Kamis, 21 Februari 2013

CSS: Doa 1

Matriks CSS
Dalam kuadran kedua, kita akan berbicara mengenai 'doa'. Seperti halnya khotbah, doa pun merupakan bagian yang penting dalam suatu peribadahan. Di gereja saya, ada cukup banyak doa dalam ibadah, yaitu:
  • doa pribadi diawal dan akhir ibadah
  • doa pengakuan dosa
  • doa sebelum khotbah (epiklesis)
  • doa sesudah khotbah (yang ini opsional bisa juga diisi saat hening, instrumentalia, atau altar call)
  • doa syafaat
  • doa persembahan
Dan dalam ibadah-ibadah khusus, jumlah doa nya bisa lebih banyak lagi.
Saya tidak akan membahas mengenai doa-doa seperti apa yang seharusnya dilakukan dalam ibadah, namun lebih kepada: bagaimana doa itu menjadi sebuah moment yang dirindukan, sebagai sebuah kesempatan untuk berbicara kepada Tuhan dan bukan sekedar menjadi sebuah urutan dalam tata ibadah.

Dalam kisah penahbisan Bait Allah oleh Raja Salomo yang tercatat dalam kitab 1 Raja-Raja pasal 8, kita membaca bahwa doa yang dinaikkan dalam Rumah Tuhan (dalam hal ini adalah Bait Allah Yerusalem) adalah doa yang 'spesial' dan 'didengar' bahkan 'niscaya dijawab/dikabulkan' oleh Tuhan (dari pemahaman ini muncul konsep kiblat dalam agama Yahudi, baca 1 Raja 8:30, 48). Dalam Perjanjian Baru, konsep 'doa di Rumah Tuhan' itu diluaskan sehingga tidak merujuk pada Bait Allah Yerusalem saja, yaitu:
  • berdoa/menyembah dalam roh dan kebenaran (baca Yoh 4:24 ), artinya berada dalam dimensi yang tidak terikat pada tempat/lokasi, waktu dan seremoni tertentu
  • tubuh kita disebut sebagai Bait Roh Kudus (baca 1 Kor 6:19), artinya Tuhan begitu dekat dengan kita sehingga kita dapat memanggil namaNya kapan dan dimana saja, selain juga mengandung pengertian bahwa kita harus menjaga kekudusan hidup kita.
Ada kalangan yang secara keliru menafsirkan kedua hal diatas sebagai pembenaran atas kemalasan mereka untuk tidak datang beribadah ke gereja, bahkan untuk berdoa. Untuk apa lagi ke gereja, kan kita ini sendiri Bait Roh Kudus? Bahkan ada yang memandang gereja sebagai kelanjutan dari konsep Bait Allah Yerusalem yang sudah  'dirombak' Tuhan Yesus (dan yang dibangunkan kembali di dalam diriNya melalui kuasa kebangkitanNya, baca Yoh 2:19-22)
Ini jelas pemikiran yang nggak benar dan - tentu saja - tidak Alkitabiah. Mengapa? Saya bisa menyebutkan banyak alasan, tetapi saya sebutkan 2 saja:
  1. Komunitas Kristen perdana selalu beribadah di dalam Bait Allah Yerusalem, selain ibadah di rumah-rumah (baca Kis 2:46)
  2. Adanya sebuah ajakan untuk tidak menjauhkan diri pertemuan-pertemuan ibadah (baca Ibrani 10:25)

Memang kita sudah tidak perlu lagi beribadah di Bait Allah Yerusalem yang saat ini sudah tidak ada lagi. Tidak perlu jauh-jauh datang ziarah ke Yerusalem untuk sekedar menyampaikan suatu doa atau permohonan kepada Tuhan, karena kita yakin bahwa dimanapun juga kita berdoa maka Tuhan pasti mendengar dan mengabulkan doa yang seturut dengan kehendakNya. Namun aktivitas 'berdoa di Rumah Tuhan' tetaplah merupakan aktivitas ibadah yang perlu kita lakukan dengan sebaik-baiknya. Mengapa? Bukan karena doa di Rumah Tuhan itu lebih ampuh/mujarab dan kemungkinan terkabulnya lebih besar, tetapi karena di gerejalah (seharusnya) kita menemukan moment doa yang terbaik! Doa memang dapat dilakukan sendiri di dalam kamar yang tertutup (baca Matius 6:6). Tetapi manusia seringkali membutuhkan contoh, motivator, bahkan teladan dari orang lain dalam menjalankan aktivitas doa, dan itu dapat ditemukan dalam ibadah doa di gereja. Bagaimana pun berdoa bersama-sama dengan orang lain dapat lebih memotivasi ketimbang berdoa seorang diri, betul? Untuk itulah dalam bagian-bagian berikut ini kita akan membahas hal ini, yaitu doa pribadi dan doa bersama di dalam gereja, serta sebuah usulan untuk memodifikasi doa syafaat.

