Tampilkan postingan dengan label Spark of Theological Reflection. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Spark of Theological Reflection. Tampilkan semua postingan

Selasa, 31 Maret 2015

Baptisan: Penggenapan Nubuat Nabi Yehezkiel

Yehezkiel 36:25

Aku akan mencurahkan kepadamu air jernih, yang akan mentahirkan kamu; dari segala kenajisanmu dan dari semua berhala-berhalamu Aku akan mentahirkan kamu (Alkitab Terjemahan Baru)

Setelah itu kamu akan Kuperciki dengan air jernih, supaya kamu bersih dari segala berhalamu dan dari segala sesuatu yang telah mencemarkan kamu (Alkitab Bahasa Indonesia Sehari-hari)

Then will I sprinkle clean water upon you, and you shall be clean from all your uncleanness; and from all your idols will I cleanse you (Amplified Bible)

Saya menemukan ayat ini yang secara jelas menubuatkan bagaimana Israel akan diperbaharui pasca pembuangan di Babel. Dan membaca ayat sesudahnya, mengenai: hati yang baru, roh yang baru, hati yang taat, bahkan Roh Tuhan yang akan Tuhan berikan diam di dalam batin mereka (ayat 26-27), ini tidak hanya berbicara mengenai Israel pasca-exilit , tetapi juga berbicara mengenai Israel Perjanjian Baru, yaitu GEREJA yang berdiri pasca pencurahan Roh Kudus di Hari Pentakosta.

Saya percaya bahwa ayat ini merupakan nubuat Nabi Yehezkiel atas baptisan yang dilakukan Yohanes Pembaptis yang kemudian dilanjutkan dan disempurnakan oleh Gereja Kristen hingga hari ini.

Dan saya jadi tergelitik untuk melanjutkan ulasan ini ke praktek baptisan yang masih saja menjadi polemik di kalangan Kristen. Ada begitu banyak orang Kristen yang merindukan dirinya dibaptis dengan cara yang sama seperti Tuhan Yesus dibaptis. Ini bukan dosa, melainkan sebuah keinginan yang patut kita hargai. Namun menjadi sebuah dosa saat sebuah baptisan diulang karena dianggap tidak benar atau tidak layak. Yang sering terjadi adalah: baptisan percik diulang dengan baptisan selam. Saya percaya bahwa baptis ulang ini adalah sebuah dosa yang perlu disesali oleh umat dan gereja yang memraktekkannya. Mengapa? Karena menjadikan finalitas keselamatan di dalam Kristus menjadi tidak final lagi, karena perlu diimbuhi dengan seremonial lain yang namanya baptisan, seolah-olah baptisan itu menyelamatkan. Padahal hanya iman kepada Tuhan Yesus saja-lah yang menyelamatkan! (Baca Roma 3:21-31, terutama ayat 28)

Kata 'baptizo' yang sering dianggap lebih bermakna 'selam' pun dalam berbagai bagian dalam Alkitab tidak pernah menunjuk pada penyelaman. Ini mirip dengan pemakaian kata 'berlayar' (yang tidak selalu menggunakan kapal layar), atau kata 'perjalanan' (yang tidak selalu harus berjalan kaki). Bagian-bagian Alkitab yang menggunakan kata 'baptizo' pernah saya bahas dalam post saya sebelumnya.

Begitu pun istilah 'keluar dari air' seperti yang dicatat oleh Injil Matius dan Injil Markus tidak selalu berarti penyelaman, karena keluar dari sungai ke daratan pun bisa dimaknai sebagai 'keluar dari air' tanpa perlu ada penyelaman.

Justru saya menemukan fakta bahwa kemungkinan besar Yesus dibaptis secara percik atau siram/tuang oleh Yohanes Pembaptis. Argumentasinya demikian:

  1. Yehezkiel 36:25 jelas-jelas berbicara mengenai pencurahan dan pemercikan air!
  2. Yohanes Pembaptis sebagai keturunan Lewi, bahkan keturunan Imam Harun, TIDAK PERNAH MENGENAL PENYELAMAN dalam ibadah Yahudi, yang mereka kenal adalah: PEMERCIKAN! Sehingga sangat aneh bila Yohanes Pembaptis melakukan praktek lain yang tidak dikenalnya! (silakan search Alkitab Online dengan keyword 'hisop' dan 'pemercikan', maka akan keluar semua ayat yang related)


Tapi... sudahlah. GKI mengakui cara baptisan percik maupun selam. Keduanya sama-sama baiknya. Namun saat ada gereja yang mengembangkan praktek baptis ulang, maka sudah sepantasnya kita bersikap secara tegas dan mengarahkan umat kepada pemahaman yang benar dan alkitabiah mengenai baptisan dan caranya dilaksanakan.

Salam berdaya!
Tuhan Yesus memberkati!

Minggu, 09 Desember 2012

Scientisme vs Agama

Seorang berilmu membaca banyak buku dan ingin terus belajar
Seorang religius hanya membaca satu Buku (yakni kitab suci) dan mengklaim telah memahami segala sesuatu.

Pernyataan yang menyindir orang religius itu saya baca di dalam sebuah komentar di salah satu akun FB seorang mantan pendeta Kristen yang agaknya telah menjadi penganut Scientisme.

Apakah itu Scientisme?
Scientisme adalah 'anak kandung' humanisme, yaitu filsafat yang mengagungkan potensi manusia yang nyaris tanpa batas, dengan penekanan pada ke-aplikasi-an metode ilmiah (logika, pengujian, pengukuran, pembuktian) pada berbagai (bahkan semua) hal, termasuk agama (lihat definisi lain di http://en.m.wikipedia.org/wiki/Scientism).

Dalam persepektif scientisme, segala hal yang tidak logis, tidak teruji, tidak dapat diukur, dan yang tidak dapat dibuktikan adalah: omong kosong, delusi, kebodohan (apabila tetap dipercayai)... Dapat dibayangkan, bagaimana seorang penganut scientisme memandang Alkitab yang penuh dengan hal-hal yang tidak logis dan yang tidak/susah dibuktikan, seperti: penciptaan alam semesta hanya dalam tempo 7 hari, tanah yang ditiup lalu menjadi manusia yang hidup, ular yang dapat berbicara, manusia yang dapat berjalan di atas air, kapak besi yang dapat terapung di air, dll...dll...

Sebetulnya tidak ada yang salah dengan ke-ilmiah-an, bahkan kita pun tahu ada banyak ilmuwan yang masih menjadi penganut agama Kristen (maupun agama lain) yang saleh. Sekolah-sekolah Kristen pun tidak ragu untuk mengajarkan Sains di dalam kurikulumnya, bahkan yang namanya Sekolah BPK Penabur itu merupakan langganan juara Sains tingkat nasional bahkan internasional.

Menjadi problem kalau ke-ilmiah-an manusia yang hebat itu dianggap sebagai SATU-SATUNYA pola atau cara berpikir. Tak terhindarkan mereka akan memandang agama sebagai sumber pembodohan manusia bahkan racun/candu masyarakat yang menimbulkan delusi massal. Mereka 'menuduh' agama sebagai sebuah 'cara gampang' (alias cara nge-les) untuk menjelaskan  sesuatu yang 'belum terjelaskan' oleh pemikiran manusia, membuat manusia menjadi malas berpikir, malas belajar, dan akhirnya benar-benar membuat manusia menjadi mahluk bodoh yang terus diperdaya oleh dogmatisme para rohaniawan.

Hal ini menjadi tantangan yang sungguh sangat real dan relevan bagi gereja masa kini, karena memang perkembangan peradaban manusia saat ini sedang berada di puncak-puncaknya,  seolah-olah segala hal mampu dijawab dan diatasi oleh otak manusia. Konsep keTuhanan perlahan-lahan luntur, dan aktivisme keagamaan bisa menjadi sesuatu yang irrelevan dengan perkembangan jaman.

Para teolog sebetulnya telah berusaha untuk memperkecil gap antara sains dan agama, dengan membuat berbagai pendekatan teologi, seperti:

1. Pendekatan metode kritis, baik dengan melakukan penelitian teks, penelitian sejarah, dan sebagainya (yang ini jelas ilmiah), bahkan sampai melakukan pemilahan/pemisahan mitos-mitos (misalnya demitologisasi ala Bultmann), yaitu dengan  membuang bagian-bagian yang dianggap 'mitos' dan hanya mengambil inti pesan keagamaan (kerygma) di dalamnya. Pendekatan ini mungkin berhasil memberi kesan 'pintar dan ilmiah' pada beberapa aspek teologi Kristen. Namun di sisi lain, pendekatan ini membuat para teolog pintar itu bak sedang mengupas bawang, alias get nothing, tidak mendapat nilai tambah apapun pada pertumbuhan spiritualitas, bahkan membuat kekristenan menjadi sangat relatif, sangat serupa dengan dunia...makin abu-abu dan cenderung permisif dengan 'gelap'. 

