Tampilkan postingan dengan label Warrior of God. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Warrior of God. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 30 Maret 2013

Satu tahun berpulangnya Mama Rebecca Kusuma ke Surga


Bagian ini didedikasikan untuk kekasih kita, para Pahlawan Allah, yang telah menang dan menunjukkan keteladanan iman yang memberi kesan yang mendalam; tidak hanya berbicara mengenai mereka yang sudah kembali ke Rumah Sejati, namun juga menjadi sharing kita yang masih tinggal dalam kefanaan dan bergumul dengan misteri kehidupan yang bernama: kehilangan. Kiranya kolom ini menjadi sarana untuk saling berbagi, dan silakan mengirimkan kesaksian Anda (teks dan foto) ke alamat email kami: militiachristi2010@gmail.com

Bidston Pengucapan Syukur
Ampera, 29 Maret 2013

Dipimpin: Sdr Pramudya (GKI Kuningan)





















Kamis, 28 Maret 2013

His Preaching Angel and My Loving Dad


Bagian ini didedikasikan untuk kekasih kita, para Pahlawan Allah, yang telah menang dan menunjukkan keteladanan iman yang memberi kesan yang mendalam; tidak hanya berbicara mengenai mereka yang sudah kembali ke Rumah Sejati, namun juga menjadi sharing kita yang masih tinggal dalam kefanaan dan bergumul dengan misteri kehidupan yang bernama: kehilangan. Kiranya kolom ini menjadi sarana untuk saling berbagi, dan silakan mengirimkan kesaksian Anda (teks dan foto) ke alamat email kami: militiachristi2010@gmail.com


DEDDY S HARYONO
Lahir: Cirebon, 12 Agustus 1946 
Wafat: Jakarta, 21 Oktober 2001

Pelayanan:
  • 10 Feb. 1973: Mulai melayani di GKI Serang
  • 12 Agst. 1973: Diteguhkan sebagai Penatua Khusus
  • 16 Juli 1974: Ditahbiskan sebagai Pendeta di GKI Serang
  • 1975 – 1982: Ketua Badan Kerjasama Kristen Katolik di Serang
  • 1975 - 1977: Menjadi Pendeta Konsulen di GKI Mero dan GKI
    Bandar Lampung
  • 1982 - 1983: Menjadi Pendeta Konsulen di GKI Bandar Lampung
  • 25 Juli 1983: Diteguhkan sebagai Pendeta di GKI Mangga Besar
  • 1983 – 1985: Guru Agama Kristen di SMP SMA Mangga Besar
  • 15 Januari 1991: Mulai bertugas di Jemaat GKI Nurdin
  • 13 Agustus 1991: Diteguhkan sebagai Pendeta di GKI Nurdin

Minggu, tanggal 21 Oktober 2001 adalah hari yang tidak akan pernah terlupa olehku karena hari itu merupakan hari perpisahanku secara jasmani untuk selama-lamanya dengan papaku yang aku kasihi. Ia pergi begitu mendadak, namun secara keseluruhan proses kepergiannya terlihat indah. Ia tidak tersiksa oleh sakit yang berkepanjangan, ia pergi di hari minggu, sepulang dari gereja, di puncak pelayanannya, dan aku pikir…ia adalah pahlawan Tuhan yang setia sampai akhir hayatnya.  Di detik-detik terakhir hidupnya, perkataan yang keluar pun masih berkisar tentang pelayanannya. 

Dua minggu terakhir sebelum kepergiannya, aku bersama papa terlibat aktif dalam persiapan dan pelaksanaan Panitia Retret Jemaat. Dalam retretpun aku banyak mendampingi papa karena ia terlihat kurang fit. Sebab sebelumnya, memang sudah banyak pelayanan yang beliau lakukan dan jalani tanpa pernah mengeluh. Tidak kecil pula tantangan dan kesulitan yang ia hadapi dalam pelayanannya, namun ia tetap berpegang teguh bahwa Tuhan yang akan menguatkannya. Tidak sedikit pula masalah pribadi dan keluarga yang timbul, namun beliau pasrah bahwa Tuhan akan  buka jalan dan memberikan yang terbaik. Di tengah-tengah banyaknya pergumulan yang dihadapinya, papa masih cukup memperhatikan orang lain, baik kepada anggota keluarga  maupun jemaat.   