DOA PRIBADI

Apa bedanya doa pribadi dan doa bersama?
Beda yang paling jelas adalah dalam hal inisiatif: doa pribadi merupakan inisiatif pribadi (karena memang saya ingin/butuh berdoa), sedangkan doa bersama merupakan inisiatif tata ibadah (ya memang urutannya tata ibadahnya begitu) atau inisiatif pemimpin ibadah (liturgos/pendeta).
Mengapa perlu saya bedakan antara doa pribadi dan bersama? Kan sama-sama doa...
Bagi saya, masalah 'inisiatif doa' ini perlu kita perhatikan karena menjadi sebuah cermin dari suatu kondisi bergereja yang lebih besar dan krusial.

Ada banyak momen doa pribadi dalam suatu ibadah. Masalahnya: tidak semua orang mau memanfaatkan momen tersebut. Mengapa? Simpel saja: karena memang tidak butuh! Dan saya yakin mereka pun tidak pernah - atau jarang - berdoa pribadi di rumah.
Sebetulnya sangat disayangkan kalau gereja gagal 'membentuk' umatnya menjadi umat yang gemar berdoa, atau malah sebaliknya, gereja 'berhasil' membentuk umat yang nggak butuh berdoa, bahkan skeptis dengan doa. Semoga tidak pernah terjadi yang demikian! Namun saya pribadi memiliki 'kekuatiran' bahwa memang ada umat yang tidak bisa, tidak butuh, atau tidak mau berdoa!
Saya pernah mendengar sharing seorang ibu tentang anaknya yang bergereja di sebuah GKI. Anaknya sampai remaja nggak bisa berdoa, dan memang nggak ada seseorang yang membimbing anak tersebut dalam hal pertumbuhan spiritualitas. Nah, parahnya, anak tersebut kemudian pindah ke sebuah gereja kharismatik dan sekarang dia sangat pintar berdoa, rajin membaca Alkitab, bahkan terpanggil untuk menjadi pelayan fulltime di gereja tersebut. Ini kan parah banget, karena menunjukkan bahwa 'gereja kharismatik itu' ternyata lebih mampu membangun spiritualitas umatnya ketimbang 'sebuah GKI itu' (saya tidak menunjuk ke semua GKI, karena ada banyak GKI yang concern dengan pertumbuhan spiritualitas umatnya).
Apa yang mau saya sampaikan disini? Singkatnya: umat yang sadar/haus/tahu berdoa adalah merupakan cermin dari  pembinaan spiritualitas gereja tersebut! Dengan kata lain: doa pribadi merupakan sebuah akibat, bukan sebab dari sebuah pembinaan spiritualitas. Dan pembinaan spiritualitas merupakan sebuah indikator dari maju-mundurnya sebuah gereja (baca lagi bagian-bagian sebelumnya). Coba lihat, berapa banyak umat yang sungguh-sungguh berdoa dalam momen doa pribadi, disitu akan terindikasi gereja tersebut akan terus bertumbuh atau mengering.
Jadi, berbicara tentang 'doa pribadi' kita tidak cukup menghimbau, berkhotbah, atau mewartakan tentang gerakan doa. Perlu, tetapi tidak cukup. Diperlukan sebuah keteladanan dan hati yang sungguh-sungguh rindu untuk membawa umat menjadi lebih maju spiritualitasnya.

Lalu, bagaimana caranya agar umat dapat lebih maju spiritualitasnya? Menjadi sebuah problem bagi banyak gereja, saat acara-acara bina spiritualitas kekurangan peminatnya. Katakanlah hanya sekitar 10% sampai 20% umat yang mau mengikuti acara pembinaan. Sisanya sudah merasa cukup dengan mengikuti ibadah minggu.
Saya pikir tidak ada yang salah dengan keadaan itu. Tidak masalah 10% atau 20%. 1% bahkan satu dua orang pun tidak menjadi masalah, sepanjang mereka benar-benar terbina! Terkadang acara pembinaan lesu peminat karena memang acara dan materinya kurang greget. Kalau ini masalahnya, ya selesaikanlah dulu masalah 'kurang greget' itu supaya bisa 'lebih greget'. Tapi kalau pembinaan sudah dilakukan dengan maksimal tetapi peminatnya masih minim, saya sarankan untuk tetap melanjutkan dengan sukacita dan bersyukur. Ada banyak gereja besar yang dimulai dari satu dua orang (dan dengan dana nyaris Rp 0,-) namun karena konsistensi, hati yang sungguh rindu untuk berbagi Firman Tuhan, dan komitmen yang besar dari satu dua orang itu untuk membangun Rumah Tuhan, maka dapat terhimpunkan sejumlah besar orang untuk bergabung. Loh ini kan curi domba? Jadi boleh dong? Itu beda, Saudara. Yang disebut 'curi domba itu contohnya:  menjemput umat yang baru selesai beribadah di suatu gereja untuk 'lanjut' beribadah ke gereja lain, atau PDKT ke aktivis/tokoh/domba gemuk untuk pindah ke gereja lain dengan iming-iming uang/jabatan/first seat, hingga - yang paling sering terjadi - menjelek-jelekkan gereja lain sebagai GKI (Gereja Kurang Iman), GKU (Gereja Kurang Urapan), dsb. Itu yang disebut curi domba yang - saya yakin 100% - berasal dari Iblis yang membawa roh pemecah (baca Gal 5:19-21).