2. Pendekatan penafsiran alegoris yang memberi makna tertentu pada berbagai hal yang disebut 'mitos', misalnya dalam 2 Raja-Raja 6:5-7, yang bisa ditafsirkan sbb:
- mata kapak yang terlepas dari tangkainya dan tenggelam, dimaknai sebagai: manusia yang terpisah dari Tuhan dan  terbenam di dalam dosa
- batang kayu yang dilemparkan, dimaknai sebagai: Tuhan Yesus yang bersedia masuk ke dalam dunia yang berdosa untuk mengangkat manusia dari dosa, dan
- kapak yang timbul/terapung, dimaknai sebagai: manusia yang telah mengalami pembaharuan hidup dan menang atas kuasa dosa
Penafsiran alegoris memang dapat digunakan untuk menjelaskan berbagai hal secara lebih segar dan tampak relevan. Namun di sisi lain pendekatan ini dapat memunculkan kekacauan hermeunetika, membuat cara menafsir yang 'semau-gue' yang menimbulkan kegagalan kita dalam memahami Firman Tuhan yang sebenarnya.

3. Pendekatan literal yang menerima teks Alkitab secara apa adanya dengan penekanan pada doktrin 'ke-tanpa-salah-an Alkitab', sebuah posisi ekstrem kanan yang secara frontal berhadapan dengan scientisme maupun teologi modern, dan sering di-cap fundamental dan radikal, bahkan serupa dengan dogmatisme abad pertengahan. Namun di banyak tempat, pendekatan literal ini justru menguat dan diminati karena 'memberikan kepastian keberimanan yang kokoh' di tengah situasi jaman yang tidak menentu saat ini.

Lantas bagaimana sikap kita sebagai warga jemaat GKI?

Biasanya GKI mengambil jalan tengah yang menjauh dari kegaduhan yang tidak perlu dan kontra produktif. 'Gitu aja kok repot', begitu istilah populer Gus Dur yang sering dengan tepat menggambarkan diri kita. Iyalah, ngapain juga repot, toh masalah beginian tidak akan merubah jalan keselamatan kan? Sekali selamat, tetap selamat, begitulah keyakinan iman GKI. Tapi tentu kita harus berkata dan bersikap sesuatu yang dapat memperlengkapi diri kita saat kita membentur atau bersinggungan dengan scientisme ini.

Pertama: mencampuradukkan sains dan agama jelas merupakan sebuah kesalahan fatal dan sekaligus menunjukkan ketidakdewasaan dalam berpikir. Sains bukan agama, agama bukan sains. Di dalam agama memang ada bau-bau sains, misalnya: tentang matahari yang beredar mengitari bumi, bahkan yang pernah berhenti beredar(baca Yosua 10:12-14). Tetapi hal ini janganlah lantas harus diteropong melalui 'kacamata kuda' sains, untuk membuktikan kesalahan isi Alkitab (karena faktanya yang beredar itu kan bumi, bukan matahari). Janganlah karena mengandung kesalahan secara ilmiah lantas Alkitab harus 'dimuseumkan' karena isinya sudah terbukti salah. Mari tempatkan Alkitab sebagai Firman Tuhan yang menjadi pedoman hidup umat percaya, yaitu untuk  mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan, dan mendidik orang dalam kebenaran (baca 2 Timotius 3:16), dan bukannya untuk belajar sains!

Kedua:  Alkitab selalu berbicara dalam bahasa yang dapat dipahami manusia dalam konteksnya masing-masing, karena kalau Tuhan membuka segenap rahasia diriNya dan ciptaanNya di dalam Alkitab, bisa dibayangkan betapa Alkitab akan menjadi buku yang tidak akan pernah dibaca, dipahami, bahkan dipercaya oleh manusia! Mengapa? Karena kemampuan berpikir manusia itu terbatas. Tuhan Yesus pun pernah mengingatkan hal ini, bahwa untuk hal-hal duniawi saja manusia sering sulit untuk percaya, apalagi untuk hal-hal surgawi (baca Yohanes 3:12). Lucu sekali saat saya berbicara dengan seorang penganut scientisme, mereka tidak pernah mau mengaku bahwa otak manusia itu pasti ada batasnya. Mereka nge-les sedemikian rupa, pakai sidetracks/pengalihan macam-macam untuk menghindar  berbicara mengenai hal tersebut (karena memang mereka 'beriman' akan ketidakterbatasan otak manusia). Dan, ternyata manusia sendiri sebetulnya sering (dan senang) memakai ungkapan yang sebetulnya kita tahu hal itu tidak tepat, seperti masih mengatakan: 'matahari terbit di ufuk timur dan terbenam di ufuk barat', dan bukannya 'bumi be-rotasi menghadap matahari atau membelakangi matahari'. Hal itu terjadi karena memang adanya keterbatasan dalam bahasa manusia, sesuatu yang sangat dimaklumi Tuhan, tetapi - anehnya -  tidak dimaklumi oleh penganut scientisme.

Ketiga: mungkin yang ditunggu-tunggu adalah: bagaimana kita dapat menjelaskan berbagai kisah Alkitab yang 'tidak logis' yang 'tidak terbuktikan' dan yang 'tidak dapat diuji kebenarannya', terutama kepada penganut scientisme? Saya jawab secara singkat saja: mereka tidak membutuhkan penjelasan apapun karena mereka sudah jauh lebih tahu ketimbang kita, dan mereka sudah memiliki sikap sendiri. Kita bisa saja mencoba menjelaskan melalui pendekatan metode kritis, penafsiran alegoris, literal, dan lain sebagainya. Itu tidak akan mempan! Yang mereka butuhkan hanyalah: sentuhan kasih Tuhan yang bisa mereka dapatkan melalui sentuhan kasih kita! Dan jangan lupa: doakan mereka! Apabila mereka adalah terhitung sebagai umat yang Tuhan pilih untuk diselamatkan, pasti suatu hari kelak mereka akan melihat ke-Maha-Kuasa-an Tuhan yang melampaui kemampuan otak mereka, dan mulut mereka pun akan mengaku: 'Ya Tuhanku dan Allahku!' (Yohanes 20:28).

Salam berdaya!
TKS - 01/12/12

Selasa, 18 Oktober 2011

Total Depravity

Sebelum berbicara mengenai pasal pertama dalam TULIP ini, perlu saya jelaskan bahwa  TULIP dan Pasal-Pasal Ajaran Dordrecht (PPAD) sekalipun sama content-nya namun beda susunannya. Mengapa? Karena context-nya beda: PPAD hadir sebagai sebuah 'obat' untuk melawan 'penyakit' Arminianisme (sehingga pasal pertama langsung berbicara mengenai: Pemilihan Allah), sementara TULIP hadir sebagai sebuah sistematika teologi, yaitu sebagai sarana untuk belajar salah satu aspek dalam Calvinisme, yaitu keselamatan (sehingga susunannya dibuat secara kronologis: dari kejatuhan manusia ke dalam dosa, proses penyelamatan Tuhan, dan bagaimana kondisi manusia setelah diselamatkan).

Secara garis besar, Calvinisme mengajarkan bahwa:
1. Setelah manusia jatuh ke dalam dosa, nature manusia sebagai Imago Dei menjadi rusak secara total,  bahkan Alkitab memakai istilah: mati (Kejadian 2:17), sehingga manusia ‘mati’ kebebasannya untuk memilih yang baik dan yang jahat, karena ia terikat untuk berbuat jahat (committed to sin)
2. Kerusakan total ini membuat manusia tidak mungkin mengupayakan keselamatan secara mandiri, bahkan sekedar menjadi mitra-keselamatan sekalipun! Manusia hanya dapat menerima anugerah keselamatan tanpa ada sesuatu pun kebaikan yang membuat manusia layak untuk menerimanya!

Poin ke-2 akan menjadi porsi pasal-pasal berikutnya, so mari kita dalami poin yang pertama.

Rusak-totalnya nature manusia
Manusia diciptakan segambar dan serupa dengan Allah (sehingga manusia disebut sebagai Imago Dei, The Image of God). Namun sejak manusia jatuh ke dalam dosa, nature asli manusia ini mengalami kerusakan secara total yang ‘menjangkiti’ semua manusia pasca Adam, jadi bukan hanya dialami oleh Adam thok, kita semua sebagai keturunan Adam pun mengalami kerusakan total ini. Kapan saya dan Anda mengalami kerusakan total ini? Ya sejak kita masuk ke dalam dunia! Bayi yang baru dilahirkan  tidaklah 100% suci karena ia sudah membawa kerusakan total ini di dalam dirinya, memang seperti itulah nature manusia setelah jatuh ke dalam dosa!
Pertanyaannya:
1.       Kok Tuhan nggak adil? Kenapa yang bukan perbuatan kita menjadi tanggungan kita?
2.       Apa iya rusaknya manusia itu secara total? Kan ada banyak manusia yang baik?

