisiatif tata ibadah (ya memang urutannya tata ibadahnya begitu) atau inisiatif pemimpin ibadah (liturgos/pendeta).
Mengapa perlu saya bedakan antara doa pribadi dan bersama? Kan sama-sama doa...
Bagi saya, masalah 'inisiatif doa' ini perlu kita perhatikan karena menjadi sebuah cermin dari suatu kondisi bergereja yang lebih besar dan krusial.

Ada banyak momen doa pribadi dalam suatu ibadah. Masalahnya: tidak semua orang mau memanfaatkan momen tersebut. Mengapa? Simpel saja: karena memang tidak butuh! Dan saya yakin mereka pun tidak pernah - atau jarang - berdoa pribadi di rumah.
Sebetulnya sangat disayangkan kalau gereja gagal 'membentuk' umatnya menjadi umat yang gemar berdoa, atau malah sebaliknya, gereja 'berhasil' membentuk umat yang nggak butuh berdoa, bahkan skeptis dengan doa. Semoga tidak pernah terjadi yang demikian! Namun saya pribadi memiliki 'kekuatiran' bahwa memang ada umat yang tidak bisa, tidak butuh, atau tidak mau berdoa!
Saya pernah mendengar sharing seorang ibu tentang anaknya yang bergereja di sebuah GKI. Anaknya sampai remaja nggak bisa berdoa, dan memang nggak ada seseorang yang membimbing anak tersebut dalam hal pertumbuhan spiritualitas. Nah, parahnya, anak tersebut kemudian pindah ke sebuah gereja kharismatik dan sekarang dia sangat pintar berdoa, rajin membaca Alkitab, bahkan terpanggil untuk menjadi pelayan fulltime di gereja tersebut. Ini kan parah banget, karena menunjukkan bahwa 'gereja kharismatik itu' ternyata lebih mampu membangun spiritualitas umatnya ketimbang 'sebuah GKI itu' (saya tidak menunjuk ke semua GKI, karena ada banyak GKI yang concern dengan pertumbuhan spiritualitas umatnya).
Apa yang mau saya sampaikan disini? Singkatnya: umat yang sadar/haus/tahu berdoa adalah merupakan cermin dari  pembinaan spiritualitas gereja tersebut! Dengan kata lain: doa pribadi merupakan sebuah akibat, bukan sebab dari sebuah pembinaan spiritualitas. Dan pembinaan spiritualitas merupakan sebuah indikator dari maju-mundurnya sebuah gereja (baca lagi bagian-bagian sebelumnya). Coba lihat, berapa banyak umat yang sungguh-sungguh berdoa dalam momen doa pribadi, disitu akan terindikasi gereja tersebut akan terus bertumbuh atau mengering.
Jadi, berbicara tentang 'doa pribadi' kita tidak cukup menghimbau, berkhotbah, atau mewartakan tentang gerakan doa. Perlu, tetapi tidak cukup. Diperlukan sebuah keteladanan dan hati yang sungguh-sungguh rindu untuk membawa umat menjadi lebih maju spiritualitasnya.

Lalu, bagaimana caranya agar umat dapat lebih maju spiritualitasnya? Menjadi sebuah problem bagi banyak gereja, saat acara-acara bina spiritualitas kekurangan peminatnya. Katakanlah hanya sekitar 10% sampai 20% umat yang mau mengikuti acara pembinaan. Sisanya sudah merasa cukup dengan mengikuti ibadah minggu.
Saya pikir tidak ada yang salah dengan keadaan itu. Tidak masalah 10% atau 20%. 1% bahkan satu dua orang pun tidak menjadi masalah, sepanjang mereka benar-benar terbina! Terkadang acara pembinaan lesu peminat karena memang acara dan materinya kurang greget. Kalau ini masalahnya, ya selesaikanlah dulu masalah 'kurang greget' itu supaya bisa 'lebih greget'. Tapi kalau pembinaan sudah dilakukan dengan maksimal tetapi peminatnya masih minim, saya sarankan untuk tetap melanjutkan dengan sukacita dan bersyukur. Ada banyak gereja besar yang dimulai dari satu dua orang (dan dengan dana nyaris Rp 0,-) namun karena konsistensi, hati yang sungguh rindu untuk berbagi Firman Tuhan, dan komitmen yang besar dari satu dua orang itu untuk membangun Rumah Tuhan, maka dapat terhimpunkan sejumlah besar orang untuk bergabung. Loh ini kan curi domba? Jadi boleh dong? Itu beda, Saudara. Yang disebut 'curi domba itu contohnya:  menjemput umat yang baru selesai beribadah di suatu gereja untuk 'lanjut' beribadah ke gereja lain, atau PDKT ke aktivis/tokoh/domba gemuk untuk pindah ke gereja lain dengan iming-iming uang/jabatan/first seat, hingga - yang paling sering terjadi - menjelek-jelekkan gereja lain sebagai GKI (Gereja Kurang Iman), GKU (Gereja Kurang Urapan), dsb. Itu yang disebut curi domba yang - saya yakin 100% - berasal dari Iblis yang membawa roh pemecah (baca Gal 5:19-21).