Saya paling anti dengan aktivitas curi domba. Tapi kita jangan lupa, bahwa domba-domba itu bukan milik kita. Domba-domba itu 100% milik Tuhan, dan Tuhan juga memperhatikan 'kandang'nya yaitu gereja tempat domba-domba itu dipelihara. Kalau 'kandang'nya ternyata hanya sanggup memelihara 100 domba dan bukan 1000 domba, ya pastilah Tuhan akan memindahkan 900 domba itu ke 'kandang' lain yang lebih mampu, dan menyisakan 100 domba di 'kandang' yang lama. Atau bila sebuah 'kandang' sudah tidak mampu lagi menjalankan fungsi pemeliharaan domba, maka seekor domba pun tidak akan Ia biarkan 'tersesat' di 'kandang' tidak bermutu itu! Biarkan Tuhan yang empunya domba-domba itu yang menentukan perpindahan domba, hal ini akan jelas terlihat dalam 'proses'nya yang berjalan dengan wajar tanpa harus memakai 'strategi curi domba' yang macam-macam. Saya berharap Saudara dapat membedakan kedua hal ini.
Gereja saya termasuk gereja yang pernah mengalami penurunan jumlah umat sebesar hampir 50% dalam tempo 10 tahun. Dalam masa-masa 'suram' itu, segala daya upaya dilakukan untuk menahan laju 'kejatuhan', sampai-sampai memanggil pengkhotbah dan pendeta konsultan dari luar GKI, mungkin anggapan orang saat itu bahwa pendeta non GKI  lebih mampu dan lebih punya 'urapan' ketimbang pendeta GKI sendiri (ini mungkin, karena pada masa-masa  itu saya belum berada di dalam struktur kemajelisan). Namun tetap saja upaya itu tidak sanggup menahan lajunya 'kejatuhan'. Namun puji Tuhan pengalaman itu membuat kami belajar mengenai: bagaimana kami menyelenggarakan sebuah gereja yang lebih berkenan kepadaNya, sehingga Ia pun mulai mempercayakan kembali domba-dombaNya untuk dipelihara di dalam gereja kami. Meskipun saat BUSA ini ditulis gereja saya belum sepenuhnya mengalami 'pemulihan', namun saya dan segenap pengurus gereja telah melihat sebuah track yang begitu jelas akan masa depan bergereja yang lebih baik. Dan untuk hal itulah buku ini ditulis, sebagai sebuah sharing pengalaman dan pemikiran yang mungkin berguna untuk membangun environment bergereja yang lebih baik.

Ulasan ini memang jadi panjang, tetapi saya berharap gereja-gereja mulai lebih memikirkan dan membangun sebuah blue print pembinaan spiritualitas yang baik dan diminati, sehingga tercermin melalui kegairahan umatnya dalam berdoa.

Rabu, 23 Januari 2013

GKI Perumahan Citra 1



http://www.gki-citra1.org

Minggu, 20 Januari 2013 saya beribadah di GKI Perumahan Citra 1. Sebetulnya saya sudah cukup sering datang ke gereja tersebut, namun baru kali ini sempat membuat beberapa catatan dari hasil pengamatan saya sebagai seorang ‘tamu’ yang tentunya memakai kacamata ‘first impression’, alias kesan yang pertama kali saya tangkap. Apabila ada rekan yang anggota/simpatisan GKI Perumahan Citra 1 yang ingin membetulkan atau mengomentari catatan saya ini, monggo, silakan dengan senang hati.

PENGUNJUNG IBADAH
Sekitar 600-700 umat menghadiri ibadah minggu di 6 kali ibadah (Umum 1-3, Pos PI, Pemuda, Remaja), dan sekitar 200-300 anak sekolah minggu di 2 ibadah anak

JADWAL KEGIATAN
Gereja ini sudah punya website seperti di atas, silakan klik saja disana, maka banyak informasi yang dapat kita temukan disana. Good start!

FISIK GEREJANYA
Namanya saja ‘gereja perumahan’, jelaslah lokasinya ada di dalam perumahan, menempati areal seluas 1 blok, dengan bangunan gereja dan rumah (pastori?) yang berdiri di atasnya. Cukup ideal sebagai sebuah kompleks gereja, sekalipun – sebagai seorang tamu – saya merasa lokasinya begitu jauh karena berada di tempat yang paling ujung…
Dari luar, gereja ini tampak tidak terlalu besar, hanya bangunan stand alone satu lantai dengan sebuah menara (menara lonceng?) yang nggak terlalu tinggi di depannya. Namun saat masuk di dalamnya, terasa suasana yang cukup lapang dan lega, dengan langit-langit cukup tinggi, dan berkapasitas tempat duduk sekitar 300 seats. AC nya sudah sentral (wow untuk ukuran gereja yang nggak terlalu besar seperti ini), menjamin suhu ruangan yang nyaman dan merata disemua bagian. Sound system juga terasa begitu jernih dan empuk, dan diperlengkapi dengan 2 LCD monitor yang pas posisinya sehingga tidak melelahkan mata maupun leher.
Ada 2 buah catatan saya tentang ‘fisik’ ini:
1.       Agak nggak lazim sebuah gereja Protestan memasang begitu banyak jendela berkaca mozaik, karena jadi mirip gereja Katolik. Saya hitung tak kurang dari 14 kaca mozaik dipasang di gereja ini: 2 kaca mozaik besar di kanan kiri pintu masuk, dan 12 kaca mozaik di jendela di dalam ruang ibadah. 12 kaca mozaik ini juga unik, karena - perasaan saya - menggambarkan 12 jalan salib… saat khas katolik (koreksi saya bila saya salah)
2.       Di depan mimbar pendeta, dipasang sebuah meja (altar?) dengan 2 vas bunga berdiri di atasnya. Saya kok merasa 2 vas bunga itu terlalu besar dan mendominasi, mungkin dapat diganti dengan vas yang lebih kecil dan minimalis (ini sekedar saran loh)