Benarkah Tuhan tidak adil?
Beberapa pertanyaan kreatif lainnya akan mempermasalahkan mengenai kuasa Tuhan: kalau Tuhan memang Maha Tahu, pastilah Ia tahu bahwa manusia akan jatuh ke dalam dosa. Lalu kenapa Ia membiarkan??? Jangan-jangan kejatuhan manusia itu memang skenario Tuhan sendiri! Bukan Saudara, ITU BUKAN MAUNYA TUHAN tapi murni PILIHAN MANUSIA SENDIRI. Kita juga jangan menganggap Adam sebagai penjerumus umat manusia ke dalam dosa (kasihan bener)! Perhatikan bahwa yang memakan buah pohon pengetahuan yang baik dan jahat itu adalah MANUSIA, yang kebetulan ada dalam diri seorang manusia yang bernama Adam (dan tentu saja istrinya). Mungkin kalau waktu itu bukan Adam yang ada disana, tetapi kita, belum tentu kita bisa lebih baik dari Adam!!! Kitalah yang menjerumuskan diri kita sendiri ke dalam dosa! Mari bersikap jujur, bahwa saat kita memilih untuk berbuat dosa, itu adalah 100% pilihan kita! Orang bisa bilang bahwa lingkungan, teman, keadaan, atau bahkan pasangan kita yang menjerumuskan kita ke dalam dosa. Tapi toh 'rangsangan dosa' itu nggak akan bakal menjadi dosa kalau kita tidak menyetujuinya bukan? Kita kan bukan seperti lampu yang mati atau nyalanya tergantung saklar bukan?
Disinilah dikenal istilah 'kehendak bebas' dimana manusia memiliki kebebasan untuk memilih: melakukan yang baik atau yang jahat. Sebelum manusia jatuh ke dalam dosa, kehendak manusia adalah benar-benar bebas, dimana ia bisa bebas memilih melakukan apa yang baik atau yang jahat. Ternyata kita memilih melakukan apa yang jahat sehingga kita pun jatuh ke dalam dosa. Dan setelah manusia jatuh ke dalam dosa, manusia tidak bisa bebas lagi, karena nature-nya menjadi rusak sehingga manusia kini terikat dalam kecenderungan untuk berbuat dosa. Itulah sebabnya Calvinisme percaya bahwa manusia - dalam nature-nya yang rusak total itu – tidak akan sanggup menentukan bahkan berkontribusi sedikitpun dalam hal keselamatan dirinya. Keselamatan adalah 100% anugerah Tuhan, dan bukan karena jasa atau perbuatan baik manusia!

Benarkah manusia itu rusak secara total sehingga tidak ada yang mampu berbuat baik?
Seorang yang baru pulang dari gereja, baru saja mulutnya mengatakan 'Puji Tuhan' atau 'Haleluya', dalam hitungan menit bahkan detik bisa mengumpat sesamanya, memikirkan yang jahat di otaknya, bahkan langsung melakukan dosa. Kok bisa? Jangan-jangan benar ajaran Gereja Setan yang pernah saya baca, bahwa manusia yang seasli-aslinya memang 'pembuat dosa', dengan kata lain: kalau  manusia tidak melakukan dosa artinya 'bukan manusia' atau 'berbohong sebagai manusia' (baca: munafik)!
Betapa masalah 'dosa' ini memang membuat kita capek, selalu ada kecenderungan berbuat dosa dan doa memohon pengampunan dosa menjadi sebuah aktivitas yang basi (karena akan melakukan dosa lagi, bahkan dosa yang sama)! Makanya ada orang yang sudah 'tutup buku' dengan masalah dosa, nggak mau kenal lagi yang namanya dosa, dan merasa merdeka untuk berbuat dosa! Sudah kepalang tanggung, nyebur saja secara total dan nggak usah mikirin itu dosa atau bukan, dan tidak perlu merasa menyesal! Enjoy aja!!!
...
Konsep dosa setahu saya lebih jelas kelihatan dalam Abrahamic Religion (Yahudi, Kristen, Islam), sementara agama2 di Asia Timur (Hindu, Budha, dll) biasanya lebih mengenal konsep Kebaikan-Kejahatan  dalam sebuah Keseimbangan (sehingga ada istilah Yin-Yang), sehingga konsep ini membutuhkan konsep penyelamatan lain yang disebut Hukum Karma dan Reinkarnasi. Melalui kedua konsep tersebut manusia secara step by step disempurnakan melalui reinkarnasi. Berapa kali musti reinkarnasi, itu tergantung karmanya, yaitu bagaimana komposisi kebaikan-kejahatan yang diperbuatnya selama hidup.
Agama Kristen, memandang dosa sebagai perbuatan yang melawan perintah Tuhan, sehingga memerlukan sebuah cermin untuk mengetahui apakah saya berdosa atau tidak, yaitu Hukum Taurat (Roma 7:7) dan - seharusnya – manusia berupaya untuk menghindari perbuatan dosa. Namun manusia ternyata mengalami kegagalan untuk benar-benar menjalankan perintah Tuhan, sehingga Hukum Taurat seolah menjadi Hukum Kutuk karena manusia tidak akan pernah sanggup melaksanakannya secara sempurna. Itulah sebabnya manusia memerlukan sebuah Penyelamatan, yaitu melalui Penebusan oleh Darah Yesus Kristus. (Galatia 3:10-13)
Jadi, dari sini kita bisa memahami bahwa manusia pasti berdosa, bukan karena memang sudah mustinya demikian, tetapi karena memang manusia tidak mampu berbuat yang baik. 
Lalu, bagaimana dengan fenomena orang-orang yang diakui sebagai ‘orang baik’? Kan ada banyak tokoh-tokoh yang menjadi inspirasi bagi dunia karena kebaikannya... dan banyak juga yang bukan seorang Kristen???
Disinilah kita berkenalan dengan konsep: kebaikan relatif dan kebaikan sejati. Orang boleh saja dianggap orang baik, karena SECARA VISUAL TAMPAK BAIK (kebaikan relatif). Tapi apakah dia BETUL-BETUL BAIK (kebaikan sejati)? Justru kebaikan yang ditampakkan seringkali menjadi sebuah kedok kejahatan! Siapa yang tahu? Hanya dia yang Tuhan yang tahu, apakah dia sungguh-sungguh tulus berbuat baik atau bulus! Semua orang bisa berbuat baik, Kristen maupun non-Kristen, namun itu hanyalah kebaikan relatif yang bisa saja manipulatif. Kebaikan yang sejati, yang 100% sesuai dengan standar Tuhan dalam FirmanNya, siapalah yang sanggup melakukannya? Tidak ada (Markus 10:18)! Itulah sebabnya 'berbuat baik' bukanlah 'tujuan' hidup kristiani, namun menjadi sebuah 'result' dari apa yang akan kita bahas dalam pasal TULIP yang ke-5.

Sekian  dan bersambung ke pasal selanjutnya: Unconditioned Election.
Salam berdaya!

Rabu, 05 Oktober 2011

Pemahaman Dasar tentang Keselamatan dalam Calvinisme

Keselamatan adalah sebuah topik dalam teologi yang perlu disikapi dengan pemahaman dasar bahwa ‘apa yang tidak mungkin bagi manusia’ (yaitu keselamatan) adalah ‘mungkin bagi Allah’ (Matius 19:25-26). Mengapa saya mengambil ayat tersebut sebagai ‘pemahaman dasar keselamatan’? Sederhana saja jawabannya: karena perikop terkait (yaitu Matius 19:16-26) adalah perikop yang konteksnya benar-benar berbicara mengenai keselamatan. Ada begitu banyak orang yang memanipulasi Alkitab dengan mengutip ayat-ayat yang out of context, sehingga menimbulkan pemahaman yang sesat, hal mana perlu menjadi perhatian kita semua sehingga kita tetap beriman secara kritis.

Melalui pemahaman dasar ini, sebetulnya kita sudah cukup memiliki dasar untuk mengimani bahwa: manusia TIDAK MAMPU berkontribusi SEDIKITPUN atas keselamatan yang diterimanya. Keselamatan adalah 100% anugerah, manusia tidak bisa mengupayakan keselamatannya secara mandiri (seperti yang diajarkan oleh Pelagianisme) ataupun menjadi mitra-keselamatan (seperti yang diajarkan oleh Arminianisme maupun Katolikisme). Bahkan beriman-pun merupakan anugerah, bukan pilihan yang bisa diambil atau dibuang oleh manusia.

