Tampilkan postingan dengan label Build the House of God. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Build the House of God. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 Maret 2013

CSS - Doa 2

Matriks CSS
DOA BERSAMA

Setelah kita membahas tentang 'doa pribadi' kini kita lanjutkan membahas hal yang kedua, yaitu: doa bersama.

Di depan saya sudah menjelaskan tentang satu hal yang paling membedakan antara doa pribadi dan doa bersama, yakni: inisiatornya. Doa pribadi inisiatornya adalah masing-masing pribadi, sehingga bisa menjadi indikator tingkat spiritualitas umat, sedangkan doa bersama inisiatornya adalah tata ibadah atau pemimpin ibadah (liturgos atau pendeta). Nah karena bersifat ajakan, maka perlulah doa bersama ini diatur sedemikian rupa sehingga tidak menjadi aktivitas ibadah 3B: basa-basi basi! Tidak cukup umat di 'brainwash' ttg apa itu doa atau pentingnya doa (sehingga mereka rajin berdoa dan mau berdoa dengan sungguh-sungguh). Faktanya begitu banyak umat yang berdoa sekedar LTD: (L)ipat tangan, (T)unduk kepala, dan (D)engar liturgos/pendeta berdoa.... dan tak jarang sampai.... (T)idurrr. Mungkin baik juga doa itu 'diperagakan' seperti saudara kita umat Muslim, sehingga tidak sekedar LTD bahkan menjadi LTDT.

Saya tidak sedang mengarahkan topik ke 'peragaan doa' (baru-baru ini di sebuah pertemuan raya pelayan ibadah sinode, memang ada workshop tentang peragaan doa, silakan saja selama hal itu membantu umat untuk berdoa dengan lebih baik). Tetapi doa bersama memang perlu diatur dan disiapkan dengan baik agar mengurangi kecenderungan negatif seperti tersebut di atas.

Pengaturan dan penyiapan doa bersama tersebut akan menyangkut 3 hal:
1. Alasan Doa
2. Keterlibatan Umat
3. Suasana

Alasan Doa
Mengapa kita perlu berdoa? Saya pikir hal ini perlu disepakati di awal doa bersama. Sebuah introduksi singkat, penayangan poin-poin pergumulan jemaat/masyarakat, bahkan sebuah ulasan atau video singkat yang menggambarkan 'sesuatu yang perlu didoakan' merupakan sebuah awal doa yang baik. Apabila kondisi tidak memungkinkan atau karena minimnya persiapan, minimal dalam kata-kata pertama disampaikan hal 'alasan doa' ini.
Saya beri contoh tentang Doa Pengakuan Dosa.
Janganlah langsung mengajak umat untuk berdoa secara pribadi untuk mengakui dosa masing-masing, atau langsung mengatakan: 'Tuhan, dalam seminggu ini kami telah berbuat banyak dosa dan kesalahan...dst'. Percaya saya, umat terkadang tidak tahu DOSA APA YANG MUSTI SAYA AKUI DAN SESALI! Saya pernah dengar seorang pendeta yang berkata bahwa di GKI itu setiap minggu ada doa pengakuan dosa sehingga Tuhan pun bingung musti mengampuni dosa yang mana lagi! Itu pernyataan orang yang tidak tahu dosa dan keberadaan dirinya yang penuh dengan dosa, dan sebuah cerminan yang bagus atas kondisi real di jemaat. Ya memang seperti itulah kenyataannya, bahwa umat - bahkan pendeta/penatua - pun lupa atau tidak tahu akan lumuran dosa-dosanya yang begitu melekat dan begitu banyak itu! Itulah sebabnya, sebelum doa pengakuan dosa dinaikkan, cobalah menayangkan gambar-gambar atau video yang menggambarkan dosa disekeliling kita, seperti: suap, pelacuran, perjudian, perusakan lingkungan, pertengkaran, dsb, lebih baik lagi kalau tayangan tersebut related dengan tema ibadah. Misalnya tema ibadah tentang: Kebaikan yang dibalas dengan Kejahatan. Coba mencari tayangan yang mencerminkan hal itu, sebuah short movie atau gambar yang membuat umat berpikir: apakah saya juga melakukan hal itu? Atau... Minimal sekedar dikatakan, bahwa seringkali kita berbuat jahat kepada orang tua yang telah mengasihi kita, atau meng-korupsi perusahaan yang telah memberi kita gaji dan tunjangan-tunjangan setiap bulannya, atau menipu pelanggan setia kita dengan menjual barang-barang yang kurang berkualitas... Gambarkan alasan doa, maka umat akan bisa masuk ke dalam atmosfir doa yang lebih 'pas' dan bermakna.

Keterlibatan Umat
Saya sering merasa iri dengan umat di beberapa gereja Kharismatik yang sangat involve dalam doa bersama, yang ditunjukkan dengan ekspresi-ekspresi yang terkesan bebas, spontan, dan mandiri, seperti menangis, mengangkat tangan, ikut berkata-kata (termasuk dengan apa yang mereka yakini sebagai 'bahasa lidah'), melompat-lompat, dan lain sebagainya. Praktek-praktek doa seperti itu jelas tidak boleh di copas di gereja Protestan atau Reformed seperti GKI, karena ada pendasaran Alkitabiah yang jelas yang mengatur praktek ibadah seperti itu (tidak saya bahas disini, mungkin di lain kesempatan).
Tetapi kita perlu mencontoh spirit involvement-nya: doa bersama perlu rasa kebersamaan, yaitu adanya keterlibatan umat.
Umat tidak boleh sekedar LTD atau LTDT dalam doa bersama. Umat perlu merasa 'connected' dengan doa bersama, dan hal ini perlu diperhatikan secara serius agar gereja kita tidak terjebak pada formalitas dan seremonitas yang dibenci Tuhan, karena penuh dengan kepura-puraan (baca Matius 23:14) atau karena kurang sungguh-sungguh (baca Wahyu 3:15-16).
Nah sekarang, bagaimana caranya agar umat 'terlibat'?
Sebetulnya simpel saja: percayakan umat untuk memimpin doa bersama!
Pendeta atau liturgos atau penatua janganlah 'menguasai' doa. Apa yang bisa dilakukan umat, delegasikan kepada mereka!
Apa misalnya?
Doa persembahan misalnya. Setelah persembahan umat dikumpulkan oleh kolektan, silakan minta salah seorang kolektan untuk berdoa syukur atas berkat Tuhan. Jangan penatua lagi yang berdoa.
Contoh lainnya: doa syafaat. Nah, doa ini bisa 'menjaring' banyak keterlibatan umat. Ada berapa pokok doa syafaat? 5 pokok doa? Minta 5 orang umat untuk maju ke depan dan masing-masing memimpin satu pokok doa! Itu saja! Simpel kan?
Walah... Mana mau umat disuruh-suruh begitu. Ntar bukannya umat merasa terlibat, malah bisa kapok dan ngabur ke gereja lain yang lebih santai.
Saudara, setiap perubahan pasti akan ada pro dan kontra. Ada umat yang suka dan benci. Tapi bila perubahan itu adalah perubahan yang baik, maka yang pergi akan lebih sedikit ketimbang yang datang. Mungkin gereja akan sedikit 'guncang' dengan perginya tokoh-tokoh berduit ke gereja lain yang lebih suka jemaatnya LDT atau LTDT (karena yang penting uangnya masuk...). Tapi percaya saya, lewat pelibatan umat dalam pelayanan dan ibadah, maka Tuhan akan mempercayakan lebih banyak umat ke gereja Anda. Mengapa? Karena gereja Anda concern kepada pertumbuhan spiritualitas domba-dombaNya! Umat yang diminta terlibat dalam menaikkan doa pasti lebih bertumbuh spiritualitasnya ketimbang umat yang LTD bahkan LTDT. Saya sangat yakin akan hal itu! Silakan debat saya kalau Anda tidak setuju!
Betulnya hal 'membangun keterlibatan umat' ini dapat pula ditempuh dengan banyak cara, seperti membuka kesempatan umat untuk berdoa dengan cara membuka suara, saling mendoakan antar pasangan atau dengan sesama umat yang duduk bersebelahan, atau bahkan melalui doa yang diperagakan (meskipun saya agak kurang yakin dengan manfaatnya, karena peragakan ini terlalu diatur, tidak spontan, bahkan bisa menjadi formalitas dan seremonitas). Silakan dipikirkan bagaimana membuat umat menjadi terlibat. Saya hanya menyarankan hal tersebut (yaitu memberi kesempatan kepada umat untuk memimpin doa) supaya lebih fokus dan bisa bertahap: pertama-tama yang ditunjuk untuk memimpin doa adalah mereka yang memang sudah terbiasa, selanjutnya berangsur-angsur umat yang lain dilibatkan sebagai pemimpin doa. Wah, kalau semua umat pernah mendapat kesempatan memimpin doa, bahkan dijadwal secara teratur, saya yakin akan ada  gerakan Roh Kudus yang terjadi di gereja Anda! Di akhir ulasan ini saya akan mengusulkan sebuah struktur dosa syafaat yang mungkin dapat digunakan untuk mewujudnyatakan hal ini.

Suasana
Diawal sekali saya sudah mengatakan bahwa sekalipun kita bisa berdoa kepada Tuhan dimana saja dan kapan saja, tetapi seharusnyalah moment doa di gereja merupakan moment doa yang terbaik, saat umat secara bersama-sama berdoa. Ini mustinya menjadi pengalaman spiritual yang powerful dan meneguhkan, asal dilakukan dengan benar. Kalau ada seorang yang tidak merasa butuh berdoa, tetapi masuk ke dalam gereja yang 99% umatnya berdoa dengan sungguh-sungguh, pastilah orang tersebut pun akan terinspirasi untuk berdoa dengan sungguh-sungguh. Tapi kalau yang dia lihat adalah umat yang tidak berdoa, hanya LTD bahkan LTDT, maka moment doa itu menjadi moment yang menghancurkan semangat dan motivasi yang bersangkutan untuk menjadi pendoa yang sungguh-sungguh.
Selain faktor alasan dan keterlibatan, faktor suasana juga cukup mendukung keberhasilan doa bersama yang inspiratif.
Saya ingin mengusulkan beberapa hal untuk membentuk suasana doa yang baik:
1. Bentuk Tim Doa dan sebarkan mereka di tengah-tengah umat yang beribadah, supaya mereka bisa menjadi contoh dan teladan bagi umat di sekitar mereka untuk berdoa dengan benar. Semakin banyak gereja memiliki anggota Tim Doa, semakin baik. Bagaimana pun juga, umat memerlukan keteladanan dari sesama umat yang terdekat, ketimbang mencontoh pendeta atau penatua yang duduk jauh di depan, bahkan yang di 'first seat'
2. Ruangan jangan terlalu terang dan berisik. Pemanfaatan dimmer untuk meredupkan lampu, dan instrumentalia teduh sebagai pengantar doa merupakan sebuah ide yang perlu dipikirkan secara serius. Dalam ibadah malam, pemanfaatan lilin yang dipasang di panggung dan beberapa lokasi yang aman di antara jemaat (untuk menggantikan lampu PLN) juga menjadi sebuah pembentuk suasana doa yang baik. Buat juga peraturan yang tegas, bahwa saat doa dinaikkan maka umat tidak boleh keluar masuk ruangan, artinya kalau pas ada umat yang ke toilet atau terlambat datang, maka ybs harus menunggu di luar ruangan sampai doa selesai dipanjatkan. Ini juga untuk menegaskan bahwa masalah doa itu tidak boleh dianggap main-main.
3. Susunlah struktur doa, terutama untuk doa syafaat. Doa yang cukup panjang dengan beberapa topik perlu disusun sedemikian rupa sehingga 'tidak bikin tidur'. Disini saya coba mengusulkan sebuah struktur doa syafaat yang mungkin dapat menjadi sebuah variasi doa:

Struktur Doa Syafaat
1. Pujian pengantar doa syafaat
2. Pendeta menaikkan doa seputar visi dan misi pelayanan gereja yang sedang dikembangkan
3. Pujian
4. Tiga kali calling untuk didoakan secara khusus (misalnya: bersyukur, keutuhan keluarga, sakit, pengampunan, keuangan, kehilangan, dll)
5. Pujian
6. Umat yang ditunjuk memimpin doa untuk pokok-pokok doa yang telah ditetapkan sebelumnya, seperti umat yang berulang tahun, yang sakit, suka-duka, pergumulan masyarakat, negara, bahkan dunia (lebih baik bila datanya ditayangkan)
7. Pujian
8. Penutup oleh Pendeta.

Selamat mempraktekkan dan salam berdaya!

Kamis, 21 Februari 2013

CSS: Doa 1

Matriks CSS
Dalam kuadran kedua, kita akan berbicara mengenai 'doa'. Seperti halnya khotbah, doa pun merupakan bagian yang penting dalam suatu peribadahan. Di gereja saya, ada cukup banyak doa dalam ibadah, yaitu:
  • doa pribadi diawal dan akhir ibadah
  • doa pengakuan dosa
  • doa sebelum khotbah (epiklesis)
  • doa sesudah khotbah (yang ini opsional bisa juga diisi saat hening, instrumentalia, atau altar call)
  • doa syafaat
  • doa persembahan
Dan dalam ibadah-ibadah khusus, jumlah doa nya bisa lebih banyak lagi.
Saya tidak akan membahas mengenai doa-doa seperti apa yang seharusnya dilakukan dalam ibadah, namun lebih kepada: bagaimana doa itu menjadi sebuah moment yang dirindukan, sebagai sebuah kesempatan untuk berbicara kepada Tuhan dan bukan sekedar menjadi sebuah urutan dalam tata ibadah.

Dalam kisah penahbisan Bait Allah oleh Raja Salomo yang tercatat dalam kitab 1 Raja-Raja pasal 8, kita membaca bahwa doa yang dinaikkan dalam Rumah Tuhan (dalam hal ini adalah Bait Allah Yerusalem) adalah doa yang 'spesial' dan 'didengar' bahkan 'niscaya dijawab/dikabulkan' oleh Tuhan (dari pemahaman ini muncul konsep kiblat dalam agama Yahudi, baca 1 Raja 8:30, 48). Dalam Perjanjian Baru, konsep 'doa di Rumah Tuhan' itu diluaskan sehingga tidak merujuk pada Bait Allah Yerusalem saja, yaitu:
  • berdoa/menyembah dalam roh dan kebenaran (baca Yoh 4:24 ), artinya berada dalam dimensi yang tidak terikat pada tempat/lokasi, waktu dan seremoni tertentu
  • tubuh kita disebut sebagai Bait Roh Kudus (baca 1 Kor 6:19), artinya Tuhan begitu dekat dengan kita sehingga kita dapat memanggil namaNya kapan dan dimana saja, selain juga mengandung pengertian bahwa kita harus menjaga kekudusan hidup kita.
Ada kalangan yang secara keliru menafsirkan kedua hal diatas sebagai pembenaran atas kemalasan mereka untuk tidak datang beribadah ke gereja, bahkan untuk berdoa. Untuk apa lagi ke gereja, kan kita ini sendiri Bait Roh Kudus? Bahkan ada yang memandang gereja sebagai kelanjutan dari konsep Bait Allah Yerusalem yang sudah  'dirombak' Tuhan Yesus (dan yang dibangunkan kembali di dalam diriNya melalui kuasa kebangkitanNya, baca Yoh 2:19-22)
Ini jelas pemikiran yang nggak benar dan - tentu saja - tidak Alkitabiah. Mengapa? Saya bisa menyebutkan banyak alasan, tetapi saya sebutkan 2 saja:
  1. Komunitas Kristen perdana selalu beribadah di dalam Bait Allah Yerusalem, selain ibadah di rumah-rumah (baca Kis 2:46)
  2. Adanya sebuah ajakan untuk tidak menjauhkan diri pertemuan-pertemuan ibadah (baca Ibrani 10:25)

Memang kita sudah tidak perlu lagi beribadah di Bait Allah Yerusalem yang saat ini sudah tidak ada lagi. Tidak perlu jauh-jauh datang ziarah ke Yerusalem untuk sekedar menyampaikan suatu doa atau permohonan kepada Tuhan, karena kita yakin bahwa dimanapun juga kita berdoa maka Tuhan pasti mendengar dan mengabulkan doa yang seturut dengan kehendakNya. Namun aktivitas 'berdoa di Rumah Tuhan' tetaplah merupakan aktivitas ibadah yang perlu kita lakukan dengan sebaik-baiknya. Mengapa? Bukan karena doa di Rumah Tuhan itu lebih ampuh/mujarab dan kemungkinan terkabulnya lebih besar, tetapi karena di gerejalah (seharusnya) kita menemukan moment doa yang terbaik! Doa memang dapat dilakukan sendiri di dalam kamar yang tertutup (baca Matius 6:6). Tetapi manusia seringkali membutuhkan contoh, motivator, bahkan teladan dari orang lain dalam menjalankan aktivitas doa, dan itu dapat ditemukan dalam ibadah doa di gereja. Bagaimana pun berdoa bersama-sama dengan orang lain dapat lebih memotivasi ketimbang berdoa seorang diri, betul? Untuk itulah dalam bagian-bagian berikut ini kita akan membahas hal ini, yaitu doa pribadi dan doa bersama di dalam gereja, serta sebuah usulan untuk memodifikasi doa syafaat.

DOA PRIBADI

Apa bedanya doa pribadi dan doa bersama?
Beda yang paling jelas adalah dalam hal inisiatif: doa pribadi merupakan inisiatif pribadi (karena memang saya ingin/butuh berdoa), sedangkan doa bersama merupakan inisiatif tata ibadah (ya memang urutannya tata ibadahnya begitu) atau inisiatif pemimpin ibadah (liturgos/pendeta).
Mengapa perlu saya bedakan antara doa pribadi dan bersama? Kan sama-sama doa...
Bagi saya, masalah 'inisiatif doa' ini perlu kita perhatikan karena menjadi sebuah cermin dari suatu kondisi bergereja yang lebih besar dan krusial.

Ada banyak momen doa pribadi dalam suatu ibadah. Masalahnya: tidak semua orang mau memanfaatkan momen tersebut. Mengapa? Simpel saja: karena memang tidak butuh! Dan saya yakin mereka pun tidak pernah - atau jarang - berdoa pribadi di rumah.
Sebetulnya sangat disayangkan kalau gereja gagal 'membentuk' umatnya menjadi umat yang gemar berdoa, atau malah sebaliknya, gereja 'berhasil' membentuk umat yang nggak butuh berdoa, bahkan skeptis dengan doa. Semoga tidak pernah terjadi yang demikian! Namun saya pribadi memiliki 'kekuatiran' bahwa memang ada umat yang tidak bisa, tidak butuh, atau tidak mau berdoa!
Saya pernah mendengar sharing seorang ibu tentang anaknya yang bergereja di sebuah GKI. Anaknya sampai remaja nggak bisa berdoa, dan memang nggak ada seseorang yang membimbing anak tersebut dalam hal pertumbuhan spiritualitas. Nah, parahnya, anak tersebut kemudian pindah ke sebuah gereja kharismatik dan sekarang dia sangat pintar berdoa, rajin membaca Alkitab, bahkan terpanggil untuk menjadi pelayan fulltime di gereja tersebut. Ini kan parah banget, karena menunjukkan bahwa 'gereja kharismatik itu' ternyata lebih mampu membangun spiritualitas umatnya ketimbang 'sebuah GKI itu' (saya tidak menunjuk ke semua GKI, karena ada banyak GKI yang concern dengan pertumbuhan spiritualitas umatnya).
Apa yang mau saya sampaikan disini? Singkatnya: umat yang sadar/haus/tahu berdoa adalah merupakan cermin dari  pembinaan spiritualitas gereja tersebut! Dengan kata lain: doa pribadi merupakan sebuah akibat, bukan sebab dari sebuah pembinaan spiritualitas. Dan pembinaan spiritualitas merupakan sebuah indikator dari maju-mundurnya sebuah gereja (baca lagi bagian-bagian sebelumnya). Coba lihat, berapa banyak umat yang sungguh-sungguh berdoa dalam momen doa pribadi, disitu akan terindikasi gereja tersebut akan terus bertumbuh atau mengering.
Jadi, berbicara tentang 'doa pribadi' kita tidak cukup menghimbau, berkhotbah, atau mewartakan tentang gerakan doa. Perlu, tetapi tidak cukup. Diperlukan sebuah keteladanan dan hati yang sungguh-sungguh rindu untuk membawa umat menjadi lebih maju spiritualitasnya.

Lalu, bagaimana caranya agar umat dapat lebih maju spiritualitasnya? Menjadi sebuah problem bagi banyak gereja, saat acara-acara bina spiritualitas kekurangan peminatnya. Katakanlah hanya sekitar 10% sampai 20% umat yang mau mengikuti acara pembinaan. Sisanya sudah merasa cukup dengan mengikuti ibadah minggu.
Saya pikir tidak ada yang salah dengan keadaan itu. Tidak masalah 10% atau 20%. 1% bahkan satu dua orang pun tidak menjadi masalah, sepanjang mereka benar-benar terbina! Terkadang acara pembinaan lesu peminat karena memang acara dan materinya kurang greget. Kalau ini masalahnya, ya selesaikanlah dulu masalah 'kurang greget' itu supaya bisa 'lebih greget'. Tapi kalau pembinaan sudah dilakukan dengan maksimal tetapi peminatnya masih minim, saya sarankan untuk tetap melanjutkan dengan sukacita dan bersyukur. Ada banyak gereja besar yang dimulai dari satu dua orang (dan dengan dana nyaris Rp 0,-) namun karena konsistensi, hati yang sungguh rindu untuk berbagi Firman Tuhan, dan komitmen yang besar dari satu dua orang itu untuk membangun Rumah Tuhan, maka dapat terhimpunkan sejumlah besar orang untuk bergabung. Loh ini kan curi domba? Jadi boleh dong? Itu beda, Saudara. Yang disebut 'curi domba itu contohnya:  menjemput umat yang baru selesai beribadah di suatu gereja untuk 'lanjut' beribadah ke gereja lain, atau PDKT ke aktivis/tokoh/domba gemuk untuk pindah ke gereja lain dengan iming-iming uang/jabatan/first seat, hingga - yang paling sering terjadi - menjelek-jelekkan gereja lain sebagai GKI (Gereja Kurang Iman), GKU (Gereja Kurang Urapan), dsb. Itu yang disebut curi domba yang - saya yakin 100% - berasal dari Iblis yang membawa roh pemecah (baca Gal 5:19-21).