Saya paling anti dengan aktivitas curi domba. Tapi kita jangan lupa, bahwa domba-domba itu bukan milik kita. Domba-domba itu 100% milik Tuhan, dan Tuhan juga memperhatikan 'kandang'nya yaitu gereja tempat domba-domba itu dipelihara. Kalau 'kandang'nya ternyata hanya sanggup memelihara 100 domba dan bukan 1000 domba, ya pastilah Tuhan akan memindahkan 900 domba itu ke 'kandang' lain yang lebih mampu, dan menyisakan 100 domba di 'kandang' yang lama. Atau bila sebuah 'kandang' sudah tidak mampu lagi menjalankan fungsi pemeliharaan domba, maka seekor domba pun tidak akan Ia biarkan 'tersesat' di 'kandang' tidak bermutu itu! Biarkan Tuhan yang empunya domba-domba itu yang menentukan perpindahan domba, hal ini akan jelas terlihat dalam 'proses'nya yang berjalan dengan wajar tanpa harus memakai 'strategi curi domba' yang macam-macam. Saya berharap Saudara dapat membedakan kedua hal ini.
Gereja saya termasuk gereja yang pernah mengalami penurunan jumlah umat sebesar hampir 50% dalam tempo 10 tahun. Dalam masa-masa 'suram' itu, segala daya upaya dilakukan untuk menahan laju 'kejatuhan', sampai-sampai memanggil pengkhotbah dan pendeta konsultan dari luar GKI, mungkin anggapan orang saat itu bahwa pendeta non GKI  lebih mampu dan lebih punya 'urapan' ketimbang pendeta GKI sendiri (ini mungkin, karena pada masa-masa  itu saya belum berada di dalam struktur kemajelisan). Namun tetap saja upaya itu tidak sanggup menahan lajunya 'kejatuhan'. Namun puji Tuhan pengalaman itu membuat kami belajar mengenai: bagaimana kami menyelenggarakan sebuah gereja yang lebih berkenan kepadaNya, sehingga Ia pun mulai mempercayakan kembali domba-dombaNya untuk dipelihara di dalam gereja kami. Meskipun saat BUSA ini ditulis gereja saya belum sepenuhnya mengalami 'pemulihan', namun saya dan segenap pengurus gereja telah melihat sebuah track yang begitu jelas akan masa depan bergereja yang lebih baik. Dan untuk hal itulah buku ini ditulis, sebagai sebuah sharing pengalaman dan pemikiran yang mungkin berguna untuk membangun environment bergereja yang lebih baik.

Ulasan ini memang jadi panjang, tetapi saya berharap gereja-gereja mulai lebih memikirkan dan membangun sebuah blue print pembinaan spiritualitas yang baik dan diminati, sehingga tercermin melalui kegairahan umatnya dalam berdoa.

Rabu, 23 Januari 2013

GKI Perumahan Citra 1



http://www.gki-citra1.org

Minggu, 20 Januari 2013 saya beribadah di GKI Perumahan Citra 1. Sebetulnya saya sudah cukup sering datang ke gereja tersebut, namun baru kali ini sempat membuat beberapa catatan dari hasil pengamatan saya sebagai seorang ‘tamu’ yang tentunya memakai kacamata ‘first impression’, alias kesan yang pertama kali saya tangkap. Apabila ada rekan yang anggota/simpatisan GKI Perumahan Citra 1 yang ingin membetulkan atau mengomentari catatan saya ini, monggo, silakan dengan senang hati.