PENYAMBUTAN
Maaf, saya nggak ada catatan tentang hal ini, karena saya terlambat 10 menit karena siangnya saya sibuk membantu pengungsi banjir di Grogol (ngeles nih ceritanya)

MUSIK
Gereja ini tampaknya hanya memanfaatkan alat music organ dan piano up right. Dengan interior gereja yang mendukung, sebetulnya akan lebih mengesankan kalau digunakan grand piano, atau minimal baby grand piano (mau nyumbang nih ceritanya…). Organnya sendiri sudah pakai Organ Roland (Atelier kalau nggak salah) sudah sangat mumpuni sebagai organ gereja, tinggal pemafaatannya saja yang perlu dioptimalkan. Untuk memandu nyanyian jemaat, ada prokantor yang cukup nge-lead suaranya, juga dengan tayangan multimedia yang – ini perlu dicontoh – menayangkan full not angka di setiap lagunya. Memang nggak semua orang bisa membaca not angka, namun paling tidak ini menunjukkan keseriusan gereja untuk membina jemaatnya dalam menyanyi pujian dengan benar.

KHOTBAH
Disampaikan dengan semangat oleh seorang penatua yang mungkin calon pengerja disana dengan materi yang saya rasa cukup relevan dengan kondisi setempat dan GKI pada umumnya, yaitu masalah keterlibatan umat dalam ministry gereja. Salah satu kekuatan GKI memang disini: pelibatan jemaat dalam pelayanan, sehingga sekalipun GKI bukanlah gereja yang nge-pop (alias gereja popular dalam gaya kotbah dan musiknya), bahkan cenderung konservatif dan old-fashioned, namun masih dapat terus bertumbuh pesat menjadi 200 lebih jemaat dan mungkin sekitar 250 ribuan orang umat karena jemaat didorong untuk memiliki rasa memiliki. Namun seiring dengan melonggarnya ikatan keluarga, dimana anak-anak menjadi semakin mandiri terhadap orang tuanya, mungkin harus mulai dipikirkan secara serius oleh GKI akan strategi penjangkauan kaum muda yang tentu membutuhkan gaya yang lebih nge-pop dan kreatif.

Sekian ulasan saya
Mohon masukan (bila ada), dan
Salam berdaya!

Minggu, 09 Desember 2012

Scientisme vs Agama

Seorang berilmu membaca banyak buku dan ingin terus belajar
Seorang religius hanya membaca satu Buku (yakni kitab suci) dan mengklaim telah memahami segala sesuatu.

Pernyataan yang menyindir orang religius itu saya baca di dalam sebuah komentar di salah satu akun FB seorang mantan pendeta Kristen yang agaknya telah menjadi penganut Scientisme.

Apakah itu Scientisme?
Scientisme adalah 'anak kandung' humanisme, yaitu filsafat yang mengagungkan potensi manusia yang nyaris tanpa batas, dengan penekanan pada ke-aplikasi-an metode ilmiah (logika, pengujian, pengukuran, pembuktian) pada berbagai (bahkan semua) hal, termasuk agama (lihat definisi lain di http://en.m.wikipedia.org/wiki/Scientism).

Dalam persepektif scientisme, segala hal yang tidak logis, tidak teruji, tidak dapat diukur, dan yang tidak dapat dibuktikan adalah: omong kosong, delusi, kebodohan (apabila tetap dipercayai)... Dapat dibayangkan, bagaimana seorang penganut scientisme memandang Alkitab yang penuh dengan hal-hal yang tidak logis dan yang tidak/susah dibuktikan, seperti: penciptaan alam semesta hanya dalam tempo 7 hari, tanah yang ditiup lalu menjadi manusia yang hidup, ular yang dapat berbicara, manusia yang dapat berjalan di atas air, kapak besi yang dapat terapung di air, dll...dll...

Sebetulnya tidak ada yang salah dengan ke-ilmiah-an, bahkan kita pun tahu ada banyak ilmuwan yang masih menjadi penganut agama Kristen (maupun agama lain) yang saleh. Sekolah-sekolah Kristen pun tidak ragu untuk mengajarkan Sains di dalam kurikulumnya, bahkan yang namanya Sekolah BPK Penabur itu merupakan langganan juara Sains tingkat nasional bahkan internasional.