Saya paling anti dengan aktivitas curi domba. Tapi kita jangan lupa, bahwa domba-domba itu bukan milik kita. Domba-domba itu 100% milik Tuhan, dan Tuhan juga memperhatikan 'kandang'nya yaitu gereja tempat domba-domba itu dipelihara. Kalau 'kandang'nya ternyata hanya sanggup memelihara 100 domba dan bukan 1000 domba, ya pastilah Tuhan akan memindahkan 900 domba itu ke 'kandang' lain yang lebih mampu, dan menyisakan 100 domba di 'kandang' yang lama. Atau bila sebuah 'kandang' sudah tidak mampu lagi menjalankan fungsi pemeliharaan domba, maka seekor domba pun tidak akan Ia biarkan 'tersesat' di 'kandang' tidak bermutu itu! Biarkan Tuhan yang empunya domba-domba itu yang menentukan perpindahan domba, hal ini akan jelas terlihat dalam 'proses'nya yang berjalan dengan wajar tanpa harus memakai 'strategi curi domba' yang macam-macam. Saya berharap Saudara dapat membedakan kedua hal ini.
Gereja saya termasuk gereja yang pernah mengalami penurunan jumlah umat sebesar hampir 50% dalam tempo 10 tahun. Dalam masa-masa 'suram' itu, segala daya upaya dilakukan untuk menahan laju 'kejatuhan', sampai-sampai memanggil pengkhotbah dan pendeta konsultan dari luar GKI, mungkin anggapan orang saat itu bahwa pendeta non GKI  lebih mampu dan lebih punya 'urapan' ketimbang pendeta GKI sendiri (ini mungkin, karena pada masa-masa  itu saya belum berada di dalam struktur kemajelisan). Namun tetap saja upaya itu tidak sanggup menahan lajunya 'kejatuhan'. Namun puji Tuhan pengalaman itu membuat kami belajar mengenai: bagaimana kami menyelenggarakan sebuah gereja yang lebih berkenan kepadaNya, sehingga Ia pun mulai mempercayakan kembali domba-dombaNya untuk dipelihara di dalam gereja kami. Meskipun saat BUSA ini ditulis gereja saya belum sepenuhnya mengalami 'pemulihan', namun saya dan segenap pengurus gereja telah melihat sebuah track yang begitu jelas akan masa depan bergereja yang lebih baik. Dan untuk hal itulah buku ini ditulis, sebagai sebuah sharing pengalaman dan pemikiran yang mungkin berguna untuk membangun environment bergereja yang lebih baik.

Ulasan ini memang jadi panjang, tetapi saya berharap gereja-gereja mulai lebih memikirkan dan membangun sebuah blue print pembinaan spiritualitas yang baik dan diminati, sehingga tercermin melalui kegairahan umatnya dalam berdoa.

Selasa, 13 November 2012

CSS: Khotbah 3

Person

Hal yang terakhir dari Kuadran Kotbah adalah: si pengkhotbah.
Mengapa hal pengkhotbah ini perlu saya bahas disini? Karena mimbar gereja seharusnyalah dilayani oleh gembala asli dan bukannya gembala upahan!
Disini kita berbicara mengenai kredibilitas dan reputasi  seorang pengkhotbah, dan ini penting untuk menjadi perhatian kita semua.

Mengapa?
Karena menguasai content dan mengemas context itu dapat dipelajari dan dilatih oleh siapapun, namun hal person... Ini sebetulnya yang akan membedakan secara jelas antara kotbah dan seminar, antara penggembalaan dan 'sekedar training'!

Memang pengkhotbah hanyalah alat di tangan Tuhan untuk menguraikan Firman Tuhan kepada umat, maksudnya: Firman Tuhan tidaklah menjadi kurang wibawa dan otoritasnya saat disampaikan oleh seorang pendosa (lagian siapa sih yang tidak berdosa?).
Namun, hal itu bukanlah berarti bahwa pengkhotbah itu boleh siapa saja yang merasa terpanggil!
Berbicara mengenai kredibilitas dan reputasi pengkhotbah, kita akan berbicara mengenai dua hal, yaitu: tujuan dan profile

Tujuan
Saya yakin semua orang digerakkan oleh suatu  tujuan dalam memilih atau melakukan sesuatu. Sekarang, apa tujuan seseorang memilih dan menjadi seorang pengkhotbah (atau pendeta)? Disini saya tidak berbicara mengenai 'panggilan Tuhan' karena semua orang yang 'berani' menjadi pengkhotbah pastilah mengklaim telah memiliki special call dari Tuhan! Tapi, dibalik 'klaim panggilan' itu saya ingin kita jujur terhadap diri kita sendiri bahwa pastilah ada tujuan yang yang lebih realistis bahkan manusiawi. Itu bukanlah hal yang salah atau memalukan, bahkan sekalipun tujuan tersebut bersifat 'sangat kedagingan' seperti: untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga, untuk aktualisasi diri, bahkan untuk menegakkan ajaran gereja yang kalau perlu sampai harus memecah gereja! Yang menjadi masalah adalah: apakah bagaimana tujuan pribadi itu mampu ditundukkan di bawah tujuan Allah? Apakah itu 'tujuan Allah'? Dalam kaitan dengan topik ini, saya dengan yakin menyatakan bahwa 'tujuan Allah' bagi para pengkhotbah/pemberita Injil adalah PMBA: pergi, memuridkan-baptis, ajar (Amanat Agung, Matius 28:19-20a). Apakah PMBA itu masih menjadi prioritas Saudara? Ataukah PMBA itu hanya menjadi sebuah tempelan atau alat bagi pencapaian tujuan bahkan nafsu/obsesi pribadi Saudara?
Contohnya tentang 'pergi': kemana kita pergi? Apakah kita hanya ingin pergi ke tempat-tempat yang menguntungkan kita, yang basah, bahkan yang 'amplop'nya besar-besar, sehingga kita tidak mau melayani umat marjinal yang terkadang malah kita yang harus keluar duit pribadi?
Contoh lain tentang 'memuridkan-baptis': apakah kita lebih senang 'memuridkan murid' alias curi domba gereja lain (terutama domba yang gemuk) ketimbang membimbing seorang yang belum percaya untuk menjadi murid Kristus?
Contoh lain lagi tentang 'ajar': apakah kita lebih senang mengajarkan hal-hal yang ringan, menghibur, memotivasi, menjanjikan/membangkitkan harapan palsu, ketimbang mengajarkan ajaran yang benar dan alkitabiah sekalipun keras, sulit dimengerti, bahkan tidak menarik?
Yang lain silakan dilanjutkan sendiri, namun biarlah apapun tujuan 'kedagingan' yang normal kita miliki sebagai manusia TETAP TUNDUK dibawah tujuan Allah itu.

Profile
Penting bagi seorang pengkhotbah untuk memiliki sebuah profile yang tidak melulu sebagai ahli kotbah. Profile itu adalah sebuah kelebihan yang menjadi nilai tambah dari seorang pengkhotbah, bisa berbentuk gelar akademis (master/doktor), dosen seminari, penulis buku/jurnal/artikel, pengarang lagu, pemusik, pembawa acara radio/TV rohani, pelayanan luar (penginjilan, sosial, kemasyarakatan), dan lain sebagainya yang masih berdekatan dengan pelayanan. Bahkan hobi tertentu bisa menjadi profile, seperti bercocok tanam atau travelling, asalkan dapat memberi nilai tambah terhadap pelayanan yang dilakukan. Bukan hal baru penginjilan dilakukan melalui kegiatan pertanian, atau mengasah spiritualitas melalui kedekatan dengan alam. Intilnya, profile adalah sesuatu yang membuat wawasan kita makin luas, sehingga membuat para pengkhotbah 'bernilai lebih' karena pengalamannya yang banyak. Bagaimanapun juga pengalaman adalah guru yang terbaik, dan mendengarkan orang yang berpengalaman adalah sama dengan belajar pada guru yang terbaik. Jangan kungkung diri kita di dalam mimbar. Keluarlah, buat profile yang dapat memperluas wawasan Saudara, sehingga Saudara lebih mampu membawakan khotbah yang lebih berisi, mendarat, dan relevan. Itu tentu selanjutnya dapat membuat khotbah Saudara menjadi khotbah yang selalu ditunggu dan dicari.

Kamis, 01 November 2012

CSS: Khotbah 2

Context

Kalau ajaran/teologi lokal adalah isi dari khotbah, maka context adalah kemasannya. Pengertian simpelnya: bagaimana ajaran yang rumit itu dibahasakan sehingga mudah dimengerti dan inspiratif untuk diikuti oleh jemaat.
Sebuah content yang baik akan terlihat buruk oleh context yang buruk, sebaliknya sebuah content yang buruk akan terlihat begitu meyakinkan oleh context yang baik (sekalipun ngaco isinya).