Pemahaman dasar inilah yang menjadi sebuah ciri khas ajaran Calvinisme yang seharusnya dianut oleh GKI. Mengapa? Karena GKI adalah gereja yang bercorak Calvinis, yang mewarisi tradisi dan ajaran dari Gereja Reformasi Belanda sebagai gereja yang ‘berjasa’ dalam pendirian GKI di Indonesia, yaitu: Nederlandse Hervormde Kerk (Dutch Reformed Church) dan Gereformeerde Kerken in Nederland (Reformed Churches in the Netherlands). Catatan: pada tahun 2004, kedua gereja tersebut bersama Evangelical Lutheran Church in the Kingdom of the Netherlands telah bergabung menjadi Protestantse Kerk in Nederland (Protestant Church in the Netherlands).

Berbicara mengenai Gereja Reformasi Belanda, sejarah telah mencatat terselenggaranya persidangan gereja-gereja Calvinis berskala internasional (karena dihadiri oleh gereja dari berbagai negara seperti Belanda, Inggris, Jerman, dan Swiss) pada tahun 1619 di kota Dordrecht (sehingga dikenal sebagai Sinode Dordrecht). Sinode tersebut berhasil memformulasikan ‘Pasal-Pasal Ajaran Dordrecht’ sebagai sebuah pegangan ajaran untuk melawan ‘wabah’ ajaran Arminianisme yang menyebabkan keretakan di dalam gereja maupun Negara. Dalam perkembangannya selanjutnya, Pasal-Pasal Ajaran Dordrecht telah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga memiliki bentuk yang lebih mudah untuk diingat, yaitu TULIP, yang berisi 5 pasal:

1.       Total Depravity (kematian atau kerusakan total)
2.       Unconditioned Election (pemilihan Tuhan yang tanpa syarat)
3.       Limited Atonement (penebusan yang terbatas)
4.       Irresistible Grace (anugerah yang tak dapat ditolak)
5.       Preserverance of the Saint (ketekunan atau pemeliharaan atas umat percaya)

TULIP tersebut banyak disalahmengerti sebagai ‘Lima Pokok Calvinisme’, sehingga orang sering menyangka bahwa Calvinisme hanya berbicara mengenai 5 pokok tersebut di atas. Ini jelas sebuah pemahaman yang keliru, karena Calvinisme memiliki ribuan pokok bahasan! TULIP hanyalah satu dokumen dalam Calvinisme yang membahas mengenai keselamatan. Bersyukur Th. van den End telah mengumpulkan ajaran-ajaran Calvinisme sebanyak 16 dokumen sehingga kita bisa mempelajari kekayaan ajaran Calvinisme secara utuh (bukunya dapat dibeli di TB Gunung Mulia).

Karena artikel ini hanya berisi mengenai ‘pemahaman dasar’, tidaklah dimungkinkan membahas ke-5  pasal TULIP tersebut disini, mungkin bisa di lain kesempatan. Namun saya ingin membahas 2 isu penting seputar ‘pemahaman dasar’ tersebut: 

GKI adalah gereja Reformed?
Saya baru mendengar istilah ‘Reformed’ pada awal tahun 1998, saat saya pindah ke daerah Grogol dan berjemaat di GKI Nurdin. Waktu itu, setiap kali orang menyebutkan istilah ‘reformed’ maka yang langsung terbayang adalah sebuah gereja yang namanya mengandung unsur kata ‘reformed’ itu, yaitu Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII), yang memang sangat concern dengan TULIP. Semula saya menyangka bahwa GKI bukanlah bagian dari ajaran itu, sekalipun ajaran itu sebenarnya sudah biasa saya dengar di bangku-bangku sekolah BPK Penabur dan mimbar-mimbar GKI (namun ada penekanan-penekanan khusus yang dibuat GRII yang membuatnya menjadi agak berbeda). Sampai suatu kali saya membaca sebuah jurnal teologi yang menyebutkan bahwa GKI adalah anggota dari WARC (World Alliance of Reformed Churches) dan REC (Reformed Ecumenical Council), dan bahkan ikut menjadi bagian sejarah dalam merger-nya kedua badan ekumenis gereja-gereja Reformed sedunia itu dalam sebuah wadah yang dikenal sebagai WCRC (World Communion of Reformed Churches) yang konon memiliki pemercaya sebanyak 80 juta orang di seluruh penjuru dunia! (Baca situs-situs mengenai WCRC, seperti http://www.reformedchurches.org dsb). GKI memang bukanlah GRII, yang memang memiliki sejarah perkembangan yang berlainan. Namun entah bercorak ekumenis atau injili, seharusnyalah ada ‘rasa kebersamaan’ diantara gereja-gereja Reformed, paling tidak kebersamaan dalam membawakan suara profetik ke tengah-tengah dunia yang kacau, yang membutuhkan sebuah pegangan ajaran yang benar, yaitu ajaran KITA SENDIRI. Sangat disayangkan apabila GKI tidak concern lagi dengan asal-usul ajarannya, dan asyik berteologi kontekstual yang sering ‘melayang –jauh’ dari Calvinisme, termasuk dalam hal-hal yang berkaitan dengan keselamatan (yang dalam banyak kesempatan mengalami bias dan ‘ke-abu-abu-an’) 

Dampak memahami keselamatan
Orang sering bertanya-tanya: Apa sih manfaatnya berbicara mengenai ‘keselamatan’?  Disini kita bisa terjebak dalam 2 posisi:
1.       Tidak tertarik dan tidak merasakan urgensi dan relevansi topik tersebut dalam konteks keselamatan masa kini, yang telah mengalami perluasan pada hal-hal seperti: penegakan HAM, pembebasan dari diskriminasi, pengentasan kemiskinan, concern pada lingkungan hidup, dan lain sebagainya. Hal ini tentu patut disayangkan karena gereja masa kini akan kehilangan Core atau Inti-nya yang paling mendasar, yaitu Iman yang benar kepada Tuhan Yesus. Gereja akan menjadi tak ubahnya seperti lembaga sosial, LSM, atau bahkan partai politik (yang memang sering lebih relevan dan kontekstual dibandingkan gereja). Ibarat  sebuah bangunan, Core Gereja adalah pondasinya, sehingga saat ‘core’ itu melemah maka keruntuhan gereja akan menjadi sebuah keniscayaan!
2.       Tertarik namun menjadi terlalu dogmatis. Setelah saya membaca buku ‘Lima Pokok Calvinisme’ karangan Edwin Palmer, saya merasa mendapatkan ‘sebuah ilmu yang begitu berharga’, bak pendekar yang memperoleh jurus baru…. Nah, MENDAPATKAN ILMU inilah yang seringkali menjadi fokus, bukannya bagaimana MENERAPKAN ILMU tersebut. Terkadang kita cukup puas hanya menjadikan ilmu tersebut sebagai bahan untuk berargumentasi ketimbang berpraksis, bahkan menjadikan ilmu tersebut sebagai alat untuk menghakimi keselamatan orang lain! Mari kembali kepada pemahaman dasar kita, bahwa keselamatan merupakan 100% anugerah Tuhan. Mengenai cara dan waktunya, itu juga 100% merupakan hak prerogative Tuhan!

Lalu bagaimana seharusnya pemahaman tentang keselamatan tersebut memberi dampak bagi kehidupan kita? Sebetulnya sederhana saja:
1.       Kita harus selalu bersyukur kepada Tuhan, karena keselamatan diberikanNya BUKAN karena ‘ada yang baik’ di dalam diri kita, tetapi karena murni anugerah Tuhan, sekalipun kita tidak pernah sungguh-sungguh layak menerimanya
2.       Kita harus membuktikan keselamatan yang sudah kita terima itu dalam hidup keseharian kita. Ada orang yang pernah berkomentar demikian: “Enak dong jadi Kristen, bebas berbuat dosa, kan pasti selamat!” Saudara, kalau kita ‘bebas berbuat dosa’ sebetulnya itu merupakan sebuah bukti bahwa kita adalah seorang Kristen Palsu yang mungkin tidak termasuk dalam umat yang dipilih untuk diselamatkan! Berdukacitalah apabila kita bisa atau pernah memiliki pikiran seperti itu!
3.       Kita harus menginjili dunia, karena mungkin ada umat pilihanNya yang terserak di berbagai tempat. Mari bawa mereka untuk masuk ke dalam Rumah yang sudah ditetapkanNya untuk kita dan mereka, yaitu hidup kekal di dalam KerajaanNya.

Salam berdaya!