Saat itu, aku seperti bermimpi, papa meninggal di tanganku. Jam 5 pagi, aku dan papa masih sempat nonton berita di TV sambil bercakap-cakap tentang pelayanan beliau pada hari minggu itu. Ia pergi ke gereja sendiri dengan berjalan kaki. Jam 8 lewat, ia pulang diantar mobil gereja dalam kondisi yang lemas. Ia berkata “badannya lemes sekali, tolong buatkan teh hangat manis.” Di kamar, aku membuka kemeja, dasi, dan ikat pinggang agar papa dapat bernafas dengan lebih lega. Aku tanya “Pa, ada yang dirasakan?”. Jawabnya : “Dadanya sesak sekali, sakiiiit!”. Aku langsung berpikir : jangan-jangan papa kena serangan jantung lagi. Lalu aku ingat untuk segera memberikan obat yang harus ditaruh dibawah lidah sebagai pertolongan pertama. Beliau tampak sedikit tenang, tidak mengeluh…. Tak lama kemudian ia minta oksigen, aku memberikan tabung oksigen kecil dan ia mampu menyemprotkan oksigen sendiri. Setelah itu, kondisinya terlihat agak tenang, aku berada di sampingnya sambil memegang tangannya dan aku sudah meneteskan air mata….entah kenapa? Kemudian, papa ingin membalikkan tubuhnya ke kiri, sambil meminta oksigen kembali. Aku memberikannya namun ia tidak bisa menyemprotkan oksigen sendiri karena kondisinya yang amat lemah. Aku membantu memberikan oksigen sambil berkata :“Pa, tarik nafas pelan-pelan pa. Pa, tarik nafas pa……tapi tak lama kemudian, ia menarik nafas panjang…..dan berhenti bernafas… mukanya membiru, dan tubuhnya tergeletak lemas di kasur.

Mama, aku, dan adik-adik berteriak…..’papa jangan pergi…………, papa jangan pergi.’ Air mata mengalir deras tanpa bisa dibendung. Setelah itu, aku tidak berani lagi untuk melihat papa….. aku meninggalkan kamar papa dan aku masih berharap kalau papa hanya pingsan, meskipun aku sudah tahu bahwa tidak ada nadi lagi yang berdenyut di tubuhnya.

Lalu aku masuk ke kamarku dan berdoa “Tuhan, mengapa papa diambil sekarang?” Kenapa Tuhan? Kenapa? Apakah Tuhan tidak mengerti bahwa saya masih membutuhkan papa dan ingin bisa membahagiakan papa? Aku tidak tahu apa maksud Tuhan, tapi aku minta Engkau yang memberi aku kekuatan untuk menghadapi dan menerima kenyataan ini. Tolong Tuhan……… tolong kuatkan aku.

Setelah aku lebih mampu mengendalikan diri, aku keluar kamar dan mendampingi adikku yang juga amat terpukul hingga ia histeris. Jenazah papa dibawa ke RS Sumber Waras. Sejam kemudian aku ke sana bersama adik perempuanku. Aku memberanikan diri masuk ke kamar jenazah….aku melihat wajah papa begitu tenang dan damai. Aku menangis dan memeluknya…sambil berkata dalam hati  : “Pa, selamat jalan. Pergilah dengan tenang. Kelak kita akan berkumpul kembali dalam sukacita di rumah Bapa.” Aku keluar dari kamar jenazah dengan perasaan yang amat menyakitkan,   sekaligus…… ada juga keyakinan bahwa papaku kini telah bahagia dan terbebas dari segala penderitaan, dan ia sudah layak untuk menerima itu.

Puncak dari proses perkabungan yang kurasa akan sulit untuk dihadapi adalah ketika kebaktian tutup peti karena saat itulah…saat terakhir kali aku dapat melihat tubuh jasmani papaku. Air mata yang keluar, kuyakini bukan berarti aku tidak beriman. Air mata bagiku adalah hal yang wajar sebagai akibat dari rasa sedih yang aku rasakan karena kehilangan papa.

Ternyata hari-hari terasa  lebih berat setelah segala proses/upacara perkabungan usai. Tinggal di rumah adalah waktu-waktu yang amat menyakitkan. Melihat ruang kerjanya, kamarnya, barang-barang dan buku-buku miliknya, dapat membuat air mata mengalir begitu saja. Foto keluarga yang ada di dinding pun membuat rasa kehilangan itu makin terasa.  