Gereja-gereja muda dan modern ternyata lebih berhasil dalam menciptakan sebuah context khotbah yang baik. Sebaliknya gereja-gereja mainstream - yang biasanya sudah tua dan tradisional - sering gagap dalam menciptakan context khotbah yang lebih up to date, seraya berharap bahwa jemaat akan lebih mencari suara Tuhan ketimbang di-entertain (ini hanya alasan saja untuk menutupi kelemahan mereka yang memang lemah mengemas khotbah yang lebih baik!)
Seorang marketer sangatlah memahami bahwa kemasan produk merupakan salah satu penentu laku tidaknya produk yang dijualnya. Bahkan suatu kemasan dapat menjadi sebuah leverage (pengungkit) untuk mendongkrak harga jual, gengsi, bahkan rasa/feel. Sama-sama tas, kulit namun tas bermerek akan berharga lebih mahal, lebih membanggakan saat dipakai, bahkan terlihat lebih serasi dengan penampilan, ketimbang tas sejenis namun tidak ada merek.
Kita tidak sedang ingin me-marketing-kan kotbah disini, namun pemahaman marketing ini dipaparkan untuk sekedar memberi gambaran mengenai betapa pentingnya context kotbah itu!
Saya disini hanya akan memberi beberapa masukan untuk menciptakan context kotbah agar dapat lebih dibahasakan secara lebih jelas, menarik, dan inspiratif. Saya beri singkatan supaya gampang diingat, yaitu STAR (supaya kotbah di gereja Anda bisa benar-benar menjadi bintang)

Siapkan skenario
Kotbah mustinya ada sistematikanya, paling tidak terdiri dari:
1. eksposisi/ulasan atas Firman Tuhan yang dibaca dan
2. bagaimana implikasinya dalam hidup kekinian dan keseharian umat.
Poin ke-1 adalah poin yang diajarkan di seminari-seminari tentang bagaimana kita memahami, memaknai, dan mengomunikasikannya kepada umat, tersedia banyak kelas homiletika yang dapat membahas tuntas hal tersebut, paling tidak dalam 2 - 3 sks, jadi saya tidak akan membahas disini.
Namun poin ke-2, nah ini yang sering luput dari perhatian seminari. Akibatnya jebolan seminari seringkali menjadi seorang 'alien di atas mimbar' yang berbahasa 'dewa' kepada umatnya, dengan menyampaikan kotbah yang terlalu dogmatis dan terlalu 'tinggi', tidak bisa mendarat dalam realitas keseharian umat. Kegagalan mendaratkan/merelevankan Firman Tuhan ini seharusnya menjadi keprihatinan kita bersama, dan bukannya memaklumi bahwa sepantasnyalah 'gelap dan terang tidak dapat bersatu' alias wacana teologis di atas mimbar akan tertinggal disana saat jemaat kembali ke dunia nyata! Herannya, pengkhotbah dari mereka yang berlatar belakang sekular tampaknya lebih mampu mendaratkan/merelevankan Firman Tuhan ini! Mungkin karena mereka sudah memiliki pengalaman berada di dunia nyata (misal bekerja di kantor/perusahaan) sehingga nyambung-nya bisa lebih kena ketimbang mereka yang belajar di bangku-bangku seminari.
Itulah sebabnya jebolan seminari janganlah melulu membaca jurnal teologi. Menonton TV, membaca koran/buku/majalah Politik-Ekonomi-Bisnis, bahkan mengikuti perkumpulan non-gerejawi seharusnya tetap perlu dilakukan untuk memperluas wawasan maupun network.
Tapi ijinkan saya menyarankan satu skenario  untuk meningkatkan kualitas context kotbah ini, terutama untuk poin ke-2 ini, yang saya sebut saja sebagai Kotbah Tiga Babak:
  • Babak 1: Paparkan kondisi real yang related dengan ulasan Firman Tuhan dan jelaskan bahwa hal itu sangat relevan dan perlu menjadi perhatian kita bersama
  • Babak 2: Tunjukan 'si Tantangan', yaitu dia/sesuatu/keadaan yang bisa menyebabkan 'kondisi yang relevan' itu bisa mengalami gangguan atau hambatan, dan bagaimana 'tantangan' ini menjadi sebuah 'keprihatinan' yang perlu diatasi oleh kita
  • Babak 3: Beri Solusi untuk mengatasi si Tantangan, yaitu Tuhan Yesus melalui kebenaran-kebenaran alkitabiah yang membuat kita mampu menjalani kehidupan dalam 'kondisi yang relevan' itu.
Saya pikir, umat akan mendapat alasan untuk mendengarkan sebuah kotbah saat kotbah itu dengan jelas menunjukkan relevansinya dengan kehidupan umat. Kotbah yang tidak (dibuat) relevan... saya yakin tidak akan benar-benar menjadi kebutuhan umat, sehingga aktivitas Ibadah Minggu hanya akan menjadi sebuah kegiatan seremonial dan kebiasaan semata!

TAyangan sederhana
Saat ini gereja banyak yang sudah diperlengkapi dengan perangkat multimedia yang canggih seperti LCD projector atau monitor layar lebar, jelas bukan sebuah investasi yang murah demi lebih lancarnya pelaksanaan ibadah. Apabila gereja Anda sudah memiliki perangkat seperti itu: syukurilah dan gunakanlah untuk mendukung penyampaian kotbah! Namun apabila gereja Anda belum memilikinya: jangan sedih dan tetap pergunakan apa yang ada!
Intinya adalah: kotbah perlu didukung oleh sebuah 'tayangan sederhana' yang 'cukup pas' untuk mendukung penyampaian kotbah, dan tidak menjadi 'pengalih perhatian'.
Tayangan yang rumit dan kompleks memang terlihat berkualitas dan memukau. Namun hati-hati, karena umat bisa akan lebih memperhatikan tayangannya ketimbang kotbahnya!
Siapkan saja satu kata sederhana atau gambar sederhana untuk memudahkan umat memahami dan mengikuti kotbah Anda.
Saya beri contoh yang sangat sederhana, misalnya saat Anda sedang menguraikan tentang Hukum Kasih. Tidak perlu Anda memenuhi layar monitor dengan kutipan ayat dan gambar, cukup Anda tayangkan gambar satu panah vertikal di tayangan pertama (kasih kepada Tuhan) dan satu panah horizontal di tayangan kedua (kasih kepada sesama). Apabila gereja Anda belum memiliki proyektor atau layar monitor, guntingan karton atau styrofoam pun sudah cukup untuk mendukung kotbah Anda! Buat tayangan sesimpel mungkin, sehingga tayangan tetaplah berfungsi sebagai 'alat bantu' dan bukannya 'fokus utama'.

Ringkaskan
Di akhir kotbah, berilah sebuah ringkasan dalam 'satu buah kalimat yang habis dibaca dalam satu tarikan nafas'. Jangan bebani jemaat dengan sebuah kesimpulan panjang, cukuplah sesuatu yang singkat dan menjadi esensi dari kotbah itu sendiri.
Banyak gereja yang mengakhiri kotbah dengan doa, saat hening, maupun persembahan pujian. Namun sebenarnya umat lebih membutuhkan sebuah 'buntalan' yang dapat dibawa pulang, yaitu inti sari kotbah itu sendiri.
Kenapa musti 'habis dibaca dalam satu tarikan nafas'? Ini jangan dimaknai secara harafiah, karena maksud sebenarnya adalah: harus sesingkat-singkatnya sehingga mudah untuk diingat dan dibawa pulang. Sebuah ringkasan kotbah yang terlalu panjang juga berkemungkinan besar tidak akan dibaca oleh umat. Jadi, buatlah kesimpulan yang sesingkat mungkin, bisa ditayangkan di layar multimedia, maupun sekedar dikatakan.

Minggu, 28 Oktober 2012

CSS: Khotbah 1

Content 

Di depan sudah dijelaskan bahwa khotbah adalah penguraian Firman Tuhan. Sebuah khotbah yang baik tidak mengikat jemaat kepada khotbah itu sendiri (maksudnya membuat jemaat merasa cukup hanya dengan mendengarkan khotbah), namun harus terus memotivasi dan mendorong jemaat untuk langsung, tekun, dan teratur membaca Alkitab. Selain itu, sebuah khotbah yang baik seharusnyalah memiliki bahasa yang tidak hanya sederhana (mudah dipahami oleh umat awam) dan aplikatif (nggak teoriiii melulu), namun juga memiliki muatan teologi yang sesuai teologi gereja setempat.

Bagian yang terakhir (yaitu 'sesuai teologi gereja setempat') menjadi isu yang ingin saya angkat dalam bagian ini. Mengapa? Karena teologi merupakan salah satu jati diri sebuah gereja, sehingga saat kita mulai memikirkan untuk mencapai apa yang 'disana' (yaitu visi), maka kita perlu memahami titik berangkat kita, termasuk pemahaman atas 'siapa diri kita', dan bagaimana 'kita' memberdayakan diri kita sendiri untuk bergerak mencapai visi.

Bukan rahasia kalau masalah teologi sering menjadi salah satu penghambat pelayanan gereja, yaitu saat para teolog suatu gereja memutuskan untuk 'mengembangkan teologi gereja setempat' sedemikian rupa sehingga 'melayang terlalu jauh dari landasannya' yaitu apa yang disebut di atas sebagai jati diri gereja. Akibatnya adalah keributan terus-menerus yang menghabiskan waktu dan melemahkan gereja dalam menjalankan panggilannya. Kita tentu setuju bahwa tiap gereja memiliki sejarah perkembangan dan teologi yang memperkembangankannya. Nah, saat masa lalu berganti dengan masa kini, dengan berbagai perkembangan dan perubahannya, apakah warisan sejarah dan teologi masa lalu itu boleh dianggap sebagai barang kuno/usang bahkan tidak relevan lagi dengan kekinian, sehingga sah digusur oleh sesuatu yang dianggap lebih mutakhir dan relevan? Kalaupun tidak 'digusur', tetapi ditambahkan 'bumbu yang begitu banyak' sehingga natur aslinya menjadi berubah atau berbeda.

Saya ingin mengajak kita semua untuk: menghargai sejarah dan menghormati apa yang telah ditorehkan dalam sejarah, termasuk bagaimana sebuah gereja dibentuk oleh konsep teologi tertentu. Tentulah tidak ada orang yang mau dianggap 'tidak menghargai' dan 'tidak menghormati', boleh-boleh saja menyangkal demikian. Namun indikatornya jelas dan mudah, yaitu: sejauh mana kita telah berusaha untuk mempelajari konsep teologi gereja kita 'yang asli' sebelum kita 'berani' mengubah atau menambahinya dengan teologi yang Anda anggap lebih relevan, kontekstual, dan up to date! Silakan dijawab sendiri! Mari bicara tentang GKI (dan gereja Saudara masing-masing). Kalau GKI telah ditanam sebagai sebuah gereja Reformasi yang bercorak Calvinis, maka hargailah teologi GKI yang bercorak Calvinis, dan jangan 'menghakimi' bahwa Calvinisme - dengan ciri khasnya: ajaran mengenai Predestinasi - itu sudah tidak relevan dengan globalisasi masa kini yang berkaitan secara tidak langsung dengan munculnya pluralisme agama. Bukan rahasia lagi bahwa banyak teolog GKI yang mulai meninggalkan Calvinisme dan memasukkan teologi-teologi impor ke dalam GKI yang akhirnya membuat teologi GKI menjadi tidak jelas, dan nyaris tidak memiliki warna yang khas lagi. Pastilah ada yang berkomentar demikian: apa yang salah dengan teologi warna-warni yang nggak perlu 'khas'? Kan jadi bagus, indah, dan lengkap, dimana kekayaan teologi yang berbagai macam itu dikombinasi menjadi teologi bersama (ekumenis) yang bisa diterima semua pihak dan aliran. Nanti dulu Saudara, itu bukanlah pokok persoalannya! Pokok persoalannya adalah: sudahkah kita memahami teologi khas kita sebelum kita 'rela menduakan'nya dengan pemahaman lain yang seringkali berbeda perspektifnya.