Menjadi problem kalau ke-ilmiah-an manusia yang hebat itu dianggap sebagai SATU-SATUNYA pola atau cara berpikir. Tak terhindarkan mereka akan memandang agama sebagai sumber pembodohan manusia bahkan racun/candu masyarakat yang menimbulkan delusi massal. Mereka 'menuduh' agama sebagai sebuah 'cara gampang' (alias cara nge-les) untuk menjelaskan  sesuatu yang 'belum terjelaskan' oleh pemikiran manusia, membuat manusia menjadi malas berpikir, malas belajar, dan akhirnya benar-benar membuat manusia menjadi mahluk bodoh yang terus diperdaya oleh dogmatisme para rohaniawan.

Hal ini menjadi tantangan yang sungguh sangat real dan relevan bagi gereja masa kini, karena memang perkembangan peradaban manusia saat ini sedang berada di puncak-puncaknya,  seolah-olah segala hal mampu dijawab dan diatasi oleh otak manusia. Konsep keTuhanan perlahan-lahan luntur, dan aktivisme keagamaan bisa menjadi sesuatu yang irrelevan dengan perkembangan jaman.

Para teolog sebetulnya telah berusaha untuk memperkecil gap antara sains dan agama, dengan membuat berbagai pendekatan teologi, seperti:

1. Pendekatan metode kritis, baik dengan melakukan penelitian teks, penelitian sejarah, dan sebagainya (yang ini jelas ilmiah), bahkan sampai melakukan pemilahan/pemisahan mitos-mitos (misalnya demitologisasi ala Bultmann), yaitu dengan  membuang bagian-bagian yang dianggap 'mitos' dan hanya mengambil inti pesan keagamaan (kerygma) di dalamnya. Pendekatan ini mungkin berhasil memberi kesan 'pintar dan ilmiah' pada beberapa aspek teologi Kristen. Namun di sisi lain, pendekatan ini membuat para teolog pintar itu bak sedang mengupas bawang, alias get nothing, tidak mendapat nilai tambah apapun pada pertumbuhan spiritualitas, bahkan membuat kekristenan menjadi sangat relatif, sangat serupa dengan dunia...makin abu-abu dan cenderung permisif dengan 'gelap'. 

2. Pendekatan penafsiran alegoris yang memberi makna tertentu pada berbagai hal yang disebut 'mitos', misalnya dalam 2 Raja-Raja 6:5-7, yang bisa ditafsirkan sbb:
- mata kapak yang terlepas dari tangkainya dan tenggelam, dimaknai sebagai: manusia yang terpisah dari Tuhan dan  terbenam di dalam dosa
- batang kayu yang dilemparkan, dimaknai sebagai: Tuhan Yesus yang bersedia masuk ke dalam dunia yang berdosa untuk mengangkat manusia dari dosa, dan
- kapak yang timbul/terapung, dimaknai sebagai: manusia yang telah mengalami pembaharuan hidup dan menang atas kuasa dosa
Penafsiran alegoris memang dapat digunakan untuk menjelaskan berbagai hal secara lebih segar dan tampak relevan. Namun di sisi lain pendekatan ini dapat memunculkan kekacauan hermeunetika, membuat cara menafsir yang 'semau-gue' yang menimbulkan kegagalan kita dalam memahami Firman Tuhan yang sebenarnya.

3. Pendekatan literal yang menerima teks Alkitab secara apa adanya dengan penekanan pada doktrin 'ke-tanpa-salah-an Alkitab', sebuah posisi ekstrem kanan yang secara frontal berhadapan dengan scientisme maupun teologi modern, dan sering di-cap fundamental dan radikal, bahkan serupa dengan dogmatisme abad pertengahan. Namun di banyak tempat, pendekatan literal ini justru menguat dan diminati karena 'memberikan kepastian keberimanan yang kokoh' di tengah situasi jaman yang tidak menentu saat ini.

Lantas bagaimana sikap kita sebagai warga jemaat GKI?

Biasanya GKI mengambil jalan tengah yang menjauh dari kegaduhan yang tidak perlu dan kontra produktif. 'Gitu aja kok repot', begitu istilah populer Gus Dur yang sering dengan tepat menggambarkan diri kita. Iyalah, ngapain juga repot, toh masalah beginian tidak akan merubah jalan keselamatan kan? Sekali selamat, tetap selamat, begitulah keyakinan iman GKI. Tapi tentu kita harus berkata dan bersikap sesuatu yang dapat memperlengkapi diri kita saat kita membentur atau bersinggungan dengan scientisme ini.

Pertama: mencampuradukkan sains dan agama jelas merupakan sebuah kesalahan fatal dan sekaligus menunjukkan ketidakdewasaan dalam berpikir. Sains bukan agama, agama bukan sains. Di dalam agama memang ada bau-bau sains, misalnya: tentang matahari yang beredar mengitari bumi, bahkan yang pernah berhenti beredar(baca Yosua 10:12-14). Tetapi hal ini janganlah lantas harus diteropong melalui 'kacamata kuda' sains, untuk membuktikan kesalahan isi Alkitab (karena faktanya yang beredar itu kan bumi, bukan matahari). Janganlah karena mengandung kesalahan secara ilmiah lantas Alkitab harus 'dimuseumkan' karena isinya sudah terbukti salah. Mari tempatkan Alkitab sebagai Firman Tuhan yang menjadi pedoman hidup umat percaya, yaitu untuk  mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan, dan mendidik orang dalam kebenaran (baca 2 Timotius 3:16), dan bukannya untuk belajar sains!