Sabtu, 09 Juli 2011

Baptisan Anak part 3

Yang ketiga: tentang penyerahan anak

Tentang topik yang ketiga ini, terus terang saya sempat mengalami kesulitan mencari buku atau sumber yang dengan jelas menyebutkan dasar Alkitabiah yang mendasari praktek penyerahan anak. Tapi saya bersyukur akhirnya dapat menemukannya sehingga makin memperjelas duduk permasalahannya.
Ternyata, dasar yang digunakan untuk menolak baptisan anak dan menggantikannya menjadi 'sekedar' penyerahan anak adalah Lukas 2:22 (Batu Penjuru, Membangun Jemaat yang Kokoh di Atas Dasar Pengajaran yang Dinamis yang Kokoh dan Seimbang, YPI Imanuel,1999, hlm 67).
Terus terang saya merasa surprise dengan hal ini. Mengapa? Karena begitu ngawurnya!
Penjelasan atas 'begitu ngawurnya' itu adalah begini:

Pertama: pada catatan kaki Alkitab, kita sudah dengan jelas mengetahui bahwa Lukas 2:22 itu mengacu pada teks yang lebih tua, yaitu: Imamat 12:6-8. Disitu memang dijelaskan mengenai penyerahan anak laki-laki dan perempuan, namun dilakukan BUKAN UNTUK KEPENTINGAN SI ANAK, tetapi untuk KEPENTINGAN SI IBU, yakni sebagai pentahiran sesudah melahirkan anak. Apakah gereja-gereja yang mempraktekkan penyerahan anak memang menunjukannya untuk pentahiran seorang ibu pasca melahirkan? Saya yakin tidak, karena tentulah penyerahan anak itu ditujukan kepada si anaknya bukan si ibunya, sehingga dengan tegas saya katakan bahwa pendasaran penyerahan anak dari Lukas 2:22 adalah pendasaran yang salah!

Kedua: Lukas 2:22 sebetulnya menjadi satu rangkaian dengan ayat 23 dan 24 (makanya ayat Alkitab jangan suka dipotong-potong karena akan menghasilkan pemahaman yang ngawur dan tidak Alkitabiah!). Dalam satu rangkaian (Lukas 2:22-24), bagian tersebut sebetulnya berbicara mengenai sebuah peraturan keagamaan Yahudi seperti tercantum dalam banyak bagian di Perjanjian Lama, diantaranya Keluaran 13:2,12 yaitu tentang 'pengudusan semua anak sulung' karena 'Tuhanlah yang empunya mereka'. Mengapa? Karena terkait dengan peristiwa Paskah Yahudi yang memperingati keluarnya bangsa Israel dari tanah perbudakan yang related dengan tulah ke-10, yaitu kematian 'tiap-tiap anak sulung di tanah Mesir' (Keluaran 12:29). Anak-anak sulung menjadi milik Tuhan karena mereka sudah diloloskan dari maut, sehingga mereka 'harus dipersembahkan kepada Tuhan'. Penyerahan anak sulung ini menjadi sebuah praktek keagamaan Yahudi yang begitu penting, bahkan pada jaman Musa saat peraturan tentang Kemah Pertemuan ditetapkan, hal ini juga diatur secara khusus berupa 'penyerahan orang Lewi sebagai ganti semua anak sulung yang ada pada orang Israel' (Bilangan 3:45-51). So, apakah hal ini bisa menjadi dasar praktek penyerahan anak masa kini? Jawabnya adalah: tidak!!! Mengapa? Karena orang Kristen tidak memaknai Paskah seperti orang Yahudi memaknai Paskah (betul?). Apakah di setiap Paskah kita memperingati peristiwa keluarnya bangsa Israel dari tanah Mesir? Tidak bukan??? Oleh sebab itu peraturan tentang 'anak sulung yang harus diserahkan' sudah TIDAK RELEVAN lagi karena sudah DIGENAPI DI DALAM DIRI TUHAN YESUS, sebagai 'yang sulung, yang pertama bangkit dari antara  orang mati' (Kolose 1:18).

Jadi, masih mau menerapkan penyerahan anak yang nggak jelas dasar Alkitabiahnya, dan menihilkan baptisan anak yang jelas dasar Alkitabiahnya dan benar?
Harap pertimbangkan lagi!
Kiranya Tuhan terus memperlengkapi kita dengan pemahaman yang Alkitabiah, sehingga kita menjadi domba-domba yang cerdas yang tahu apa dan mana yang benar.

Salam berdaya!

Minggu, 12 Juni 2011

Baptisan Anak part 2

Yang kedua: Dasar alkitabiah untuk baptisan anak

Harus diakui bahwa Alkitab tidak pernah secara eksplisit menyebutkan bahwa anak-anak dalam komunitas umat percaya harus atau bisa dibaptiskan. Namun dari studi biblika, kita bisa menemukan bahwa baptisan anak sebetulnya ada di dalam Alkitab. Saya akan menyebutkan beberapa saja:

Pertama: Alkitab tidak pernah menyebutkan bahwa baptisan anak pernah  menjadi sebuah polemik di dalam jemaat mula-mula, sehingga membutuhkan suatu pembahasan khusus. Menarik untuk diperhatikan, justru yang sering dibahas adalah masalah SUNAT: 'apakah orang non Yahudi yang masuk ke dalam komunitas umat percaya tetap harus disunat?' Hal mana telah diselesaikan melalui Konsili I di Yerusalem yang dipaparkan dalam Kisah Para Rasul 15:1-21.
(note: Hal ini berbeda dengan kasus baptisan ulang, dimana Alkitab dengan jelas menyebutkan bahwa baptisan perlu diulang apabila  belum dilakukan 'di dalam nama Tuhan Yesus', bisa dibaca di Kisah Para Rasul 19:3-5).
Ini bukan sekedar permainan kata, namun betul-betul perlu menjadi pemikiran yang serius. Mengapa? Karena bukti-bukti sejarah menunjukkan bahwa baptisan anak telah dilakukan di jemaat mula-mula!
Dalam sebuah literatur kuno, yaitu sepucuk surat dari Origenes (hidup kira-kira 1 abad setelah jaman para rasul) kepada Jemaat Roma, disebutkan bahwa 'Gereja telah menerima tradisi rasuli untuk memberikan baptisan kepada anak-anak kecil' (Apakah itu Baptisan? LRII, 1995). Jelas ini menjadi bukti bahwa baptisan anak telah dijalankan di bawah otoritas para rasul, sehingga aneh sekali kalau ada gereja masa kini yang menolak baptisan anak... Itu gereja akarnya darimana???  Kesaksian Origenes itu memang tidak seotoritatif Alkitab, namun menjadi sebuah bukti bahwa baptisan anak telah dipraktekkan sejak awal gereja berdiri SECARA NORMAL-NORMAL SAJA, nggak pakai acara berbantah, ngotot-ngototan, bahkan sampai bikin baptisan ulang segala! Kenapa begitu ya? Saya nanti akan jelaskan dibawah