PENGUNJUNG IBADAH
Sekitar 600-700 umat menghadiri ibadah minggu di 6 kali ibadah (Umum 1-3, Pos PI, Pemuda, Remaja), dan sekitar 200-300 anak sekolah minggu di 2 ibadah anak

JADWAL KEGIATAN
Gereja ini sudah punya website seperti di atas, silakan klik saja disana, maka banyak informasi yang dapat kita temukan disana. Good start!

FISIK GEREJANYA
Namanya saja ‘gereja perumahan’, jelaslah lokasinya ada di dalam perumahan, menempati areal seluas 1 blok, dengan bangunan gereja dan rumah (pastori?) yang berdiri di atasnya. Cukup ideal sebagai sebuah kompleks gereja, sekalipun – sebagai seorang tamu – saya merasa lokasinya begitu jauh karena berada di tempat yang paling ujung…
Dari luar, gereja ini tampak tidak terlalu besar, hanya bangunan stand alone satu lantai dengan sebuah menara (menara lonceng?) yang nggak terlalu tinggi di depannya. Namun saat masuk di dalamnya, terasa suasana yang cukup lapang dan lega, dengan langit-langit cukup tinggi, dan berkapasitas tempat duduk sekitar 300 seats. AC nya sudah sentral (wow untuk ukuran gereja yang nggak terlalu besar seperti ini), menjamin suhu ruangan yang nyaman dan merata disemua bagian. Sound system juga terasa begitu jernih dan empuk, dan diperlengkapi dengan 2 LCD monitor yang pas posisinya sehingga tidak melelahkan mata maupun leher.
Ada 2 buah catatan saya tentang ‘fisik’ ini:
1.       Agak nggak lazim sebuah gereja Protestan memasang begitu banyak jendela berkaca mozaik, karena jadi mirip gereja Katolik. Saya hitung tak kurang dari 14 kaca mozaik dipasang di gereja ini: 2 kaca mozaik besar di kanan kiri pintu masuk, dan 12 kaca mozaik di jendela di dalam ruang ibadah. 12 kaca mozaik ini juga unik, karena - perasaan saya - menggambarkan 12 jalan salib… saat khas katolik (koreksi saya bila saya salah)
2.       Di depan mimbar pendeta, dipasang sebuah meja (altar?) dengan 2 vas bunga berdiri di atasnya. Saya kok merasa 2 vas bunga itu terlalu besar dan mendominasi, mungkin dapat diganti dengan vas yang lebih kecil dan minimalis (ini sekedar saran loh)

PENYAMBUTAN
Maaf, saya nggak ada catatan tentang hal ini, karena saya terlambat 10 menit karena siangnya saya sibuk membantu pengungsi banjir di Grogol (ngeles nih ceritanya)

MUSIK
Gereja ini tampaknya hanya memanfaatkan alat music organ dan piano up right. Dengan interior gereja yang mendukung, sebetulnya akan lebih mengesankan kalau digunakan grand piano, atau minimal baby grand piano (mau nyumbang nih ceritanya…). Organnya sendiri sudah pakai Organ Roland (Atelier kalau nggak salah) sudah sangat mumpuni sebagai organ gereja, tinggal pemafaatannya saja yang perlu dioptimalkan. Untuk memandu nyanyian jemaat, ada prokantor yang cukup nge-lead suaranya, juga dengan tayangan multimedia yang – ini perlu dicontoh – menayangkan full not angka di setiap lagunya. Memang nggak semua orang bisa membaca not angka, namun paling tidak ini menunjukkan keseriusan gereja untuk membina jemaatnya dalam menyanyi pujian dengan benar.