Kedua:  Alkitab selalu berbicara dalam bahasa yang dapat dipahami manusia dalam konteksnya masing-masing, karena kalau Tuhan membuka segenap rahasia diriNya dan ciptaanNya di dalam Alkitab, bisa dibayangkan betapa Alkitab akan menjadi buku yang tidak akan pernah dibaca, dipahami, bahkan dipercaya oleh manusia! Mengapa? Karena kemampuan berpikir manusia itu terbatas. Tuhan Yesus pun pernah mengingatkan hal ini, bahwa untuk hal-hal duniawi saja manusia sering sulit untuk percaya, apalagi untuk hal-hal surgawi (baca Yohanes 3:12). Lucu sekali saat saya berbicara dengan seorang penganut scientisme, mereka tidak pernah mau mengaku bahwa otak manusia itu pasti ada batasnya. Mereka nge-les sedemikian rupa, pakai sidetracks/pengalihan macam-macam untuk menghindar  berbicara mengenai hal tersebut (karena memang mereka 'beriman' akan ketidakterbatasan otak manusia). Dan, ternyata manusia sendiri sebetulnya sering (dan senang) memakai ungkapan yang sebetulnya kita tahu hal itu tidak tepat, seperti masih mengatakan: 'matahari terbit di ufuk timur dan terbenam di ufuk barat', dan bukannya 'bumi be-rotasi menghadap matahari atau membelakangi matahari'. Hal itu terjadi karena memang adanya keterbatasan dalam bahasa manusia, sesuatu yang sangat dimaklumi Tuhan, tetapi - anehnya -  tidak dimaklumi oleh penganut scientisme.

Ketiga: mungkin yang ditunggu-tunggu adalah: bagaimana kita dapat menjelaskan berbagai kisah Alkitab yang 'tidak logis' yang 'tidak terbuktikan' dan yang 'tidak dapat diuji kebenarannya', terutama kepada penganut scientisme? Saya jawab secara singkat saja: mereka tidak membutuhkan penjelasan apapun karena mereka sudah jauh lebih tahu ketimbang kita, dan mereka sudah memiliki sikap sendiri. Kita bisa saja mencoba menjelaskan melalui pendekatan metode kritis, penafsiran alegoris, literal, dan lain sebagainya. Itu tidak akan mempan! Yang mereka butuhkan hanyalah: sentuhan kasih Tuhan yang bisa mereka dapatkan melalui sentuhan kasih kita! Dan jangan lupa: doakan mereka! Apabila mereka adalah terhitung sebagai umat yang Tuhan pilih untuk diselamatkan, pasti suatu hari kelak mereka akan melihat ke-Maha-Kuasa-an Tuhan yang melampaui kemampuan otak mereka, dan mulut mereka pun akan mengaku: 'Ya Tuhanku dan Allahku!' (Yohanes 20:28).

Salam berdaya!
TKS - 01/12/12

Pohon Natal tanpa Lampu Natal

Bagian ini didedikasikan untuk kekasih kita, para Pahlawan Allah, yang telah menang dan menunjukkan keteladanan iman yang memberi kesan yang mendalam; tidak hanya berbicara mengenai mereka yang sudah kembali ke Rumah Sejati, namun juga menjadi sharing kita yang masih tinggal dalam kefanaan dan bergumul dengan misteri kehidupan yang bernama: kehilangan. Kiranya kolom ini menjadi sarana untuk saling berbagi, dan silakan mengirimkan kesaksian Anda (teks dan foto) ke alamat email kami: militiachristi2010@gmail.com 


 A Christmas Tree without Light
(Sebuah perziarahan dalam mencari makna kehidupan dan kematian)

Tentu kita semua sudah tahu tentang 7 hari penciptaan seperti yang terdapat dalam Kitab Kejadian.

Hari pertama Tuhan menciptakan terang. Terang itu bukanlah sembarang terang, karena terang itu ada TANPA adanya benda penerang (karena benda-benda penerang baru tercipta pada hari ke-4), bahkan terang itu sanggup mendukung kehidupan tumbuh-tumbuhan (yang sudah tercipta lebih dahulu, yaitu pada hari ke-3). Saya pernah membaca tulisan seorang skeptik tentang hal ini, yaitu: bagaimana mungkin tumbuh-tumbuhan tercipta lebih dahulu ketimbang benda penerang? Ya mati dong... Dia lupa bahwa di hari pertama  sudah ada terang. Kalau sekarang ini manusia sudah bisa menciptakan terang matahari buatan yang sanggup menumbuhkan tanaman, apalagi Tuhan - Sang Pencipta - Ia pasti sanggup menciptakan terang yang bukan berasal dari benda-benda penerang seperti yang manusia kenal saat ini yang sanggup menumbuhkan tanaman! Terang itu adalah Terang Ilahi, Divine Light, yang menjadi sebuah awal dari terciptanya alam semesta dan segenap penghuni bumi. Terserahlah orang mau menghubungkannya dengan teori Big Bang-nya Hawking, bagi saya Terang itu merupakan sebuah terobosan yang Tuhan lakukan untuk membuat dari yang kacau dan gelap itu menjadi sesuatu keberadaan yang 'sungguh amat baik', yakni segenap ciptaanNya (Kej 1:31).