Aku sungguh tidak tahu pada waktu itu harus berbuat apa untuk mengatasi rasa duka ini. Satu hal yang kutahu yaitu jika aku merasa sedih, aku akan menangis yang kupikir sebagai cara untuk mengekspresikan kesedihan itu. Biasanya setelah menangis, ada kelegaan.

Perasaan duka masih terus terasa, namun kehidupanku  harus terus berjalan. Aku berusaha untuk memfokuskan diri pada tugas-tugas studiku yang sempat tertinggal karena aku tidak masuk selama beberapa hari. Namun aku mengalami kesulitan untuk berkonsentrasi. Tugas-tugas yang begitu banyak membuat aku putus asa kalau-kalau aku dapat menyelesaikan studiku yang tinggal sedikit lagi.  

Suatu malam yang menyakitkan timbul kembali yaitu pada malam natal dan malam tahun baru dimana biasanya, kami sekeluarga ke gereja bersama dan mengadakan doa malam bersama di akhir tahun. Namun tahun ini, keadaan sudah berubah dan aku masih dalam proses menyesuaikan diri dengan keadaan yang baru ini. Pada malam hari-hari tersebut, aku di kamar menangis, berdoa, dan menulis surat atau ungkapan hatiku kepada papa. Itu membuat aku lega.

Satu hal yang membuat ku bahagia adalah pada tanggal 19 Februari 2002, aku dinyatakan lulus. Di samping rasa bahagia tersebut, ada pula rasa sedih karena papa ku tidak sempat melihat anaknya berhasil meraih cita. Setelah studiku selesai, hal yang harus kupikirkan adalah mengenai pekerjaan dan mencari tempat tinggal. Hal-hal tersebut membuatku semakin tertekan. Air mata banyak mengalir di malam hari ketika aku merasa tidak yakin akan mampu menjalani kehidupan selanjutnya, terutama pada saat anak-anak papa belum benar-benar bisa mandiri secara ekonomi.

Saat-saat itu…saat yang tidak mudah untuk dilalui….aku seringkali rindu papa, ingin sekali bisa cepat berkumpul kembali dengannya, bahkan ada rasa putus asa dan ingin segera bersatu dengan papa di surga. Aku menemui kesulitan mendapatkan seorang teman untuk saling berbagi, saling menguatkan, saling mendukung, saling mendoakan. Aku takut untuk terbuka kepada orang lain karena….. ungkapan-ungkapan atau pemikiran-pemikiran logis yang dilontarkan orang terhadap rasa duka dan pergumulan yang aku hadapi….acapkali membuat aku merasa tidak dimengerti dan lemah iman.  Padahal ketika aku sharing….. yang aku butuhkan hanyalah sepasang telinga yang bersedia untuk mendengar…… 

Kini, pergumulan demi pergumulan terjawab…..datang dan pergi……, bergumul kembali atas hal-hal yang lain. Makin hari makin kurasakan kasih Tuhan. Sampai detik ini, kami sekeluarga tidak terlantar dan aku imani itu karena Tuhan yang memelihara hidup kami sekeluarga. Ya memang benar…Sumber Daya Manusia Sumber itu terbatas, sedangkan Sumber Daya Tuhan tidak terbatas………..Duka yang ada kuyakin pasti akan sirna.

Banyak perkara yang tak dapat kumengerti
Mengapakah harus terjadi di dalam kehidupan ini?
Satu hal kuyakin dan kusimpan dalam hati
Tiada sesuatu kan terjadi tanpa Allah Peduli

Allah mengerti, Allah peduli,
Segala persoalan yang aku hadapi.
Tak akan pernah dibiarkanNya
Ku bergumul sendiri, sebab Allah peduli.
Di bukaNya jalanku sebab Allah mengerti.

- Yanthi AH, April 2002 -

Minggu, 09 Desember 2012

Pohon Natal tanpa Lampu Natal

Bagian ini didedikasikan untuk kekasih kita, para Pahlawan Allah, yang telah menang dan menunjukkan keteladanan iman yang memberi kesan yang mendalam; tidak hanya berbicara mengenai mereka yang sudah kembali ke Rumah Sejati, namun juga menjadi sharing kita yang masih tinggal dalam kefanaan dan bergumul dengan misteri kehidupan yang bernama: kehilangan. Kiranya kolom ini menjadi sarana untuk saling berbagi, dan silakan mengirimkan kesaksian Anda (teks dan foto) ke alamat email kami: militiachristi2010@gmail.com 


 A Christmas Tree without Light
(Sebuah perziarahan dalam mencari makna kehidupan dan kematian)

Tentu kita semua sudah tahu tentang 7 hari penciptaan seperti yang terdapat dalam Kitab Kejadian.