Ambil contoh mengenai predestinasi yang sangat khas Calvinis. Ajaran predestinasi ini sering menjadi 'sasaran tembak', dengan menonjolkan wajah arogan umat Calvinis yang sepertinya merasa benar dan selamat sendiri, sedang yang lain adalah umat yang terkutuk dan calon penghuni Kerajaan Neraka! Itulah yang menyebabkan Teologia Calvinistik sering dianggap eksklusif, sombong, dll... sehingga harus digusur... Demi perikehidupan dunia yang lebih baik dan bersahabat... Sebetulnya tidak demikian! Seorang penganut Calvinisme yang sejati tidak akan menghakimi saudaranya yang penganut Arminianisme atau Katolikismen, pun terhadap mereka yang beragama lain, sebagai 'calon penghuni kerajaan neraka'. Mengapa?
Pertama, karena Calvinisme percaya bahwa teologi tidak menyelamatkan, hanya Tuhan yang menyelamatkan, dan penyelamatan Tuhan itu 100% ditentukan oleh Allah tanpa sedikitpun kontribusi manusia.
Kedua, ajaran Predestinasi TIDAKLAH MUNGKIN membuat seorang Calvinis Sejati menjadi eksklusif dan sombong! Mungkin seorang Calvinis Palsu yang hanya setengah bahkan seperempat memahami teologi ini bisa menjadi eksklusif dan sombong, seperti pepatah mengatakan: 'tong kosong nyaring bunyinya'! Seorang Calvinis Sejati justru niscayanya menjadi seorang yang inklusif dan rendah hati. Mengapa?
  1. Karena kita sebetulnya TIDAK PERNAH TAHU siapa sebetulnya orang yang dipilih dan orang yang ditolak. Mungkinkah sedikit orang yang dipilih? Ya mungkin! Mungkinkah banyak bahkan semua orang dipilih? Ya mungkin! Kan yang tahu dan yang memilih itu Sang Pemberi Keselamatan itu sendiri, bukan kita! Jangan-jangan kita yang selama hidup aktif melayani Tuhan, menjadi penatua, menjadi pendeta, bahkan menjadi penjala ribuan manusia untuk Tuhan, menjelang ajal menjemput justru berbalik menyangkal Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Jurus'lamat kita! Sebaliknya mereka yang kita cap 'kafir' justru menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Jurus'lamat mereka sebelum nyawa terlepas dari tubuh jasmani ini! Kita tidak akan pernah bisa tahu hal itu sebelum kita meninggal di dalam iman yang sejati kepada Tuhan Yesus! Jadi seorang Calvinis Sejati pastilah orang yang rendah hati dan selalu berharap kepada Tuhan agar diberi kesempatan dan anugerah untuk tetap setia mengikuti dan mempercayaiNya sampai akhir hidupnya. 
  2. Ketidaktahuan ini juga membuat seorang Calvinis Sejati membuka dirinya terhadap dunia, menjadi garam dan terang bagi dunia. Mengapa? Karena kita TIDAK PERNAH TAHU siapa saja orang yang akan kita menangkan jiwanya. Siapa mereka? Tidak tahu! Umat pilihan Tuhan 'terserak' dimana-mana, sehingga berita Injil harus dikumandangkan dan disebarkan SELUAS-LUASNYA, baik melalui perkataan maupun perbuatan, menjadi sebuah undangan terbuka bagi 'mereka yang terserak' untuk percaya dan menjadi murid Tuhan Yesus. 
Pertanyaannya: ini kristenisasi bukan? Pertanyaan ini tidak bisa dijawab dengan 'ya' atau 'tidak', karena pertanyaan ini sebetulnya mencerminkan khas-nya toleransi antar umat beragama di Indonesia, yaitu: disharmoni, alias toleransi bohong! Penginjilan Kristen atau syiar agama lain seharusnya tidak perlu membuat disharmoni dalam kehidupan beragama, apalagi kalau kita memiliki pemahaman bahwa umat terpilih itu 100% ditentukan oleh Tuhan! Mau ditindas atau dihambat bagaimana pun juga tetaplah tidak akan sanggup merampas orang-orang pilihanNya dari tangan Tuhan (demikian pula sebaliknya). Atas pertanyaan itu, saya jawab demikian: kalau penginjilan kita memang dihambat, lakukanlah penginjilan melalui sikap hidup atau keteladanan yang baik kepada semua orang. Banyak juga kok orang yang dimenangkan bagi Tuhan Yesus karena melihat keteladanan yang baik dari para pengikut Kristus, dan bukan karena mendengar ribuan kata doktrinal atau membaca buku teologi yang tebal-tebal.

Paparan di atas hanya ingin menunjukkan perlunya kita mempelajari Calvinisme dengan lebih sungguh-sungguh, sebelum kita menggusurnya dengan teologi lain. Calvinisme masih relevan kok, dan yang paling penting telah teruji ke-alkitabiah-annya. Saya - sebagai umat GKI - mengajak jemaat GKI dan para teolognya untuk kembali belajar, memahami, dan memegang Calvinisme, sebagai sebuah akar dan jati diri gereja yang perlu terus dipelihara, dan membuat jemaat GKI memiliki kejelasan tentang ajarannya sendiri. Sekalipun tidak menyelamatkan, namun biarlah Teologi GKI menjadi sebuah alat bantu bagi umat untuk memahami suara Tuhan, kebermaknaan hidup, dan panggilan sebagai Umat Pilihan Allah! Dan ini akan terwujud apabila pesan mimbar GKI dengan setia menguraikan Firman Tuhan sesuai prinsip dan muatan Teologi Calvinis, yaitu teologi lokal (dan asli) GKI!

Jumat, 26 Oktober 2012

CSS: Visi 3

Ulasan visi ini  memang lumayan panjang, karena memang sengaja tidak saya potong mengingat pentingnya setiap materi tulisan yang ada.
Nah, memasuki pembahasan 4 kuadran CSS di bab-bab berikut, saya akan mencoba untuk mempersingkatnya dengan cukup membahas pokok pikirannya saja.
Namun ada 2 hal mendasar yang ingin saya sampaikan terlebih dahulu:
1. Kunci sukses sebuah gereja ditentukan oleh kegemaran umatnya dalam mendengar Firman Tuhan dan berdoa  (baik secara pribadi, kelompok kecil, maupun dalam sebuah ibadah minggu)
2. Keempat kuadran CSS  berlaku untuk apapun visi yang ditetapkan, yang berbeda hanyalah penekanannya saja
Tentu visi yang besar membutuhkan perhatian pada keseluruhan kuadran, sedangkan visi yang terbatas, mungkin dapat dicapai cukup dengan mengoptimalkan satu atau dua kuadran.

Berikut ini penjelasannya:

Pertama: Kunci rahasia sukses, yaitu Membaca Firman Tuhan dan Berdoa
Saya langsung beri contoh saja, yaitu seorang penginjil asal Tiongkok yang melayani sekitar tahun 1920-an hingga 1940-an, yang bernama John Sung. Ia dipersiapkan Tuhan untuk melakukan pelayanan-pelayan misi yang besar BUKAN saat dia bertumbuh di dalam lingkungan keluarga pendeta, BUKAN saat dia berhasil meraih gelar doktor ilmu kimia hanya dalam waktu 5 tahun (artinya: memiliki otak yang jenius), BUKAN saat dia memutuskan untuk kuliah di sebuah seminari yang prestisius di AS, TETAPI saat dia membaca Alkitab lengkap selama 40 kali saat dia dimasukkan ke dalam RS Jiwa karena dianggap gila oleh rekan-rekannya! Membaca Firman Tuhan adalah sebuah kunci rahasia sukses dari pencapaian visi gereja. Saat jemaat memiliki kegemaran membaca Firman Tuhan, disanalah karya besar Tuhan akan dinyatakan, dan berlaku pula sebaliknya...
Ini bukanlah berarti bahwa Tuhan menjadi tergantung pada manusia. Saya percaya bahwa karya Tuhan tetap besar dimana pun dan kapan pun. Namun karya besar itu akan lebih tampak dan terwujudkan oleh dan melalui orang-orang yang sungguh-sungguh mencari suara dan kehendak Tuhan. Itu sudah pasti!
Melalui kunci inilah sebetulnya kita dapat dengan mudah membedakan mana gereja yang bertumbuh dan gereja bonsai, mana gereja yang akan bertumbuh dan mana gereja yang akan mengalami stagnasi bahkan kemunduran. Itu semua ditentukan oleh bagaimana tingkat kegemaran umatnya untuk belajar Firman Tuhan dan berdoa. Gereja yang bertumbuh tidaklah dimulai dari rumusan visi atau program pelayanan yang hebat-hebat, TIDAK! Bahkan pelayanan yang terlalu hebat seringkali membuat umatnya lebih senang ber-aktivisme dan merasa cukup mendengar khotbah pendetanya ketimbang membaca Alkitab!
Loh, mendengar khotbah kan sama dengan mendengar Firman Tuhan kan?
Saya jawab: tidak! Mengapa? Karena khotbah hanya merupakan penguraian dari Firman Tuhan, bukan Firman Tuhan itu sendiri, yaitu Alkitab! Jadi mendengar banyak khotbah yang hebat-hebat dan menggugah - bahkan penuh kuasa/urapan - tidak akan pernah cukup tanpa pembacaan Alkitab secara langsung, tekun dan teratur. Langsung artinya: ya langsung baca Alkitabnya (bukan melalui buku-buku rohani yang sering 'menyunat' Firman Tuhan disana-sini untuk membenarkan tesisnya) , tekun artinya: baca tiap hari dan renungkan bagian-bagiannya siang dan malam, dan teratur artinya: berurutan dari Kejadian sampai dengan Wahyu, jangan loncat sana loncat sini. Dewasa ini ada begitu banyak khotbah di mimbar-mimbar gereja yang tidak menguraikan Firman Tuhan, namun malah menguraikan pikiran, pendapat, maupun filsafat pribadi si pengkhotbah! Indikatornya gampang, yaitu: berapa banyak khotbah itu berbicara tentang Kristus dan salib Kristus ketimbang berbicara tentang diri sendiri atau orang atau peristiwa tertentu. Hati-hati Saudara, saat khotbah tidak atau sedikit berbicara mengenai Kristus dan salib Kristus, bahkan berbicara tentang sesuatu yang bertolak belakang (misal tentang kesuksesan duniawi atau penyangkalan atas keselamatan yang hanya dimungkinkan melalui Kristus) maka khotbah itu bukanlah khotbah yang menguraikan Firman Tuhan, dan sudah pasti bukan Firman Tuhan itu sendiri! Itu hanyalah firman si pendeta yang ingin meruntuhkan kegemaran umatnya untuk membaca Firman Tuhan bahkan meruntuhkan kebenaran Firman Tuhan! Firman Tuhan adalah Alkitab, jemaat harus lebih gemar membaca Alkitab ketimbang mendengarkan khotbah, jangan terbalik!
Namun jangan salah mengerti juga, seolah-olah terkesan kalau membaca Alkitab di rumah saja sudah cukup, tidak perlu lagi mendengarkan khotbah di dalam Ibadah Minggu di gereja. Banyak saudara yang akhirnya berpandangan seperti itu, namun saya katakan bahwa pandangan itu pun keliru. Mengapa? Karena, pertama: sudah barang tentu bukan pandangan yang Alkitabiah (baca...), kedua: kita membutuhkan penguraian Firman Tuhan oleh mereka yang sudah belajar Firman Tuhan (yaitu para pendeta/teolog) agar kita tidak salah memahami Firman Tuhan! Keengganan untuk belajar dari orang lain, bahkan merasa dirinya sudah terlalu pintar untuk diajari, merupakan sebuah benih kebodohan yang bisa menuai penyesatan. Bagaimanapun juga kita membutuhkan perspektif dari ahlinya, yaitu para pendeta/teolog, yang tentu harus juga kita uji kompetensinya sebagai pendeta/teolog, agar jangan sampai kita digembalakan oleh 'serigala' bahkan 'iblis yang menyamar sebagai malaikat terang'!