Kedua: Sebetulnya ada banyak bagian Alkitab yang secara logis menunjuk bahwa anak-anak pun telah dibaptis, seperti:
  • Baptisan umat Israel saat MEREKA SEMUA melintasi Laut Teberau yang dimaknai ulang oleh Rasul Paulus dalam 1 Korintus 10:1-2. Secara logika yang sehat, jelas anak-anak juga turut dibaptis. Kenapa? Ya karena anak-anak kan ikut nyeberang?? Masak mereka ditinggal dan orang tuanya nyeberang sendiri???
  • Baptisan satu keluarga, yaitu keluarga kepala penjara Filipi (Kisah Para Rasul 16: 33-34). Disitu dengan jelas disebutkan bahwa baptisan diterima oleh seluruh anggota keluarga, dan pastinya dalam keluarga itu ada anak-anak bukan? Ah, belum tentu! Teman saya saja nggak punya anak, jadi tinggal berdua saja sama pasangannya! Lihat-lihat konteks-nya dong!! Jaman sekarang sih iya banyak pasangan yang karena ingin mengejar karir maka menunda kehamilan. Tapi jaman dulu...? Nggak punya anak bisa menjadi aib besar, bahkan bisa menjadi alasan si suami untuk kawin lagi... Walau memang tidak disebutkan, tapi secara logika mustinya anak-anak pun dibaptiskan dalam keluarga tersebut!
Ketiga: Baptisan adalah penyempurna dari sunat sebagai tanda dan meterai dari perjanjian yang baru, yaitu keselamatan melalui iman kita kepada Tuhan Yesus. Alkitab dengan jelas menyebutkan bahwa baptisan menandakan ‘sunat Kristus’, yaitu penanggalan akan tubuh yang berdosa karena kita dikuburkan bersama Dia dalam baptisan dan dibangkitkan oleh kepercayaan kita kepada kerja kuasa Allah (Kolose 2:11-12). Perhatikan disini, baptisan BUKANLAH MEKANISME atau PROSEDUR yang membuat bagian tubuh kita yang berdosa menjadi tanggal (karena mekanisme itu hanya dapat dilakukan oleh Tuhan Yesus melalui karya penyelamatanNya), namun hanya merupakan sebuah TANDA yang memperlihatkan bagaimana mekanisme itu telah berlaku bagi umatNya (jadi, tidak ada khasiat apapun di dalam praktek baptisan!). Menarik untuk dicermati, bahwa dalam dunia Perjanjian Lama pun sudah ada pemikiran-pemikiran yang ingin menghindarkan kesalahpahaman umat akan khasiat praktek sunat, karena sunat pun seharusnya hanya dianggap sebagai TANDA dari sesuatu yang lebih hakiki, yaitu ‘sunat hati’ (seperti dalam Ulangan 10:16, 30:6). Tampaknya ada sebuah benang merah yang dapat ditarik antara sunat dan baptisan, sehingga jemaat mula-mula pun tidak merasa ragu lagi untuk meniadakan kewajiban sunat bagi orang non-Yahudi yang ingin bergabung dengan mereka (melalui keputusan Konsili I, seperti yang telah saya sebutkan pada poin 1 di atas) dan cukup melalui pembaptisan saja.
Sampai disini seharusnya kita semua sepakat bahwa baptisan memang merupakan penyempurna dari sunat. Dan apabila kita sudah sepakat, maka kita pun musti sepakat bahwa baptisan anak memang telah  dipraktekkan secara wajar dan normal-normal saja oleh jemaat mula-mula, sehingga gereja masa kini pun HARUS MEMBERLAKUKANNYA apabila memang memiliki dasar yang sama, yaitu Alkitab. Kenapa ‘musti’? Karena ‘sunat’ dilakukan atas ‘anak yang berumur 8 hari’ (Kejadian 17:12), dilakukan BUKAN karena ybs sudah mengerti akan arti sunat tetapi karena kewarganegaraan orang tuanya.
Apakah Anda warganegara Kerajaan Sorga? Lalu mengapa Anda ragu untuk memeteraikan anak Anda sebagai warganegara Kerajaan Sorga juga?
Kalau dalam hal memberikan pendidikan kepada anak-anak kita maka kita bisa menjadi begitu otoriter dalam menentukan pendidikan dan sekolah mana yang musti diambil oleh anak-anak kita, masakan dalam hal yang sangat penting dan bernilai kekal - yaitu IMAN - kok kita jadi merasa ragu, bahkan sok demokratis??!!

Selasa, 07 Juni 2011

Baptisan Anak part 1

Sekarang kita akan membahas tentang baptisan anak. Topik ini menarik untuk dibahas karena ada gereja yang menolak baptisan anak dan mereduksinya menjadi sekedar 'penyerahan anak'.
Kontroversi baptisan anak ini sebetulnya sudah  setua gereja protestan sendiri, karena diawal munculnya protestantisme telah muncul gerakan-gerakan radikal yang menginginkan gerakan reformasi dapat mengambil jarak sejauh mungkin dengan gereja resmi saat itu, yaitu Gereja Roma Katolik. Salah satunya adalah sekte Anabaptis yang mengambil sikap menolak baptisan anak dan mempraktekkan baptisan ulang secara selam, hal mana yang sangat dikecam oleh John Calvin. Pada masa Calvin, pemikiran sesat seperti itu berhasil dieliminir, dan para pengikutnya di re-convert. Namun di masa-masa sekarang, bisa kita saksikan bahwa pemikiran tersebut tumbuh begitu subur, bahkan berhasil menggoyahkan sendi-sendi teologi gereja mainstream sehingga banyak umatnya yang akhirnya bersedia dibaptis ulang. Sayang sekali gereja Tuhan tidak sanggup menjaga umatNya dari praktek yang sesat itu, bahkan banyak yang mengira bahwa praktek baptis ulang itu adalah sesuatu yang benar dan alkitabiah!!! Hmmmhh... (menghela napas).
Topik baptis ulang sudah saya bahas sebelumnya (saya bersyukur ada rekan yang akhirnya mengurungkan niatnya untuk menerima baptis ulang setelah membaca artikel tersebut). Kini saya ingin membahas isu baptisan anak yang sebetulnya lebih dasariah, yang akan berkutat pada 3 hal :
  1. Apakah kita sungguh-sungguh memahami makna baptisan?
  2. Apakah yang menjadi dasar alkitabiah dari baptisan anak?
  3. Mengapa kita tidak boleh hanya sekedar melakukan 'penyerahan anak'?

Yang pertama: tentang makna baptisan
Banyak gereja yang menolak baptisan anak karena menganut formula: 'mengaku dan  dibaptis'. Bagaimana mungkin anak-anak bisa mengaku imannya kepada Tuhan Yesus kalau mereka belum memiliki kemampuan 'untuk mengaku', wong masih anak bahkan masih bayi... Jangankan untuk mengaku, wong untuk makan dan mandi saja masih perlu dibantu orang tuanya! Jadi, baptisan anak itu nggak bener... Tunggu sampai mereka cukup dewasa dan cukup mampu utk menyadari pilihan keberimanan mereka kepada Tuhan Yesus, baru boleh dibaptis. Baptisan bukan main-main, betul???
Kelihatannya sih betul, tapi sebetulnya pemikiran tersebut memiliki kesalahan teologis yang fundamental! Apakah itu? Ya tentang makna baptisan? Ngerti nggak sih baptisan itu apa???
Dalam Alkitab, tidak dikenal formula: 'mengaku dan dibaptis', yang ada: 'mengaku dan diselamatkan' (baca Roma 10:10). Baptisan TIDAK menyelamatkan! Mau dibaptis berkali-kali di sungai Yordan pun nggak efek (malahan jadi berdosa karena jadi memper-ilah baptisan), karena yang menyelamatkan adalah PENGAKUAN. Orang yang nggak sempat dibaptis (perhatikan kata 'sempat' disini) namun kalau ybs sudah mengaku imannya kepada Tuhan Yesus, maka IA DISELAMATKAN! Bagi kita yang rajin membaca Alkitab directly (maksudnya yang langsung membaca Alkitab, bukan sekedar membaca buku-buku Kristen yang isinya banyak yang ngawur itu...yang penting bombastis supaya laku di pasaran), maka kita bisa menemukan referensi yang jelas, seperti kisah tentang salah seorang penjahat yang sama-sama disalibkan dengan Tuhan Yesus yang diselamatkan karena PENGAKUAN, tanpa pernah dibaptis! (baca Lukas 23:42-43).
Baptisan adalah TANDA dan METERAI, sesuatu yang nampak oleh mata umat, dan bersifat pribadi dan komunal:
  • pribadi: karena tanda dan meterai itu 'diterakan' pada diri seseorang dimana seseorang tersebut DI-DECLARE sebagai milik Kristus
  • komunal: karena baptisan dilakukan dihadapan jemaat, dan jemaat diminta untuk CONCERN pada pertumbuhan spiritualitas orang yang dibaptis itu. (Di GKI, baptisan selalu dilaksanakan di dalam sebuah ibadah umum, dan apabila ada baptisan darurat di rumah maka baptisan darurat itu akan diumumkan dalam Warta Jemaat, agar seluruh umat mengetahui dan mendukung ybs).
Itulah sebabnya, sekalipun hanya sebagai tanda dan meterai, baptisan tetap perlu dilakukan pada kesempatan-kesempatan terbaik, jangan menunggu menjelang ajal menjemput!

Rabu, 19 Januari 2011

Pluralisme Agama vs Kedewasaan Beriman

Pluralisme Agama merupakan topik bahasan yang menarik untuk dibahas. Mengapa? Karena disana kita bukan hanya berbicara mengenai fakta adanya bermacam-macam keberimanan (yang diformalkan dalam bentuk agama), namun juga karena ada upaya-upaya untuk meng-create temuan paling mutakhir di abad 21, yaitu: The Ultimate Faith, keberimanan yang sifatnya global, yang titik tolaknya berangkat dari - paling tidak - dua hal:
1. Semua agama menyembah pada Tuhan yang sama, dan
2. Kebenaran yang 'ultimate' dapat ditemukan dengan 'mengumpulkan' kebenaran-kebenaran yang terserak di berbagai pengajaran agama.

Dengan keberimanan seperti ini, diharapkan terwujudlah apa yang dikatakan “damai di bumi seperti di sorga“.

Sekedar me-refresh saja, betapa banyak darah yang tertumpah karena alasan 'agama', betapa banyak kebencian dilepaskan karena alasan 'agama', dan ... wow!... betapa kejahatan dan pembunuhan menjadi sebuah panggilan suci karena alasan... AGAMA!
Semua ajaran agama mengajarkan kedamaian dan kebaikan, namun atas nama agama maka perang dan kejahatan mendapat legitimasi, bahkan upah masuk sorga...
Betapa indahnya lantas apabila The Ultimate Faith dapat diwujudnyatakan. Kita semua yang sama-sama keturunan Adam akan kembali menjadi satu saudara karena diikat oleh keberimanan yang sama, sekalipun dengan ekspresi yang bermacam-macam (yaitu ritual atau tata cara ibadah masing-masing). Ritual agama lantas hanya menjadi sebuah context yang boleh saja berbeda-beda wujudnya, namun content-nya sama. So, nggak ada alasan lagi untuk saling bertengkar bahkan menyakiti kan?