Setelah 7 hari penciptaan selesai, Tuhan melanjutkannya dengan menciptakan suatu keluarga Allah yaitu dalam diri manusia debu tanah (adamah) dan perempuan (Kej 2:7,23) sebagai pasangan yang sepadan (Kej 2:18). Apakah mereka ini 'ciptaan baru' yang berbeda dengan laki-laki dan perempuan yang diciptakan Tuhan pada hari ke-6 (Kej 1:27), atau merupakan awal dari mereka semua itu? Ini tentu mengundang banyak opini dan perdebatan. Namun bagi saya, pikiran utamanya adalah: Tuhan menganggap keluarga sebagai hal yang penting. Keluarga menjadi sebuah terobosan di tengah persoalan kesendirian manusia. Saat ini, ada begitu banyak orang yang sendiri dan kesepian... Keluarga dan dukungan keluarga-lah solusinya! Keluarga diharapkan dapat berperan secara lebih optimal di jaman yang penuh persoalan dan ketidakpedulian ini.

Namun dalam perjalanan hidupnya, keluarga Allah ini mengalami jatuh ke dalam dosa, sehingga menimbulkan 'produk baru' yang bernama: kematian (Kej 2:16-17). Kematian adalah upah dosa, sebuah kutuk yang menjalar bagaikan kanker ke seluruh umat manusia. Namun syukur kepada Tuhan, bahwa 'keturunan perempuan' sudah mengalahkan Iblis yang mengikat manusia dalam dosa (Kej 3:15). Tuhan Yesus adalah Sang Terang - Devine Light - yang menerobos kacau dan gelap-nya dosa dan mengangkat manusia (yang dipilih untuk percaya kepadaNya) untuk kembali menjadi ciptaan yang 'sungguh amat baik'. Apakah manusia lantas terbebas dari kematian? Jelas tidak, mana ada manusia yang tidak bisa mati?! Namun kematian di dalam Kristus tidak lagi dipandang sebagai kutuk dan upah dosa, tetapi menjadi sebuah jalan untuk menerima anugerah keselamatan, yakni kehidupan yang kekal.

Lantas apa hubungan ulasan tersebut dengan 'Pohon Natal tanpa Lampu Natal' dan 'perziarahan'?

Ini sharing pribadi, yaitu di Natal tahun 2011 yang lalu. Karena berbagai kesibukan saya, akhirnya menjelang tanggal 25 Desember pohon
Natal belum terpasang di rumah. Waktu itu sudah tanggal 24 Desember siang. Apakah Natal tahun itu akan menjadi Natal tanpa pohon Natal? Setelah menimbang-nimbang, akhirnya diputuskan untuk tetap memasang pohon Natal sekalipun hanya untuk seminggu. Saat semua daun sudah terpasang, hiasan-hiasan bola dan bintang juga sudah digantung, tibalah saatnya untuk menyalakan lampu Natal. 'Klik'... Dan kami terdiam saat menyadari bahwa semua lampu Natal padam... Mungkin ada kabel yang putus di suatu tempat, tapi kami sudah tidak punya waktu lagi untuk memperbaiki atau membeli yang baru. Jadilah pohon Natal yang tanpa lampu Natal...

Natal tahun 2011. Mama saya - yang saat itu sudah sakit kanker parah - mendadak berkeinginan untuk merayakan Natal bersama saya sekeluarga di Jakarta. Saya merasa sangat bersyukur karena saya masih berkesempatan untuk merayakan Natal bersama mama saya di tahun itu, yang adalah Natal terakhir bagi mama saya. Setelah mengikuti Perayaan Natal di tanggal 25 Desember, saya baru menyadari betapa mama terlihat begitu lelah. Dan sepulangnya ke kota asalnya, kondisi fisik mama saya terus menurun, dan 3 bulan kemudian mama berpulang ke surga. Saya sempat berpikir: apakah pohon Natal tanpa lampu Natal adalah merupakan sebuah pertanda kematian dari orang yang saya kasihi? Atau hanya kebetulan acak belaka?

Mengalami sendiri situasi kematian ternyata bukan hal yang mudah. Saya bersyukur karena di jam-jam awal masa kedukaan, saya di cover oleh Pdt Dianawati dan Pdt Frans yang jauh-jauh datang untuk memberi support bagi saya sekeluarga. Dan di saat-saat seperti inilah - hingga berbulan-bulan sesudahnya - saya menjalani perziarahan ke dalam misteri kehidupan dan kematian, yang saya tahu perziarahan ini pun diikuti oleh banyak orang yang bergumul dengan hal yang sama.