KHOTBAH
Disampaikan dengan semangat oleh seorang penatua yang mungkin calon pengerja disana dengan materi yang saya rasa cukup relevan dengan kondisi setempat dan GKI pada umumnya, yaitu masalah keterlibatan umat dalam ministry gereja. Salah satu kekuatan GKI memang disini: pelibatan jemaat dalam pelayanan, sehingga sekalipun GKI bukanlah gereja yang nge-pop (alias gereja popular dalam gaya kotbah dan musiknya), bahkan cenderung konservatif dan old-fashioned, namun masih dapat terus bertumbuh pesat menjadi 200 lebih jemaat dan mungkin sekitar 250 ribuan orang umat karena jemaat didorong untuk memiliki rasa memiliki. Namun seiring dengan melonggarnya ikatan keluarga, dimana anak-anak menjadi semakin mandiri terhadap orang tuanya, mungkin harus mulai dipikirkan secara serius oleh GKI akan strategi penjangkauan kaum muda yang tentu membutuhkan gaya yang lebih nge-pop dan kreatif.

Sekian ulasan saya
Mohon masukan (bila ada), dan
Salam berdaya!

Minggu, 09 Desember 2012

Scientisme vs Agama

Seorang berilmu membaca banyak buku dan ingin terus belajar
Seorang religius hanya membaca satu Buku (yakni kitab suci) dan mengklaim telah memahami segala sesuatu.

Pernyataan yang menyindir orang religius itu saya baca di dalam sebuah komentar di salah satu akun FB seorang mantan pendeta Kristen yang agaknya telah menjadi penganut Scientisme.

Apakah itu Scientisme?
Scientisme adalah 'anak kandung' humanisme, yaitu filsafat yang mengagungkan potensi manusia yang nyaris tanpa batas, dengan penekanan pada ke-aplikasi-an metode ilmiah (logika, pengujian, pengukuran, pembuktian) pada berbagai (bahkan semua) hal, termasuk agama (lihat definisi lain di http://en.m.wikipedia.org/wiki/Scientism).

Dalam persepektif scientisme, segala hal yang tidak logis, tidak teruji, tidak dapat diukur, dan yang tidak dapat dibuktikan adalah: omong kosong, delusi, kebodohan (apabila tetap dipercayai)... Dapat dibayangkan, bagaimana seorang penganut scientisme memandang Alkitab yang penuh dengan hal-hal yang tidak logis dan yang tidak/susah dibuktikan, seperti: penciptaan alam semesta hanya dalam tempo 7 hari, tanah yang ditiup lalu menjadi manusia yang hidup, ular yang dapat berbicara, manusia yang dapat berjalan di atas air, kapak besi yang dapat terapung di air, dll...dll...

Sebetulnya tidak ada yang salah dengan ke-ilmiah-an, bahkan kita pun tahu ada banyak ilmuwan yang masih menjadi penganut agama Kristen (maupun agama lain) yang saleh. Sekolah-sekolah Kristen pun tidak ragu untuk mengajarkan Sains di dalam kurikulumnya, bahkan yang namanya Sekolah BPK Penabur itu merupakan langganan juara Sains tingkat nasional bahkan internasional.

Menjadi problem kalau ke-ilmiah-an manusia yang hebat itu dianggap sebagai SATU-SATUNYA pola atau cara berpikir. Tak terhindarkan mereka akan memandang agama sebagai sumber pembodohan manusia bahkan racun/candu masyarakat yang menimbulkan delusi massal. Mereka 'menuduh' agama sebagai sebuah 'cara gampang' (alias cara nge-les) untuk menjelaskan  sesuatu yang 'belum terjelaskan' oleh pemikiran manusia, membuat manusia menjadi malas berpikir, malas belajar, dan akhirnya benar-benar membuat manusia menjadi mahluk bodoh yang terus diperdaya oleh dogmatisme para rohaniawan.

Hal ini menjadi tantangan yang sungguh sangat real dan relevan bagi gereja masa kini, karena memang perkembangan peradaban manusia saat ini sedang berada di puncak-puncaknya,  seolah-olah segala hal mampu dijawab dan diatasi oleh otak manusia. Konsep keTuhanan perlahan-lahan luntur, dan aktivisme keagamaan bisa menjadi sesuatu yang irrelevan dengan perkembangan jaman.