Kedua, tentang pemakaian keempat kuadran CSS
Untuk hal ini saya tidak akan menjelaskan terlalu banyak lagi, namun perlu saya garis bawahi bahwa: apapun visinya, misi yang perlu dilakukan tidak akan jauh-jauh dari keempat kuadran tersebut. Perhatikan dan gunakanlah SEMUA kuadran, jangan sepotong-sepotong. Loh, masa visi beda misi harus sama? Bukan begitu, Saudara, pasti misi itu sifatnya customized, tergantung apa visinya. Bagaimanapun, visi memiliki jumlah pengunjung ibadah yang meningkat 2 kali lipat dalam 5 tahun  akan berbeda misinya dengan visi jemaat yang menyelesaikan pembacaan 66 kitab dalam Alkitab dalam setahun, dan jelas pasti berbeda misinya saat visinya adalah musik ibadah yang dibawakan secara orkestrasi penuh.
Ketiga contoh visi di atas pasti akan dicapai melalui misi yang berbeda-beda, namun melalui konsep CSS, kami percaya bahwa apapun visinya, misi tidak akan jauh-jauh dari ke-4 kuadran, yaitu: menyangkut Firman Tuhan, Doa, Kualitas Ibadah, dan Partisipasi Umat. Yang membedakan misi dari visi yang satu dan lainnya adalah: penekanannya! Diharapkan Saudara dapat menetapkan sendiri apa 'penekanannya' untuk visi gereja Saudara.

Untuk itu, marilah kita mulai membahas ke-4 Kuadran CSS satu demi satu.

CSS: Visi 2

Apa visi yang bisa saya buat?
Merumuskan visi merupakan pokok bahasan dari 'seminar satu hari' bahkan lebih! Saya berkali-kali mengikuti seminar dan training yang topiknya adalah: bagaimana cara merumuskan visi. Ada begitu banyak teknik dan metode yang dapat digunakan untuk merumuskan visi. Gereja saya saja merumuskan visinya setelah menjalani proses yang memakan waktu berbulan-bulan.
Lucunya, sekalipun sudah canggih membuat visi, dengan menggunakan bermacam-macam  metode dan melibatkan banyak orang, tetap saja visi seringkali berhenti sebagai pajangan yang sekedar membuat orang kagum sesaat, selebihnya... Ya nggak ada lebihnya lagi ketimbang sebuah kalimat bisu!
Karena itulah saya nggak mau bicara mengenai cara membuat visi, namun lebih kepada:  'apa yang bisa menjadi visi'.

Yang pertama, (tentu saja) hal-hal yang bersifat kualitatif maupun kuantitatif.
Contoh yang kualitatif: ibadah yang diminati oleh generasi muda, ibadah dengan liturgi yang fleksibel, atau ibadah yang membuat sorga turun ke bumi.
Sedangkan yang kuantitatif contohnyai: ibadah  yang setiap minggunya dihadiri oleh 1000 orang, atau ibadah yang melibatkan 20% dari umat sebagai pelayan ibadah, atau ibadah yang meningkat dari 3 kali pelaksanaan menjadi 5 kali.
Silakan saja buat sekreatif dan seluas mungkin. Yang penting visi itu berbicara mengenai sesuatu yang lebih berkembang/maju/baik di masa depan.
Namun ada sedikit saran dari para ahli pembuat visi, bahwa sebuah visi yang baik setidaknya memiliki 5 syarat, yaitu SMART:
1. Specific: fokus, terarah pada satu atau dua hal saja
2. Measurable: dapat diukur, bagi visi yang sifatnya kuantitatif jelas nggak ada problem (karena jelas ada angkanya), yang problem adalah visi yang kualitatif (misalnya seperti contoh di atas mengenai 'ibadah yang membuat sorga turun ke bumi'), musti ada penjelasan-penjelasan tambahan yang membuat visi itu lebih terukur, misalnya: musik dibuat 100% orkestrasi, atau ada Paduan Suara yang melayani setiap ibadah, dan lain sebagainya.
3. Attainable: boleh menantang, namun harus dapat dijangkau dengan mempertimbangkan sumber daya yang ada, yaitu: SDM (kemauan dan kemampuan umat) dan ketersediaan dana/fasilitas
4. Realistic: visi yang menantang dan dapat dijangkau juga perlu realistis, karena ada faktor x yang seringkali menjadi 'penghalang' seperti: budaya gereja setempat (misalnya: nggak mungkin gereja konservatif dibikin karismatik, atau sebaliknya), faktor kepemimpinan yang kaku atau sulit berubah, maupun kondisi lingkungan yang seringkali menjadi penghambat kegiatan gereja
5. Timebound: ada batasan waktu yang jelas, alias deadline, yang bisa di break ke dalam beberapa tahapan.

Yang kedua: visi seharusnyalah merepresentasikan context gereja setempat, yaitu: kondisi, problem/pergumulan, maupun cita-cita/harapan jemaat. Salah satu contoh perumusan visi yang baik adalah seperti yang dilakukan oleh gereja saya, yaitu GKI Nurdin, dimana perumusan visi dilakukan dengan sistem bottom-up, dimulai dari menjaring ide-ide dari umat, mengkristalkannya menjadi beberapa pilihan, lalu melemparkan pilihan-pilihan tersebut kembali ke umat untuk memilih satu visi yang paling cocok bagi mereka.
Cara bottom-up ini dapat menghasilkan sebuah rumusan visi yang baik apabila umat memang telah memiliki rasa concern dan self belonging yang relatif merata. Tetapi apabila kedua hal tersebut tidak ada atau hanya dimiliki oleh sebagian kecil dari umat (misal hanya dimiliki oleh para aktivisnya saja) maka niscaya proses bottom up itu hanyalah menjadi proses 3B: basa-basi bisu, yang akhirnya akan berhenti dalam sebuah statement visi bisu yang tidak visioner, bahkan tidak berdampak apa-apa terhadap kemajuan gereja.
Mungkin perlu kita memperhatikan cara Yohanes Calvin mengorganisasikan gerejanya di Jenewa yang kini dikenal sebagai presbiterial sinodal, dimana gereja memilih orang-orang pilihan untuk memimpin gereja, yaitu mereka yang memang concern dan dipercaya umat untuk memimpin gereja (yaitu para pendeta dan penatua). Ditangan merekalah seharusnya context gereja ditetapkan (jangan di open-pen kepada khalayak umat yang belum tentu concern dan berminat). Setelah beberapa pilihan visi terbentuk, bolehlah kini umat dilibatkan untuk memilih satu visi yang paling mendekati harapan umat (biasanya ditentukan melalui suara terbanyak).
Intinya, visi haruslah sesuai - atau paling tidak mendekati - context jemaat, sehingga visi tersebut mendapat dukungan umat dan memang benar-benar dapat menjadi arahan untuk masa depan gereja yang lebih baik.

Kamis, 25 Oktober 2012

CSS: Visi 1

Barusan saya katakan bahwa kotak tengah, alias visi, merupakan penentu jalannya CSS. Sebuah gereja yang well-formed peribadahannya mungkin sudah tidak memerlukan konsep macam-macam untuk memperbaikinya, wong sudah bagus! Atau sebuah gereja yang sudah nyaman dengan keadaannya sekarang, sekalipun sama sekali nggak mengenal bahkan mengalami ibadah yang sukses - jelaslah tidak membutuhkan CSS! Tapi bagi yang mau mengetahui CSS ini lebih lanjut, saya ingin sharing sedikit mengenai 3 hal:

Apa itu ibadah yang sukses
Dari awal saya sudah cukup banyak memakai kata 'sukses' yang terkait dengan ibadah. Mungkin sudah ada yang merasa terganggu dengan istilah itu, dan menduga bahwa saya sebenar-benarnya adalah penganut teologia kemakmuran (sekalipun bilangnya 'nggak'). Sekarang sudah tiba saatnya bagi saya untuk menjelaskan makna 'sukses' itu. Bagaimana pun juga, pengertian sukses bagi masing-masing orang berbeda-beda. Sukses menurut saya belum tentu sukses menurut Anda. Si A mungkin bilang bahwa sukses related dengan materi, sedang si B berpendapat bahwa sukses adalah memiliki rasa cukup: cukup makan, cukup mobil, cukup rumah, cukup deposito, cukup saham... (Itu sih sama saja!). Apapun pendapat kita mengenai sukses, satu hal yang sama adalah: sukses musti ada batasannya, dimana batasan inilah yang menentukan 'makna sukses'.
Lalu, apakah batasan dan makna sukses bagi sebuah ibadah yang dikatakan 'sukses'? Menurut saya, batasan dari sebuah ibadah yang sukses adalah: ibadah yang memiliki visi dan usaha untuk merealisasikannya. Visi bolehlah segala macam, usaha bolehlah segala cara. Tetapi saat sebuah jemaat berani membuat sebuah visi dan merumuskan usaha-usaha untuk mencapainya di dalam peribadahannya (sebagai main activity gereja), dan bukan hanya sekedar menjalankan kegiatan rutin mingguan, itulah ibadah yang sukses! Saya ingin berbagi inspirasi akan ibadah yang sukses melalui CSS, karena: kotak tengah CSS adalah visi, sedang ke-4 kotak CSS disekitarnya adalah usaha. Ibadah yang memiliki visi adalah ibadah yang sudah 50% sukses, dan ibadah yang diusahakan untuk mencapai visi adalah ibadah yang 100% sukses, tidak peduli apakah visi itu tercapai atau tidak, yang penting sudah berusaha! Loh kok begitu? Kalau visi nggak tercapai artinya gagal dong! Di gereja tidak seperti itu, Saudara. Dalam perusahaan sekular bolehlah kita berpandangan seperti itu, namun di gereja berlaku rumusan: manusia menanam (visi) + manusia menyiram (usaha) + Allah memberi pertumbuhan (perkenanNya) = gereja yang sukses (baca: Kor...)
Masalahnya sekarang adalah: siapa yang paling berkompeten membuat visi ibadah, dan seperti apa?