Hari pertama Tuhan menciptakan terang. Terang itu bukanlah sembarang terang, karena terang itu ada TANPA adanya benda penerang (karena benda-benda penerang baru tercipta pada hari ke-4), bahkan terang itu sanggup mendukung kehidupan tumbuh-tumbuhan (yang sudah tercipta lebih dahulu, yaitu pada hari ke-3). Saya pernah membaca tulisan seorang skeptik tentang hal ini, yaitu: bagaimana mungkin tumbuh-tumbuhan tercipta lebih dahulu ketimbang benda penerang? Ya mati dong... Dia lupa bahwa di hari pertama  sudah ada terang. Kalau sekarang ini manusia sudah bisa menciptakan terang matahari buatan yang sanggup menumbuhkan tanaman, apalagi Tuhan - Sang Pencipta - Ia pasti sanggup menciptakan terang yang bukan berasal dari benda-benda penerang seperti yang manusia kenal saat ini yang sanggup menumbuhkan tanaman! Terang itu adalah Terang Ilahi, Divine Light, yang menjadi sebuah awal dari terciptanya alam semesta dan segenap penghuni bumi. Terserahlah orang mau menghubungkannya dengan teori Big Bang-nya Hawking, bagi saya Terang itu merupakan sebuah terobosan yang Tuhan lakukan untuk membuat dari yang kacau dan gelap itu menjadi sesuatu keberadaan yang 'sungguh amat baik', yakni segenap ciptaanNya (Kej 1:31).

Setelah 7 hari penciptaan selesai, Tuhan melanjutkannya dengan menciptakan suatu keluarga Allah yaitu dalam diri manusia debu tanah (adamah) dan perempuan (Kej 2:7,23) sebagai pasangan yang sepadan (Kej 2:18). Apakah mereka ini 'ciptaan baru' yang berbeda dengan laki-laki dan perempuan yang diciptakan Tuhan pada hari ke-6 (Kej 1:27), atau merupakan awal dari mereka semua itu? Ini tentu mengundang banyak opini dan perdebatan. Namun bagi saya, pikiran utamanya adalah: Tuhan menganggap keluarga sebagai hal yang penting. Keluarga menjadi sebuah terobosan di tengah persoalan kesendirian manusia. Saat ini, ada begitu banyak orang yang sendiri dan kesepian... Keluarga dan dukungan keluarga-lah solusinya! Keluarga diharapkan dapat berperan secara lebih optimal di jaman yang penuh persoalan dan ketidakpedulian ini.

Namun dalam perjalanan hidupnya, keluarga Allah ini mengalami jatuh ke dalam dosa, sehingga menimbulkan 'produk baru' yang bernama: kematian (Kej 2:16-17). Kematian adalah upah dosa, sebuah kutuk yang menjalar bagaikan kanker ke seluruh umat manusia. Namun syukur kepada Tuhan, bahwa 'keturunan perempuan' sudah mengalahkan Iblis yang mengikat manusia dalam dosa (Kej 3:15). Tuhan Yesus adalah Sang Terang - Devine Light - yang menerobos kacau dan gelap-nya dosa dan mengangkat manusia (yang dipilih untuk percaya kepadaNya) untuk kembali menjadi ciptaan yang 'sungguh amat baik'. Apakah manusia lantas terbebas dari kematian? Jelas tidak, mana ada manusia yang tidak bisa mati?! Namun kematian di dalam Kristus tidak lagi dipandang sebagai kutuk dan upah dosa, tetapi menjadi sebuah jalan untuk menerima anugerah keselamatan, yakni kehidupan yang kekal.

Lantas apa hubungan ulasan tersebut dengan 'Pohon Natal tanpa Lampu Natal' dan 'perziarahan'?