Para teolog sebetulnya telah berusaha untuk memperkecil gap antara sains dan agama, dengan membuat berbagai pendekatan teologi, seperti:

1. Pendekatan metode kritis, baik dengan melakukan penelitian teks, penelitian sejarah, dan sebagainya (yang ini jelas ilmiah), bahkan sampai melakukan pemilahan/pemisahan mitos-mitos (misalnya demitologisasi ala Bultmann), yaitu dengan  membuang bagian-bagian yang dianggap 'mitos' dan hanya mengambil inti pesan keagamaan (kerygma) di dalamnya. Pendekatan ini mungkin berhasil memberi kesan 'pintar dan ilmiah' pada beberapa aspek teologi Kristen. Namun di sisi lain, pendekatan ini membuat para teolog pintar itu bak sedang mengupas bawang, alias get nothing, tidak mendapat nilai tambah apapun pada pertumbuhan spiritualitas, bahkan membuat kekristenan menjadi sangat relatif, sangat serupa dengan dunia...makin abu-abu dan cenderung permisif dengan 'gelap'. 

2. Pendekatan penafsiran alegoris yang memberi makna tertentu pada berbagai hal yang disebut 'mitos', misalnya dalam 2 Raja-Raja 6:5-7, yang bisa ditafsirkan sbb:
- mata kapak yang terlepas dari tangkainya dan tenggelam, dimaknai sebagai: manusia yang terpisah dari Tuhan dan  terbenam di dalam dosa
- batang kayu yang dilemparkan, dimaknai sebagai: Tuhan Yesus yang bersedia masuk ke dalam dunia yang berdosa untuk mengangkat manusia dari dosa, dan
- kapak yang timbul/terapung, dimaknai sebagai: manusia yang telah mengalami pembaharuan hidup dan menang atas kuasa dosa
Penafsiran alegoris memang dapat digunakan untuk menjelaskan berbagai hal secara lebih segar dan tampak relevan. Namun di sisi lain pendekatan ini dapat memunculkan kekacauan hermeunetika, membuat cara menafsir yang 'semau-gue' yang menimbulkan kegagalan kita dalam memahami Firman Tuhan yang sebenarnya.

3. Pendekatan literal yang menerima teks Alkitab secara apa adanya dengan penekanan pada doktrin 'ke-tanpa-salah-an Alkitab', sebuah posisi ekstrem kanan yang secara frontal berhadapan dengan scientisme maupun teologi modern, dan sering di-cap fundamental dan radikal, bahkan serupa dengan dogmatisme abad pertengahan. Namun di banyak tempat, pendekatan literal ini justru menguat dan diminati karena 'memberikan kepastian keberimanan yang kokoh' di tengah situasi jaman yang tidak menentu saat ini.

Lantas bagaimana sikap kita sebagai warga jemaat GKI?

Biasanya GKI mengambil jalan tengah yang menjauh dari kegaduhan yang tidak perlu dan kontra produktif. 'Gitu aja kok repot', begitu istilah populer Gus Dur yang sering dengan tepat menggambarkan diri kita. Iyalah, ngapain juga repot, toh masalah beginian tidak akan merubah jalan keselamatan kan? Sekali selamat, tetap selamat, begitulah keyakinan iman GKI. Tapi tentu kita harus berkata dan bersikap sesuatu yang dapat memperlengkapi diri kita saat kita membentur atau bersinggungan dengan scientisme ini.

Pertama: mencampuradukkan sains dan agama jelas merupakan sebuah kesalahan fatal dan sekaligus menunjukkan ketidakdewasaan dalam berpikir. Sains bukan agama, agama bukan sains. Di dalam agama memang ada bau-bau sains, misalnya: tentang matahari yang beredar mengitari bumi, bahkan yang pernah berhenti beredar(baca Yosua 10:12-14). Tetapi hal ini janganlah lantas harus diteropong melalui 'kacamata kuda' sains, untuk membuktikan kesalahan isi Alkitab (karena faktanya yang beredar itu kan bumi, bukan matahari). Janganlah karena mengandung kesalahan secara ilmiah lantas Alkitab harus 'dimuseumkan' karena isinya sudah terbukti salah. Mari tempatkan Alkitab sebagai Firman Tuhan yang menjadi pedoman hidup umat percaya, yaitu untuk  mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan, dan mendidik orang dalam kebenaran (baca 2 Timotius 3:16), dan bukannya untuk belajar sains!