Sampai disini kita mungkin sudah bisa menarik kesimpulan bahwa pluralisme agama merupakan sebuah jawaban yang dibutuhkan oleh dunia abad 21 dan abad-abad selanjutnya.
Tapi... Tunggu dulu!

Mungkin ada pembaca yang langsung menyangka bahwa saya adalah seorang pluralis sejati. Sebetulnya tidak, karena saya hanya mencoba untuk memaparkan pemikiran-pemikiran dari sudut pandang seorang pluralis, dan saya berharap pemaparan itu cukup tepat isinya. Bagi pembaca yang menganut paham pluralisme, saya akan sangat berterima kasih apabila Anda berkenan mengoreksi tulisan di atas sekiranya ada hal-hal yang kurang tepat.

Sejujurnya, saya adalah seorang kritikus pluralisme.
Mengapa?

Karena ide pluralisme sebenarnya menunjukkan bahwa manusia sebetulnya tidak siap dengan adanya perbedaan, yang dalam bahasa yang lebih jujur: 'menunjukkan ketidakdewasaan dalam beriman'.
Saat kita masih anak-anak, kita memiliki ego yang sangat tinggi dimana semua permintaan dan keinginan saya musti dituruti. Dunia anak-anak adalah 'dunia saya' dan bukan orang lain. Namun beranjak dewasa, ego ini seharusnya semakin bijak dengan melihat bahwa orang lain pun sama-sama memiliki permintaan dan keinginan, sehingga akhirnya seorang dewasa akan lebih dituntut untuk mampu melihat dunia ini sebagai 'dunia saya dan anda', atau 'dunia kita'.

Ketidakdewasaan membuat seorang gagal berproses dari 'dunia saya' menjadi 'dunia kita'.
Akibatnya ada dua:
1. Dunia = saya. Ini merupakan satu kutub ekstrem yang membuat seorang tidak mampu menerima perbedaan, bahkan membenci perbedaan, sehingga segala yang beda adalah musuh saya. Betapa banyak orang yang seperti ini, sehingga tidak heran muncul kerusuhan berbau SARA, politik apartheid, fasisme, radikalisme, dlsb.
2. Dunia = seolah-olah saya. Ini merupakan kutub ekstrem yang berlawanan dengan yang pertama, dimana segala yang berbeda di-elaborasi sedemikian rupa sehingga seola-olah sama... jadi gue banget. Dalam ajaran agama yang berbeda-beda, mana mungkin kita bisa membuat sebuah konsensus tertentu sehingga ajaran-ajaran itu menjadi sama, padahal jelas-jelas berbeda! Mana mungkin kita bisa membuat sebuah "The Ultimate Faith" sementara yang kita imani di masing-masing agama itu berbeda-beda?

Pluralisme Agama bukanlah jawaban atas tantangan abad 21 yang penuh dengan permusuhan dan kekerasan sosial ini. Bahkan Pluralisme Agama berpotensi menjadikan sistem keberagamaan menjadi kacau dan menjadi pembunuh keberagamaan itu sendiri!

Mungkin pandangan saya agak subyektif, namun dari rekan-rekan pluralis yang saya kenal, saya kok melihat bahwa mereka mulai berani menyaring isi Alkitab sedemikian rupa sehingga hal-hal yang mendukung pluralisme saja yang mereka tekankan, sedangkan yang tidak mendukung.... ditafsirkan ulang menjadi begitu ngawur.
Contohnya Amanat Agung dalam Matius 28:19-20: "jadikanlah semua bangsa muridKu...." dengan begitu kreatif dan ngawur ditafsirkan sebagai: "memuridkan murid", artinya: semua orang adalah murid Tuhan - nggak ada yang bukan murid Tuhan - sehingga tugas kitalah untuk membuat para murid itu menjadi murid yang sejati.... Lalu apa hubungannya dengan 'baptislah...' kalau semua orang sudah dianggap sebagai murid?

Lalu, bagaimana sebaiknya?
Sebetulnya sederhana saja:
1. sadari dan terimalah perbedaan apa adanya
2. pahami perbedaan melalui dialog yang cerdas dan setara, yang semata-mata bertujuan untuk MEMAHAMI PERBEDAAN ITU, dan bukannya untuk menyama-nyamakannya.
3. setelah kita bisa memahami perbedaan, hargailah perbedaan itu sebagai hakikat kehidupan, dan terakhir
4. tetap jalankan ajaran agama kita dengan sikap respect terhadap saudara kita yang berbeda keyakinan.
Inilah seorang yang beriman secara dewasa!

Berbicara tentang penginjilan, seorang Kristen yang beriman secara dewasa tidak akan ragu-ragu dalam menunaikan tugas penginjilannya kepada dunia yang belum mengenal Kristus. Masih ada begitu banyak umat pilihanNya yang terserak dimana-mana yang membutuhkan berita Injil agar dia dapat mengenal dan percaya kepada Tuhan Yesus. Namun lakukanlah penginjilan itu dengan cara-cara yang simpatik dan hormat, sehingga aktivitas penginjilan kita tidaklah justru menjadi pemicu kebencian terhadap kekristenan.

Mari kita tetap 'cerdik seperti ular, namun tulus seperti merpati'  (Matius 10:16)
Salam berdaya!

Selasa, 04 Januari 2011

Balada Pembaptis Ulang part 4

Alasan 3: Masuk gereja, musti baptis ulang?

Saya jadi teringat buku 'Just as I am' karangan Billy Graham, dimana di salah satu bagian terdepan mencantumkan pergumulan ybs saat akan memulai pelayanannya sebagai pendeta gereja B. Kenapa bergumul? Karena sesuai syarat gereja B, maka dia harus dibaptis ulang sesuai tata cara gereja tersebut, yaitu secara selam. Kalau nggak mau baptis ulang, ya nggak bisa melayani sebagai pendeta disitu. Akhirnya BG pun mau dibaptis ulang hanya untuk memenuhi syarat gereja setempat.
Sangat disayangkan, tata cara telah mengalahkan hakikat!
Saya juga punya rekan yang pindah gereja, dan aktif disana. Lalu setelah dia menjadi aktivis, keluarlah fatwa bahwa aktivis yang belum dibaptis selam maka harus dibaptis ulang secara selam. Kalau tidak mau... Ya silakan geser...
Saya hanya ingin bertanya satu hal ke para pembaptis ulang: "Sebagai hambanya Tuhan, saat Tuhan - Tuan Anda - sudah memeteraikan seseorang menjadi umatNya melalui baptisan percik, APA HAK ANDA untuk mencopot meterai yang telah disahkan Tuan Anda dan menganggapnya tidak sah? Apakah Anda merasa lebih tinggi dari Tuan Anda? Atau... Siapakah sebenarnya tuan Anda... Mamon-kah?

Kalau saya menjadi Anda, saya merasa takut karena perbuatan baptisan ulang sebenarnya telah melecehkan Tuhan. Mungkin Anda tidak tahu, mungkin karena ketidaktahuan Anda maka Anda telah berbuat salah.

Berita bagus untuk kita semua: 'Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang' (Yoh 8:11b).

Mudah-mudah tulisan ini bermanfaat bagi kita semua, dan saya membuka diri untuk diskusi lebih lanjut atas topik ini.

Balada Pembaptis Ulang part 3

Alasan 2: Yesus dibaptis selam?

Sekali lagi saya tegaskan bahwa cara baptisan bagi saya pribadi dan bagi gereja saya adalah tidak begitu penting. Mau percik mau selam... Semuanya sah di mata Tuhan. Semua tergantung tata cara gereja masing-masing, dan kebetulan GKI dan gereja-gereja reformed lainnya memakai tata cara baptisan percik.

Cara baptisan tidak menyelamatkan, karena baptisan hanyalah tanda dan meterai dari sesuatu yang lebih prinsip, yaitu iman percaya kepada Tuhan Yesus. Mau dibaptis dengan cara apapun tapi kalau hatinya tidak sungguh-sungguh percaya... Itu adalah kesia-siaan dan hanya sebuah ritual kebohongan spiritual yang keji di mata Tuhan!