Ini sharing pribadi, yaitu di Natal tahun 2011 yang lalu. Karena berbagai kesibukan saya, akhirnya menjelang tanggal 25 Desember pohon
Natal belum terpasang di rumah. Waktu itu sudah tanggal 24 Desember siang. Apakah Natal tahun itu akan menjadi Natal tanpa pohon Natal? Setelah menimbang-nimbang, akhirnya diputuskan untuk tetap memasang pohon Natal sekalipun hanya untuk seminggu. Saat semua daun sudah terpasang, hiasan-hiasan bola dan bintang juga sudah digantung, tibalah saatnya untuk menyalakan lampu Natal. 'Klik'... Dan kami terdiam saat menyadari bahwa semua lampu Natal padam... Mungkin ada kabel yang putus di suatu tempat, tapi kami sudah tidak punya waktu lagi untuk memperbaiki atau membeli yang baru. Jadilah pohon Natal yang tanpa lampu Natal...

Natal tahun 2011. Mama saya - yang saat itu sudah sakit kanker parah - mendadak berkeinginan untuk merayakan Natal bersama saya sekeluarga di Jakarta. Saya merasa sangat bersyukur karena saya masih berkesempatan untuk merayakan Natal bersama mama saya di tahun itu, yang adalah Natal terakhir bagi mama saya. Setelah mengikuti Perayaan Natal di tanggal 25 Desember, saya baru menyadari betapa mama terlihat begitu lelah. Dan sepulangnya ke kota asalnya, kondisi fisik mama saya terus menurun, dan 3 bulan kemudian mama berpulang ke surga. Saya sempat berpikir: apakah pohon Natal tanpa lampu Natal adalah merupakan sebuah pertanda kematian dari orang yang saya kasihi? Atau hanya kebetulan acak belaka?

Mengalami sendiri situasi kematian ternyata bukan hal yang mudah. Saya bersyukur karena di jam-jam awal masa kedukaan, saya di cover oleh Pdt Dianawati dan Pdt Frans yang jauh-jauh datang untuk memberi support bagi saya sekeluarga. Dan di saat-saat seperti inilah - hingga berbulan-bulan sesudahnya - saya menjalani perziarahan ke dalam misteri kehidupan dan kematian, yang saya tahu perziarahan ini pun diikuti oleh banyak orang yang bergumul dengan hal yang sama.

Ada beberapa hal yang akhirnya saya temukan dalam perziarahan saya (yang masih berlanjut hingga kini).

Yang pertama adalah: pentingnya ikatan keluarga. Dalam masa-masa sulit, justru ikatan keluarga harus semakin diperteguh. Kami sekeluarga kini merasakan kualitas hubungan yang semakin baik satu sama lain, sekalipun kami tinggal saling berjauhan, dan inilah yang menjadi sumber kekuatan dikala kelemahan datang menghampiri. Keluarga-lah yang pertama-tama harus saling menguatkan, setelah itu barulah orang lain (saudara seiman, tim perlawatan khusus, pendeta, dsb). Keluarga yang justru terpecah saat kesulitan/duka datang akan sangat sulit untuk melakukan recovery, dan ini jelas membutuhkan sebuah kerelaan dari masing-masing anggota keluarga untuk dapat lebih saling menahan diri dan berkorban. 

Kedua adalah: meninggalkan warisan. Warisan disini bukanlah warisan materi, namun lebih kepada nilai-nilai yang bisa kita tinggalkan kepada orang lain saat kita kembali ke sorga. Pepatah mengatakan: sesuatu akan terasa begitu berharga saat kita kehilangannya. Saat mama saya berpulang, barulah saya dengan jelas melihat betapa luar biasanya dia! Perhatian, dukungan, rasa kehilangan, cerita-cerita yang baik... Membuat saya berpikir: kalau giliran saya yang mati nanti, apakah saya pun akan meninggalkan warisan nilai-nilai yang sebaik yang diwariskan mama saya? Misteri kematian seharusnyalah membuat manusia berusaha dan terus berusaha untuk meninggalkan warisan yang semakin baik, dan bukankah hal itu membuat dunia menjadi tempat yang semakin baik untuk dihuni manusia?

Pohon Natal tanpa lampu Natal... Saya pikir hal yang baik apabila Natal dapat dipersiapkan dengan lebih baik. Namun itu bukanlah yang terpenting! Yang terpenting adalah: kita seharusnya yang menjadi lampu-lampunya, yang tidak terpadamkan dan yang bersinar terus bagi sekitar kita! Kalau Divine Light itu telah membuat terobosan bagi dunia yang kacau dan gelap, maka kita sebagai umatNya pun seharusnyalah memancarkan terang yang menerangi dan mempercantik dunia. Semoga hal itulah yang bisa menjadi warisan hidup kita semua.