Siapa yang membuat visi?
Masalah 'menetapkan visi' menjadi sebuah masalah besar dalam pembuatan visi, masalah 'menjual visi' merupakan masalah yang jauh lebih besar lagi, sedangkan masalah 'siapa yang seharusnya membuat visi' adalah masalah yang terbesar. Saya bisa membuat 3 buku yang tebal-tebal untuk membahas ketiga hal tersebut, namun dengan jawaban yang tetap 'nggantung'. Mengapa? Karena jawaban dari ketiga pertanyaan 'berat' itu adalah diri kita sendiri, yaitu: seberapa besar kita memiliki self belonging atau rasa memiliki terhadap gereja kita. Dan masalah 'rasa memiliki' ini jelaslah berhubungan dengan masalah 'hati' yang seringkali sulit untuk 'diubahkan' atau 'ditransformasikan', bahkan cenderung fleksibel tergantung waktu dan kondisi. Begitu cepatnya hati seseorang berubah dari 'strong engaged' menjadi 'extremely dis-engaged' karena masalah-masalah yang begitu simpel dan terkadang kekanak-kanakan, seperti karena terlewat disebut namanya dalam doa syafaat atau karena tidak disalami oleh pendeta. Betul?
Masalah 'rasa memiliki' ini jelaslah memerlukan pembahasan lebih lanjut di bagian lain, namun untuk sementara ini cukuplah kita memahami bahwa seorang yang memiliki 'rasa memiliki' akan sangat mudah untuk memikirkan hal-hal yang perlu ditingkatkan dalam pelayanan gereja (baca: merumuskan visi). Sebaliknya seorang yang tidak punya 'rasa memiliki' maka berkecenderungan berperilaku sebagai 'nasabah' ketimbang sebagai 'stakeholder'. Apakah itu? Pengertian gampangnya: nasabah adalah pembeli, sedangkan stakeholder adalah pemilik. Dari pengamatan saya, saat ini begitu banyak gereja yang mayoritas dihadiri oleh 'nasabah' ketimbang 'stakeholder', entah gereja yang dihadiri puluhan orang maupun yang dihadiri oleh puluhan ribu orang! Memang lebih enak menjadi 'nasabah' (pastilah ini menunjukkan 'rasa memiliki' yang rendah) ketimbang menjadi 'stakeholder' gereja, sehingga umat berkecenderungan menjadi pasif dan taste-seeker. Istilahnya 6D: datang, duduk, diem, dengar, duit (beri persembahan), datang lagi (kalau dapat sesuatu); dan ditambah 1P: pindah ke gereja lain, kalau keinginan dan harapan kita tidak terpenuhi (alias kalau nggak dapat sesuatu dari gereja tersebut). Menyedihkan sekali kalau bergereja kita itu nggak lebih dari 6D+1P itu! Anda bukan nasabah yang kulturnya 6D+1P itu! Anda adalah stakeholder, pemilik bahkan bagian dari Tubuh Kristus!
Sebagai sama-sama Tubuh Kristus, seharusnyalah kita semua terpanggil untuk mengupayakan tercapainya sebuah tubuh yang sehat dan dapat berfungsi dengan baik, bukannya malah lari ke tempat lain yang dianggap lebih sehat, lebih 'memberi sesuatu', bahkan lebih 'dekat ke sorga'! Cuma ya itu: bagaimana menumbuhkan rasa memiliki, menyadarkan umat akan keberadaan dirinya sebagai bagian dari Tubuh Kristus, ini yang sulit! Namun, tetap ada way out nya (ini bocoran edisi Busa berikut-berikutnya): rasa memiliki TIDAK dapat dibangun melalui musik yang bagus, khotbah yang menyihir, atau oleh seorang pendeta besar yang setengah dewa sekalipun! Kalau pun bisa dibangun melalui hal-hal itu, Itu bersifat short term! Begitu musiknya jadi kurang nggigit, khotbah gereja tetangga lebih ampuh dan memikat, maupun pendeta besar itu pergi atau meninggal, maka bangunan rasa memiliki itu akan rubuh pelan-pelan! Yang betul adalah: rasa memiliki dibangun secara permanen melalui:
1. Keteladanan berjenjang, dan
2. Edifikasi
Sementara terima dulu ya, nanti ada kesempatannya hal ini dibahas secara lebih mendalam. Jadi, visi dapat dibuat oleh siapa saja, nggak selalu oleh para rohaniawan yang seringkali malah lebih menikmati status aman ketimbang membuat terobosan-terobosan baru yang selalu berisiko gagal.
Alkitab sendiri mencatat betapa banyak 'orang awam' yang membuat terobosan-terobosan dalam kehidupan spiritualitas:
  • Tuhan Yesus sendiri bukanlah berasal dari golongan imam atau nabi, Dia dibesarkan oleh keluarga pengusaha kayu, yang dalam keberadaanNya sekaligus sebagai Anak Allah membuat revolusi paling dahsyat dalam cara umat manusia beriman
  • Murid-murid Yesus juga sebagian besar berasal dari kalangan sekular, namun mereka mampu mendirikan sebuah organisasi spiritualitas yang akhirnya menjadi organisasi terbesar di dunia yang bernama gereja. 
  • Bapak gereja seperti Agustinus dan Yohanes Calvin juga bukanlah berasal dari kalangan rohaniawan, namun mereka mampu memberi warna kekristenan yang terus menjadi pegangan gereja masa kini. 
  • Bahkan cikal bakal GKI Jawa Barat pun bukanlah berasal dari penginjilan para rohaniawan Kristen, namun dari pertobatan seorang Ang Boeng Swi yang akhirnya membuahkan sebuah sinode wilayah yang besar dalam percaturan gereja-gereja di Indonesia. 
Anda pun sangat mungkin untuk memberi warna bagi kehidupan bergereja di tempat Anda! Masalahnya: apakah Anda punya rasa memiliki terhadap gereja Anda, sehingga Anda bisa:
  • bertahan di gereja Anda sekalipun teman-teman Anda yang lain 'lari' ke tempat lain yang tampak luarnya lebih 'hijau', 'segar', dan 'basah'? 
  • memikirkan apa yang bisa Anda lakukan untuk memperbaiki kinerja gereja Anda, baik secara kualitas maupun kuantitas? 
  • membuat komitmen pribadi untuk melakukan sesuatu yang bisa Anda lakukan sendiri, dan bukannya mengharapkan orang lain yang melakukan? 
  • menahan mulut untuk menanyakan 'why', dan membuka mulut lebar-lebar untuk menanyakan 'how can I ...'

CSS: Pengantar tentang CSS

Keren ya namanya: Church Success Square, disingkat CSS. Ini bukanlah topik tentang gereja sukses seperti yang dianut oleh para guru sukses ataupun teolog/pengkhotbah kemakmuran. Dijauhkanlah saya dari memegang teologi yang Tidak-Alkitabiah seperti itu!! (Mengapa saya 'hakimi' sebagai 'Tidak-Alkitabiah? Mudah-mudahan di Busa yang lain saya akan membahasnya, nggak sekarang) CSS adalah sebuah konsep bergereja yang terutama ditujukan untuk meng-streamline peribadahan agar dapat lebih 'sukses' dalam pelaksanaannya. Supaya dapat lebih jelas, Saya ingin menjelaskan 2 background munculnya konsep CSS ini:

Pertama: Saat Busa ini ditulis, saya sedang dipercaya Tuhan untuk menjabat sebagai penatua dan Ketua Bidang Kebaktian di sebuah GKI di Jakarta. Sebagai Ketua Bidang Kebaktian, saya merasa prihatin dengan kondisi kebaktian di gereja saya yang terus mengalami kemerosotan jumlah pengunjung ibadah dalam 10 tahun terakhir. Dulu, rata-rata pengunjung kebaktian adalah 800 orang, sekarang tinggal separuhnya... Berbagai cara sudah diupayakan untuk mem-blok penurunan itu dan membalikkan tren-nya, mulai dari memanggil konsultan yaitu pendeta dari gereja seazas yang kami anggap lebih maju, mendatangkan pendeta-pendeta dari luar GKI yang konon khotbahnya lebih menarik dan berisi (ternyata nggak juga sih), menciptakan suasana ibadah yang lebih inspiratif melalui musik, ushering, maupun multimedia yang makin berkualitas... Nggak berhasil juga! Sehingga akhirnya Tuhan memberi petunjuk kepada saya untuk menggarap 4 sektor peribadatan yang saya beri label CSS ini. Apakah CSS telah terbukti menjadi 'obat manjur' bagi 'penyakit' gereja saya, yang mungkin dapat menyembuhkan 'penyakit' gereja Anda juga? Jawabnya: mari bersama-sama kita buktikan, karena memang belum pernah dibuktikan kesaktiannya! Buka rahasia saja, saat saya menulis pengantar CSS ini, saya baru sebulan menemukan, memikirkan, dan memformulasikan konsep ini. Tapi, saya punya keyakinan bahwa CSS ini merupakan sebuah jawaban, lebih bagus ketimbang hanya sekedar mengeluh, bertanya, bahkan menyerah atau apatis.

Kedua Sejak peluncuran buku saya yang pertama mengenai 'Tiga Dimensi Keesaan dalam Pembangunan Jemaat' yang mengerucut pada konsep ACHIEVE (Active - Contemplative Worship, Healing - Inspiring Ministry, Ecclesial Reforming, Value-Added Life, dan Encounter with God) ), muncul sebuah pertanyaan besar: bagaimana cara menerapkannya? Ada sebuah missing link antara teori itu dengan daya aplikatifnya yang secara mudah dan masuk akal dapat diterapkan. Selain itu memang diperlukan adanya sebuah program pendahuluan untuk menciptakan sebuah landasan awal bagi bangunan Pembangunan Jemaat (PJ) yang dicita-citakan. Bagaimanapun juga, ada beberapa persyaratan yang perlu dipenuhi terlebih dahulu sebelum PJ dapat dipahami sebagai sebuah 'kebutuhan bersama'. Istilahnya: UPSA (untungnya buat saya apa) atau UPKA (untungnya buat kita apa). PJ sebagai sebuah teori yang muncul di lingkungan sosiolog sebagai wujud keprihatinan akan kemerosotan gereja di Barat, memang belum mampu mendongkrak kehidupan bergereja yang lebih bergairah di sana. Hal yang sama jangan sampai terjadi dengan wacana PJ di gereja-gereja Indonesia: sekedar menjadi barang antik, alias pajangan, yang nggak terlalu dibutuhkan, atau - lebih parahnya - hanya sekedar pilihan mata kuliah di seminari untuk sekedar menambah poin kelulusan bagi seorang mahasiswa teologi! Saya menyusun CSS bukan untuk menjadi sebuah barang antik, namun untuk menjadi sebuah pembuka jalan bagi PJ yang penting dan perlu bagi kehidupan bergereja yang sehat dan berguna (dalam bahasa standarnya: vital dan menarik).