Namun menjadi lain masalahnya kalau masalah cara baptisan Tuhan Yesus dijadikan legitimasi untuk melakukan baptisan ulang. Wah... Saya akan berusaha meng-counter hal ini, bahwa Tuhan Yesus dibaptis secara selam! Bukan untuk menyalahkan baptisan selam, namun untuk memberi perspektif lain bahwa ada kemungkinan Tuhan Yesus juga dibaptis dengan cara yang sama seperti Yohanes membaptis orang lain, yaitu mengikuti tata cara yang dikenal oleh agama Yahudi saat itu, yaitu: pemercikan.

Pertanyaan pertama: mengapa mind set bahwa Tuhan Yesus dibaptis secara selam lebih dominan ketimbang dibaptis secara percik? Jawabannya simpel: karena memang dikondisikan demikian. Coba perhatikan film-film tentang kehidupan Yesus, hampir seluruhnya mem-visual-kan pembaptisan Yesus terjadi secara selam. Jadi film telah mempengaruhi pemikiran teologis kita, dan bukannya Alkitab! Pantesan begitu banyak orang yang kebakaran jenggot kala film Da Vinci Code atau Golden Compass diproduksi. Iya lah, mereka kan lebih me-refer ke film ketimbang ke Alkitab! Iman yang didasarkan pada film... mau dibawa kemana kekristenan? Ke Holywood???

Dari kesaksian Injil Matius dan Markus, bahwa 'Yesus keluar dari air' (Mat 3:16, Mrk 1:9), sama sekali tidak berarti telah terjadi penenggelaman atas diri Yesus, tidak ada petunjuk kuat bahwa Yesus telah 100% dibenamkan di dalam air, seperti yang digambarkan oleh film-film. Kalau saya masuk ke sungai sampai ke mata kaki atau lutut atau pinggang, lalu saya naik ke darat, itupun bisa dikatakan bahwa 'saya keluar dari air'. Makanya saya bersyukur ada penjelasan dari Injil Lukas tentang hal ini, bahwa 'Yesus juga dibaptis dan sedang berdoa' ketika langit terbuka dan Roh Kudus turun ke atasNya (Luk 3:21-22). Setelah dibaptis, Yesus berdoa, dan Roh Kudus turun atasNya... Tidak ada penjelasan sedikitpun bahwa Yesus telah diselam... Karena memang tidak perlu dijelaskan, karena memang tidak penting!

Semoga alasan cara baptisan Tuhan Yesus tidak lagi menjadi legitimasi baptisan ulang. Tapi kalau masih ada pembaptis ulang yang tegar tengkuk, saya harapkan Anda untuk bertobat, pelajari lagi Alkitab, dan berhenti menyesatkan jemaat untuk kepentingan pribadi Anda!

Balada Pembaptis Ulang part 2

Alasan 1: Baptisan vs Rantisan

Saya pribadi nggak merasa keberatan dengan kedua praktek baptisan yang secara umum dikenal, yaitu baptisan percik dan baptisan selam. Sebagai anggota jemaat GKI yang reformed, saya dibaptis secara percik, yakni saat saya masih bayi yang dikenal dengan baptisan anak (ini juga bisa menjadi topik yang menarik untuk diulas, di lain kesempatan ya), lalu di-sidi saat saya remaja (diawali dengan kelas pelajaran agama Kristen selama beberapa bulan). Namun saya sama sekali nggak keberatan dengan praktek baptisan selam, bahkan kesannya lebih mantap ya, lebih berasa daripada sekedar percik-percik.
GKI pun mengambil sikap yang sama. GKI menerapkan tata cara baptisan percik, namun mengakui baptisan selam juga. Maksudnya begini: kalau ada simpatisan yang sudah dibaptis secara selam di gereja lain dan yang bersangkutan ingin menjadi anggota jemaat GKI, maka baptisan selamnya tetap diakui GKI. Yang bersangkutan cukup mengikuti pelajaran agama Kristen (katekisasi), lalu sesudahnya mengaku percaya dengan penumpangan tangan, tanpa perlu dibaptis percik lagi. Baptisan selam yang sudah diterimanya adalah sah dan diakui GKI. Ini baru namanya gereja yang benar ajarannya dan Alkitabiah!

Jadi stand point nya sudah jelas: cara baptisan percik atau selam, saya tidak mempermasalahkan. Monggo dilaksanakan sesuai tata cara gereja masing-masing.

Lalu, apa masalahnya? Yaitu saat baptisan diulang, biasanya dari baptisan percik ke baptisan selam. Ini lain ceritanya, dan saya betul-betul mengecam praktek baptis ulang seperti ini, karena betul-betul melecehkan Tuhan!

Biasanya para pembaptis ulang akan memulai dengan sebuah dogma bahwa baptisan yang Alkitabiah seharusnya dilakukan secara selam. Mengapa? Karena kata 'baptizo' yang dipakai dalam perikop terkait mengandung pengertian 'penenggelaman'. Jadi, ya jelas baptisan musti dilakukan secara selam. Sedangkan baptisan percik... Percik itu sendiri bahasa aslinya adalah: 'rantiso'. Jadi kalau seorang sudah dibaptis secara percik, sesungguhnya dia BELUM DIBAPTIS, namun BARU DIRANTIS....

Bagaimana saya bisa meng-counter pemahaman yang keliru ini?

Mudah saja, tapi mohon maaf kalau penjelasan saya ini agak 'menyerang' praktek baptis selam yang saya hormati dan hargai.

Ada 2 hal:

Pertama: di seluruh bagian Alkitab, saat kata 'baptizo' dan turunannya digunakan, maka kata itu hampir seluruhnya menunjuk pada pemercikan atau pembasuhan, seperti tata cara penyucian yang diatur dalam Hukum Taurat (misal: Markus 7:4, Lukas 11:38, 1 Korintus 10:1-2, dsb)
Bisa dibilang, Alkitab tidak mengenal tata cara penenggelaman, kecuali kisah Naaman yang harus mandi 7 kali di sungai Yordan.

Kedua: Yohanes hampir tidak mungkin melaksanakan penenggelaman.
Mengapa? Karena dia adalah keturunan imam Lewi yang tentu sangat familiar dengan tata cara upacara dan peribadatan Yahudi. Dia hanya mengenal pemercikan, seperti yang biasa dikenal dan dilakukan oleh para imam pada saat itu (banyak terdapat di Kitab Imamat dan Bilangan). Dan coba bayangkan... Sekiranya Yohanes membaptis secara selam di sungai Yordan, bagaimana caranya agar dia bisa membaptis para wanita tanpa harus melanggar hukum Taurat? Dengan memegang wanita yang bukan istrinya, lalu menenggelamkannya, dan mempersilakan sang wanita pulang ke rumah dalam keadaan basah kuyup? Betapa hal itu menjadi kegiatan gila yang melecehkan dan memalukan! No way! Saya percaya, sebagai keturunan imam Lewi maka Yohanes melakukan pembaptisannya dengan cara yang dikenalnya, yaitu pemercikan!

Balada Pembaptis Ulang part 1

Saya sangat berminat dengan isu ttg baptisan ulang, sehingga topik ini menjadi bahasan sekaligus prioritas pertama saya dalam refleksi teologis saya. Oya, karena sifatnya refleksi, bahkan ada kata 'spark' disana, maka setiap ulasan dalam artikel ini bukanlah jurnal teologi yang terlalu ilmiah dan serius. Bahkan saya membayangkan bahwa setiap tulisan dalam artikel ini hanya akan menjadi sebuah kata pembuka diskusi lanjutan dari pembaca sekalian yang berminat.

Mari mulai dengan topik pertama...

Baptisan ulang... Mustinya bukan isu yang terlalu baru lagi bagi kita. Bahkan saat Johanes Calvin masih hidup, dia pun sudah berjuang menghadapi praktek baptis ulang dari kalangan Anabaptis yang 'cukup sukses' menyesatkan jemaat.

Saya disini tidak akan menunjuk atau menyalahkan  umat pelaku baptisan ulang, karena mereka hanyalah korban dari 'tipuan spiritual' dari para pembaptis ulang. Dalam banyak case, keputusan untuk melakukan baptisan ulang bahkan diambil dengan suatu niatan yang luhur untuk 'memperbaiki atau menyempurnakan kehidupan spiritual' seperti yang diajarkan oleh para pembaptis ulang.

Oke, jadi saya langsung pointing pada para pembaptis ulang, yaitu para pendeta, pastor, atau rohaniawan Kristen yang memang mempraktekkan baptisan ulang.

Pertanyaan pembuka: 'mengapa harus ada baptis ulang?'

Jawabannya gampang dan standar:
1. Karena baptis percik bukanlah 'baptisan' tapi 'rantisan'
2. Karena Kristen musti mengikuti teladan Tuhan Yesus yang di baptis dengan cara diselam
3. Karena perlu upacara inisiasi untuk mengesahkan seseorang menjadi anggota jemaat suatu gereja menganut baptisan ulang

Mari kita bahas satu persatu...