(TKS - 29/11/2012)

Minggu, 29 April 2012

His Singing Angel who makes people sing

Bagian ini didedikasikan untuk kekasih kita, para Pahlawan Allah, yang telah menang dan menunjukkan keteladanan iman yang memberi kesan yang mendalam; tidak hanya berbicara mengenai mereka yang sudah kembali ke Rumah Sejati, namun juga menjadi sharing kita yang masih tinggal dalam kefanaan dan bergumul dengan misteri kehidupan yang bernama: kehilangan. Kiranya kolom ini menjadi sarana untuk saling berbagi, dan silakan mengirimkan kesaksian Anda (teks dan foto) ke alamat email kami: militiachristi2010@gmail.com 



REBECCA KUSUMA
(IE AY HWA)

Lahir: Blabak, 3 September 1942
Wafat: Cikarang, 29 Maret 2012

Pelayanan:
  • Anggota PS Eliatha GKI Karangsaru Semarang
  • Guru Sekolah Minggu, Organis, dan Dirigen PS GKI Banjarnegara
  • Dirigen PS Tabitha GKI Pengampon Cirebon
  • Dirigen PS Debora GKI Pakis Raya Jakarta
  • Dirigen PS GKI Pos PI Kopo Permai Bandung
  • Dirigen PS Gita Rohani GKI Indramayu
  • Dirigen PS Hana dan VG Serafim GKI Pengampon Cirebon
  • Pelatih PS GKI Pamitran Cirebon

Dia hanyalah seorang wanita yang sederhana
Lahir di sebuah desa kecil yang sederhana
Dibesarkan disebuah keluarga yang sederhana
Mengenyam pendidikan disekolah rakyat yang sederhana, meskipun sempat merasakan bangku kuliah yang tidak pernah ia selesaikan

Menikah dengan seorang pendeta yang sederhana (baca: memiliki gaji yang sangat kecil)
Memulai pelayanan sebagai istri pendeta di sebuah kota kecil yang sederhana
Memiliki 2 anak yang dibesarkan dalam kesederhanaan (sehingga kedua anaknya itu pun menjadi terbiasa untuk hidup sederhana hingga kini)
Tidak banyak menuntut, segenap hati dan hidupnya selalu ditujukan untuk kepentingan orang lain

Sederhana...
Tidak pernah menuntut hadiah berlian atau liburan ke luar negeri
Bahkan tempat meninggalnya pun di sebuah rumah sakit yang 'sederhana' (karena sebetulnya memang hanya direncanakan untuk tempat perobatan sementara untuk perbaikan keadaan umum)
Bahkan keinginannya pun sederhana: tidak mau merepotkan orang lain dan tidak ingin menghabiskan banyak biaya apabila mengalami sakit...

Hingga saat terakhirnya, ia masih memiliki pikiran yang sejelas fajar, semangat untuk sembuh, bahkan bibir yang sangat jarang mengeluh. "Mama siap dan pasrah" begitu ungkapnya beberapa minggu sebelum berpulangnya.

Namun...
Saat ia melatih anggota paduannya bernyanyi
Saat ia tampil di panggung gereja, dan
Saat ia menggerakan anggota paduan suaranya untuk menyanyi
Dia membuat banyak orang bernyanyi dengan cara dan kualitas yang tidak sederhana

Dan saat kami mengingat memori indah bersamanya, dan berduka bersama ratusan sahabat yang menghantarnya pulang ke rumah Bapa di sorga
Kami menyadari bahwa mama bukanlah wanita yang biasa dan sederhana
Dia adalah Malaikat PenyanyiNya yang membuat orang bernyanyi!

Memori ini memang begitu sulit untuk dilupakan, sekalipun siklus hidup manusia memang seharusnyalah demikian...

Thanks Mom, I love you Mom
Kau tetap dihatiku dan menjadi inspirasiku untuk tetap setia.

TETAP SETIA

SELIDIKI AKU, LIHAT HATIKU
APAKAH ’KU SUNGGUH MENGASIHI-MU YESUS
KAU YANG MAHA TAHU DAN MENILAI HIDUPKU
TAK ADA YANG TERSEMBUNYI BAGI-MU
T’LAH KU LIHAT KEBAIKAN-MU
YANG TAK PERNAH HABIS DI HIDUPKU
’KU BERJUANG SAMPAI AKHIRNYA
KAU DAPATI AKU TETAP SETIA