Pertanyaannya: apakah CSS sebagai sebuah konsep peribadahan memang berkapasitas dan berkompeten sebagai pembuka jalan - bahkan penyusun landasan - bagi PJ yang cakupannya luas sekali? Di gereja saya, bahkan urusan ibadah dan PJ diurusi oleh dua bidang pelayanan yang berbeda. Jawabnya: bisa dan memang PJ harus dimulai dari peribadahan! Mengapa? Karena jemaat yang ber-PJ adalah jemaat yang (tentunya) beribadah, betul? Bagaimanapun juga, alasan pertama kita datang ke gereja adalah karena ingin beribadah. Dari ibadah inilah jemaat dapat diarahkan untuk naik level ke tingkat spiritualitas berikutnya, yaitu PJ, dimana didalamnya terkandung unsur: hidup ibadah yang holistik (tidak hanya ibadah liturgis belaka), pelayanan kepada sesama, rasa memiliki untuk turut mengembangkan gereja, hingga akhirnya secara personal dan bersama menjadi saksi melalui hidup yang bernilai tambah dan yang 'mengalami Tuhan'. Itulah sebabnya CSS memang related dengan PJ, karena melalui peribadahan yang 'sukses' maka PJ yang membuat gereja menjadi 'sehat' dan 'berguna' adalah sebuah keniscayaan. Semoga terwujud yang demikian!

CSS: Pengantar tentang BUSA

Konon sabun yang busanya banyak nggak selalu berkorelasi positif dengan daya bersihnya. Memang demikian halnya, karena busa hanyalah alat bantu alias pelicin agar proses menyuci dapat lebih mudah dilakukan. Daya bersih mutlak ditentukan oleh zat aktif pembersih yang terkandung di dalam sabun tersebut. Buku ini adalah BUSA, yaitu Buku Saku. Mengapa saya membuat Busa? Ada 3 alasan: Pertama: karena buku ini memang hanya menjadi alat bantu bagi kita semua dalam memahami secara lebih mudah beberapa aspek bergereja. 'Zat aktif' nya yang menjadi core keberfungsian gereja dapat Anda temukan di Alkitab maupun buku-buku paten yang membahas masalah bergereja. Kedua: karena sudah seharusnyalah konsep-konsep besar dikemas dalam bentuk yang sederhana, dan bukan sebaliknya: konsep kosong dikemas secara bombastis. Saya banyak belajar tentang 'mengemas secara sederhana' agar yang besar menjadi enteng untuk di 'kunyah' Ketiga: ini betulnya klise, yaitu masalah keterbatasan waktu dan dana untuk menulis. Sejak saya meluncurkan buku saya yang pertama di tahun 2008 yang lalu, saya ingin sekali menerbitkan buku lagi. Tapi... Kesibukan membuat pemikiran2 tak tersalurkan dan lenyap begitu saja... Sayang sekali. Karena itulah saya memutuskan untuk membuat busa, yang simpel, ringkas, dan 2M: murah dan mudah pembuatannya. Nggak perlu skill khusus, waktu khusus, atau bahkan marketing khusus untuk mewujudkannya. Bahkan saya tidak terlalu dipusingkan dengan masalah pajak, royalti, stok buku yang menumpuk, atau bahkan keinginan untuk melakukan cetak ulang. Bebas saja, bahkan saya bisa membagikannya secara gratis apa yang sudah Tuhan berikan secara gratis juga di dalam pikiran saya, sehingga setiap busa pasti ada edisi on-line nya, yang bisa diakses secara gratis dalam blog pribadi saya: ... Supaya jangan jadi makin berbusa-busa, saya persilakan Anda untuk lanjut ke bagian selanjutnya... Jakarta, 29 Mei 2012 Tepat 2 bulan sejak kembalinya ibunda tercinta ke Rumah Sejati di Sorga

Kamis, 09 Desember 2010

2 Prinsip Bergereja - Part 3

Prinsip bergereja yang kedua adalah: 'relevan dengan kebutuhan hidup kita'. Prinsip ini lebih bersifat praktis ketimbang prinsip pertama (yang lebih filosofis), dan sebetulnya prinsip inilah yang menjadi wujud yang kelihatan dari bergereja.
Bagaimana bergereja Anda?
Bergereja yang benar seharusnya mempunyai 2 sisi: memberi dan menerima.
Bergereja yang hanya memberi seringkali membuat kita  terjebak pada 'sekedar melaksanakan tugas', sedangkan bergereja yang hanya menerima (bahkan menuntut) seringkali membuat kita kehilangan 'rasa bersyukur', ya 'musti kudu begini-begitu'.
Bergereja musti memberi dan menerima, ada kesediaan untuk berdinamika, nggak hanya mengikuti suatu pattern tertentu.
Kristen di Barat agaknya sudah merasa cukup bergereja dengan: membayar pajak (yaitu membantu orang lain), kerja jujur, tidak korupsi, tidak mengganggu atau mencampuri urusan orang lain. Mereka lupa bahwa bergereja juga berbicara mengenai pemenuhan kebutuhan-kebutuhan mereka, seperti: teman bicara, perhatian, jawaban, hingga pemuasan hidup spiritualitas.
Di Indonesia keadaannya mungkin masih lebih baik. Orang masih senang bergereja, mungkin karena kehidupan kita disini masih bak 'di neraka dunia', nggak seperti di Barat yang semuanya serba baik, tertata dan terkelola dengan baik - bak di sorga dunia, tapi (sayangnya) tanpa Tuhan....
Namun harus kita perhatikan bahwa bergereja di Indonesia juga perlu dilakukan dengan memperhatikan relevansinya dengan kebutuhan hidup sehari-hari. Bergereja bukan sekedar pelarian (seperti narkoba yang membuat kita terlupa sesaat dari beban hidup kita), namun betul-betul menjadi sebuah oase di tengah padang gurun yang mampu memuaskan dahaga kita.
Apakah kebutuhan hidup kita dan masyarakat disekitar kita? Dapatkah bergereja kita memberi solusi atas kebutuhan-kebutuhan itu?
Saya pikir bergereja yang relevan dengan kebutuhan-kebutuhan manusia merupakan bergereja yang ideal, sekaligus menjadi sebuah jaminan bahwa gereja tetap dibutuhkan dan tidak ditinggalkan umatnya, bahkan masyarakat.
Sudahkah Anda bergereja yang relevan, baik bagi kehidupan Anda maupun bagi kebutuhan hidup kita (anda, saya, dan mereka)?

Salam berdaya!

2 Prinsip Bergereja - Part 2

Prinsip bergereja yang pertama adalah: 'relevan dengan kehidupan kita'.
Siapa bilang kalau bergereja sudah nggak relevan lagi untuk masa kini? Di Barat, gereja-gereja tradisional kini hanya dihuni oleh para lansia, sementara kaum mudanya lebih suka sesuatu yang lebih cocok dengan minat atau hobinya, yaitu nonton pertandingan bola. Jelas ini kekeliruan besar, karena seharusnya bergereja dan hidup sehari-hari saling berhubungan erat, sehingga saat salah satu ditinggalkan maka sebetulnya kita tengah mengalami kehidupan yang kurang sempurna, bahkan bisa membuat berkat-berkat Tuhan terhalang.
Saya yakin pemahaman ini sulit untuk diterima, namun setelah saya membaca Kitab Hagai 1:6-9, saya baru sadar bahwa keduanya (bergereja dan hidup sehari-hari) ternyata memang memiliki kaitan yang erat.
Bergereja pada hakikatnya adalah pembangunan Rumah Allah, dan Nabi Hagai jauh-jauh hari telah memperingatkan kita bahwa mengabaikan bergereja akan menimbulkan terhalangnya berkat-berkat Tuhan. Saat ini banyak orang malas bergereja karena sibuk mencari uang. Mengherankannya, begitu banyak orang yang sudah sibuk mencari uang (sampai-sampai nggak punya waktu untuk bergereja) namun kehidupannya ya begitu-begitu saja. Memang itulah akibatnya kalau bergereja kita abaikan!
Dengan jelas Tuhan menyuruh kita untuk: (1) naik ke atas gunung, (2) bawa kayu, dan (3) bangunlah Rumah itu. Ketiga hal ini akan saya ulas dalam bagian lain, tapi cukuplah saya sampaikan bahwa bergereja harusnya selalu relevan dengan kehidupan kita sehari-hari, karena melalui bergerejalah maka kehidupan kita bisa mengalami kebermaknaan, optimalisasi,  dan berkat Tuhan yang sejati.

2 Prinsip Bergereja - Part 1

Di sela2 meeting kantor saya beberapa tahun yl, panitia ternyata  telah menyisipkan sebuah acara training motivasi yang dibawakan oleh seorang motivator yang cukup terkenal. Saya nggak ingat keseluruhan materi training motivasi tsb, namun saya ingat satu poin yang saat ini ingin saya bagikan kepada Anda, yaitu tentang 'pengalaman'.
Penjelasan simpelnya begini:
Starbuck jual kopi, kedai warkop Bang Amin juga jual kopi.
Namun kedua penjual itu menjual kopi dengan cara yang berbeda: Warkop Bang Amin menjual kopi thok, sedang Starbuck menjual 'ngopi' alias pengalaman minum kopi (dan itu menjadi salah satu faktor yang membedakan Starbuck dengan Warkop Bang Amin)
Insight sederhana itu kini coba saya tarik ke ranah gereja.
Tentu saja gereja nggak bisa disamakan dengan kopi, sehingga kita nggak bisa menjual gereja seperti org menjual kopi. Bukan masalah jual-menjual, namun masalah 'pengalaman' yang menjadi sebuah nilai tambah bagi barang asalnya. 'Ngopi' merupakan 'pengalaman' yang menjadi nilai tambah bagi 'kopi', begitu pula 'Bergereja' merupakan 'pengalaman' yang menjadi nilai tambah dari 'gereja'.
Anda dpt menangkap maksud saya?
Saya di awal sekali telah memperkenalkan 'bergereja' sebagai istilah lokal dari ' ministry'. Mungkin bukan terjemahan yang terlalu baik, namun spiritnya adalah: ministry atau bergereja seharusnya merupakan aspek pengalaman dalam gereja yang membuat gereja memiliki nilai tambah. Dalam bahasa Pembangunan Jemaat: menjadi jemaat yang vital dan menarik.
Berangkat dari pemahaman inilah saya memperkenalkan 'dua prinsip bergereja', yaitu:
1. relevan dan
2. relevan