Kedua:  Alkitab selalu berbicara dalam bahasa yang dapat dipahami manusia dalam konteksnya masing-masing, karena kalau Tuhan membuka segenap rahasia diriNya dan ciptaanNya di dalam Alkitab, bisa dibayangkan betapa Alkitab akan menjadi buku yang tidak akan pernah dibaca, dipahami, bahkan dipercaya oleh manusia! Mengapa? Karena kemampuan berpikir manusia itu terbatas. Tuhan Yesus pun pernah mengingatkan hal ini, bahwa untuk hal-hal duniawi saja manusia sering sulit untuk percaya, apalagi untuk hal-hal surgawi (baca Yohanes 3:12). Lucu sekali saat saya berbicara dengan seorang penganut scientisme, mereka tidak pernah mau mengaku bahwa otak manusia itu pasti ada batasnya. Mereka nge-les sedemikian rupa, pakai sidetracks/pengalihan macam-macam untuk menghindar  berbicara mengenai hal tersebut (karena memang mereka 'beriman' akan ketidakterbatasan otak manusia). Dan, ternyata manusia sendiri sebetulnya sering (dan senang) memakai ungkapan yang sebetulnya kita tahu hal itu tidak tepat, seperti masih mengatakan: 'matahari terbit di ufuk timur dan terbenam di ufuk barat', dan bukannya 'bumi be-rotasi menghadap matahari atau membelakangi matahari'. Hal itu terjadi karena memang adanya keterbatasan dalam bahasa manusia, sesuatu yang sangat dimaklumi Tuhan, tetapi - anehnya -  tidak dimaklumi oleh penganut scientisme.

Ketiga: mungkin yang ditunggu-tunggu adalah: bagaimana kita dapat menjelaskan berbagai kisah Alkitab yang 'tidak logis' yang 'tidak terbuktikan' dan yang 'tidak dapat diuji kebenarannya', terutama kepada penganut scientisme? Saya jawab secara singkat saja: mereka tidak membutuhkan penjelasan apapun karena mereka sudah jauh lebih tahu ketimbang kita, dan mereka sudah memiliki sikap sendiri. Kita bisa saja mencoba menjelaskan melalui pendekatan metode kritis, penafsiran alegoris, literal, dan lain sebagainya. Itu tidak akan mempan! Yang mereka butuhkan hanyalah: sentuhan kasih Tuhan yang bisa mereka dapatkan melalui sentuhan kasih kita! Dan jangan lupa: doakan mereka! Apabila mereka adalah terhitung sebagai umat yang Tuhan pilih untuk diselamatkan, pasti suatu hari kelak mereka akan melihat ke-Maha-Kuasa-an Tuhan yang melampaui kemampuan otak mereka, dan mulut mereka pun akan mengaku: 'Ya Tuhanku dan Allahku!' (Yohanes 20:28).

Salam berdaya!
TKS - 01/12/12

Pohon Natal tanpa Lampu Natal

Bagian ini didedikasikan untuk kekasih kita, para Pahlawan Allah, yang telah menang dan menunjukkan keteladanan iman yang memberi kesan yang mendalam; tidak hanya berbicara mengenai mereka yang sudah kembali ke Rumah Sejati, namun juga menjadi sharing kita yang masih tinggal dalam kefanaan dan bergumul dengan misteri kehidupan yang bernama: kehilangan. Kiranya kolom ini menjadi sarana untuk saling berbagi, dan silakan mengirimkan kesaksian Anda (teks dan foto) ke alamat email kami: militiachristi2010@gmail.com 


 A Christmas Tree without Light
(Sebuah perziarahan dalam mencari makna kehidupan dan kematian)

Tentu kita semua sudah tahu tentang 7 hari penciptaan seperti yang terdapat dalam Kitab Kejadian.

Hari pertama Tuhan menciptakan terang. Terang itu bukanlah sembarang terang, karena terang itu ada TANPA adanya benda penerang (karena benda-benda penerang baru tercipta pada hari ke-4), bahkan terang itu sanggup mendukung kehidupan tumbuh-tumbuhan (yang sudah tercipta lebih dahulu, yaitu pada hari ke-3). Saya pernah membaca tulisan seorang skeptik tentang hal ini, yaitu: bagaimana mungkin tumbuh-tumbuhan tercipta lebih dahulu ketimbang benda penerang? Ya mati dong... Dia lupa bahwa di hari pertama  sudah ada terang. Kalau sekarang ini manusia sudah bisa menciptakan terang matahari buatan yang sanggup menumbuhkan tanaman, apalagi Tuhan - Sang Pencipta - Ia pasti sanggup menciptakan terang yang bukan berasal dari benda-benda penerang seperti yang manusia kenal saat ini yang sanggup menumbuhkan tanaman! Terang itu adalah Terang Ilahi, Divine Light, yang menjadi sebuah awal dari terciptanya alam semesta dan segenap penghuni bumi. Terserahlah orang mau menghubungkannya dengan teori Big Bang-nya Hawking, bagi saya Terang itu merupakan sebuah terobosan yang Tuhan lakukan untuk membuat dari yang kacau dan gelap itu menjadi sesuatu keberadaan yang 'sungguh amat baik', yakni segenap ciptaanNya (Kej 1:31).

Setelah 7 hari penciptaan selesai, Tuhan melanjutkannya dengan menciptakan suatu keluarga Allah yaitu dalam diri manusia debu tanah (adamah) dan perempuan (Kej 2:7,23) sebagai pasangan yang sepadan (Kej 2:18). Apakah mereka ini 'ciptaan baru' yang berbeda dengan laki-laki dan perempuan yang diciptakan Tuhan pada hari ke-6 (Kej 1:27), atau merupakan awal dari mereka semua itu? Ini tentu mengundang banyak opini dan perdebatan. Namun bagi saya, pikiran utamanya adalah: Tuhan menganggap keluarga sebagai hal yang penting. Keluarga menjadi sebuah terobosan di tengah persoalan kesendirian manusia. Saat ini, ada begitu banyak orang yang sendiri dan kesepian... Keluarga dan dukungan keluarga-lah solusinya! Keluarga diharapkan dapat berperan secara lebih optimal di jaman yang penuh persoalan dan ketidakpedulian ini.

Namun dalam perjalanan hidupnya, keluarga Allah ini mengalami jatuh ke dalam dosa, sehingga menimbulkan 'produk baru' yang bernama: kematian (Kej 2:16-17). Kematian adalah upah dosa, sebuah kutuk yang menjalar bagaikan kanker ke seluruh umat manusia. Namun syukur kepada Tuhan, bahwa 'keturunan perempuan' sudah mengalahkan Iblis yang mengikat manusia dalam dosa (Kej 3:15). Tuhan Yesus adalah Sang Terang - Devine Light - yang menerobos kacau dan gelap-nya dosa dan mengangkat manusia (yang dipilih untuk percaya kepadaNya) untuk kembali menjadi ciptaan yang 'sungguh amat baik'. Apakah manusia lantas terbebas dari kematian? Jelas tidak, mana ada manusia yang tidak bisa mati?! Namun kematian di dalam Kristus tidak lagi dipandang sebagai kutuk dan upah dosa, tetapi menjadi sebuah jalan untuk menerima anugerah keselamatan, yakni kehidupan yang kekal.

Lantas apa hubungan ulasan tersebut dengan 'Pohon Natal tanpa Lampu Natal' dan 'perziarahan'?

Ini sharing pribadi, yaitu di Natal tahun 2011 yang lalu. Karena berbagai kesibukan saya, akhirnya menjelang tanggal 25 Desember pohon
Natal belum terpasang di rumah. Waktu itu sudah tanggal 24 Desember siang. Apakah Natal tahun itu akan menjadi Natal tanpa pohon Natal? Setelah menimbang-nimbang, akhirnya diputuskan untuk tetap memasang pohon Natal sekalipun hanya untuk seminggu. Saat semua daun sudah terpasang, hiasan-hiasan bola dan bintang juga sudah digantung, tibalah saatnya untuk menyalakan lampu Natal. 'Klik'... Dan kami terdiam saat menyadari bahwa semua lampu Natal padam... Mungkin ada kabel yang putus di suatu tempat, tapi kami sudah tidak punya waktu lagi untuk memperbaiki atau membeli yang baru. Jadilah pohon Natal yang tanpa lampu Natal...

Natal tahun 2011. Mama saya - yang saat itu sudah sakit kanker parah - mendadak berkeinginan untuk merayakan Natal bersama saya sekeluarga di Jakarta. Saya merasa sangat bersyukur karena saya masih berkesempatan untuk merayakan Natal bersama mama saya di tahun itu, yang adalah Natal terakhir bagi mama saya. Setelah mengikuti Perayaan Natal di tanggal 25 Desember, saya baru menyadari betapa mama terlihat begitu lelah. Dan sepulangnya ke kota asalnya, kondisi fisik mama saya terus menurun, dan 3 bulan kemudian mama berpulang ke surga. Saya sempat berpikir: apakah pohon Natal tanpa lampu Natal adalah merupakan sebuah pertanda kematian dari orang yang saya kasihi? Atau hanya kebetulan acak belaka?

Mengalami sendiri situasi kematian ternyata bukan hal yang mudah. Saya bersyukur karena di jam-jam awal masa kedukaan, saya di cover oleh Pdt Dianawati dan Pdt Frans yang jauh-jauh datang untuk memberi support bagi saya sekeluarga. Dan di saat-saat seperti inilah - hingga berbulan-bulan sesudahnya - saya menjalani perziarahan ke dalam misteri kehidupan dan kematian, yang saya tahu perziarahan ini pun diikuti oleh banyak orang yang bergumul dengan hal yang sama.

Ada beberapa hal yang akhirnya saya temukan dalam perziarahan saya (yang masih berlanjut hingga kini).

Yang pertama adalah: pentingnya ikatan keluarga. Dalam masa-masa sulit, justru ikatan keluarga harus semakin diperteguh. Kami sekeluarga kini merasakan kualitas hubungan yang semakin baik satu sama lain, sekalipun kami tinggal saling berjauhan, dan inilah yang menjadi sumber kekuatan dikala kelemahan datang menghampiri. Keluarga-lah yang pertama-tama harus saling menguatkan, setelah itu barulah orang lain (saudara seiman, tim perlawatan khusus, pendeta, dsb). Keluarga yang justru terpecah saat kesulitan/duka datang akan sangat sulit untuk melakukan recovery, dan ini jelas membutuhkan sebuah kerelaan dari masing-masing anggota keluarga untuk dapat lebih saling menahan diri dan berkorban. 

Kedua adalah: meninggalkan warisan. Warisan disini bukanlah warisan materi, namun lebih kepada nilai-nilai yang bisa kita tinggalkan kepada orang lain saat kita kembali ke sorga. Pepatah mengatakan: sesuatu akan terasa begitu berharga saat kita kehilangannya. Saat mama saya berpulang, barulah saya dengan jelas melihat betapa luar biasanya dia! Perhatian, dukungan, rasa kehilangan, cerita-cerita yang baik... Membuat saya berpikir: kalau giliran saya yang mati nanti, apakah saya pun akan meninggalkan warisan nilai-nilai yang sebaik yang diwariskan mama saya? Misteri kematian seharusnyalah membuat manusia berusaha dan terus berusaha untuk meninggalkan warisan yang semakin baik, dan bukankah hal itu membuat dunia menjadi tempat yang semakin baik untuk dihuni manusia?

Pohon Natal tanpa lampu Natal... Saya pikir hal yang baik apabila Natal dapat dipersiapkan dengan lebih baik. Namun itu bukanlah yang terpenting! Yang terpenting adalah: kita seharusnya yang menjadi lampu-lampunya, yang tidak terpadamkan dan yang bersinar terus bagi sekitar kita! Kalau Divine Light itu telah membuat terobosan bagi dunia yang kacau dan gelap, maka kita sebagai umatNya pun seharusnyalah memancarkan terang yang menerangi dan mempercantik dunia. Semoga hal itulah yang bisa menjadi warisan hidup kita semua.

(TKS - 29/11/2012)