Ada beberapa hal yang akhirnya saya temukan dalam perziarahan saya (yang masih berlanjut hingga kini).

Yang pertama adalah: pentingnya ikatan keluarga. Dalam masa-masa sulit, justru ikatan keluarga harus semakin diperteguh. Kami sekeluarga kini merasakan kualitas hubungan yang semakin baik satu sama lain, sekalipun kami tinggal saling berjauhan, dan inilah yang menjadi sumber kekuatan dikala kelemahan datang menghampiri. Keluarga-lah yang pertama-tama harus saling menguatkan, setelah itu barulah orang lain (saudara seiman, tim perlawatan khusus, pendeta, dsb). Keluarga yang justru terpecah saat kesulitan/duka datang akan sangat sulit untuk melakukan recovery, dan ini jelas membutuhkan sebuah kerelaan dari masing-masing anggota keluarga untuk dapat lebih saling menahan diri dan berkorban. 

Kedua adalah: meninggalkan warisan. Warisan disini bukanlah warisan materi, namun lebih kepada nilai-nilai yang bisa kita tinggalkan kepada orang lain saat kita kembali ke sorga. Pepatah mengatakan: sesuatu akan terasa begitu berharga saat kita kehilangannya. Saat mama saya berpulang, barulah saya dengan jelas melihat betapa luar biasanya dia! Perhatian, dukungan, rasa kehilangan, cerita-cerita yang baik... Membuat saya berpikir: kalau giliran saya yang mati nanti, apakah saya pun akan meninggalkan warisan nilai-nilai yang sebaik yang diwariskan mama saya? Misteri kematian seharusnyalah membuat manusia berusaha dan terus berusaha untuk meninggalkan warisan yang semakin baik, dan bukankah hal itu membuat dunia menjadi tempat yang semakin baik untuk dihuni manusia?

Pohon Natal tanpa lampu Natal... Saya pikir hal yang baik apabila Natal dapat dipersiapkan dengan lebih baik. Namun itu bukanlah yang terpenting! Yang terpenting adalah: kita seharusnya yang menjadi lampu-lampunya, yang tidak terpadamkan dan yang bersinar terus bagi sekitar kita! Kalau Divine Light itu telah membuat terobosan bagi dunia yang kacau dan gelap, maka kita sebagai umatNya pun seharusnyalah memancarkan terang yang menerangi dan mempercantik dunia. Semoga hal itulah yang bisa menjadi warisan hidup kita semua.

(TKS - 29/11/2012)

Selasa, 13 November 2012

CSS: Khotbah 3

Person

Hal yang terakhir dari Kuadran Kotbah adalah: si pengkhotbah.
Mengapa hal pengkhotbah ini perlu saya bahas disini? Karena mimbar gereja seharusnyalah dilayani oleh gembala asli dan bukannya gembala upahan!
Disini kita berbicara mengenai kredibilitas dan reputasi  seorang pengkhotbah, dan ini penting untuk menjadi perhatian kita semua.

Mengapa?
Karena menguasai content dan mengemas context itu dapat dipelajari dan dilatih oleh siapapun, namun hal person... Ini sebetulnya yang akan membedakan secara jelas antara kotbah dan seminar, antara penggembalaan dan 'sekedar training'!

Memang pengkhotbah hanyalah alat di tangan Tuhan untuk menguraikan Firman Tuhan kepada umat, maksudnya: Firman Tuhan tidaklah menjadi kurang wibawa dan otoritasnya saat disampaikan oleh seorang pendosa (lagian siapa sih yang tidak berdosa?).
Namun, hal itu bukanlah berarti bahwa pengkhotbah itu boleh siapa saja yang merasa terpanggil!
Berbicara mengenai kredibilitas dan reputasi pengkhotbah, kita akan berbicara mengenai dua hal, yaitu: tujuan dan profile

Tujuan
Saya yakin semua orang digerakkan oleh suatu  tujuan dalam memilih atau melakukan sesuatu. Sekarang, apa tujuan seseorang memilih dan menjadi seorang pengkhotbah (atau pendeta)? Disini saya tidak berbicara mengenai 'panggilan Tuhan' karena semua orang yang 'berani' menjadi pengkhotbah pastilah mengklaim telah memiliki special call dari Tuhan! Tapi, dibalik 'klaim panggilan' itu saya ingin kita jujur terhadap diri kita sendiri bahwa pastilah ada tujuan yang yang lebih realistis bahkan manusiawi. Itu bukanlah hal yang salah atau memalukan, bahkan sekalipun tujuan tersebut bersifat 'sangat kedagingan' seperti: untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga, untuk aktualisasi diri, bahkan untuk menegakkan ajaran gereja yang kalau perlu sampai harus memecah gereja! Yang menjadi masalah adalah: apakah bagaimana tujuan pribadi itu mampu ditundukkan di bawah tujuan Allah? Apakah itu 'tujuan Allah'? Dalam kaitan dengan topik ini, saya dengan yakin menyatakan bahwa 'tujuan Allah' bagi para pengkhotbah/pemberita Injil adalah PMBA: pergi, memuridkan-baptis, ajar (Amanat Agung, Matius 28:19-20a). Apakah PMBA itu masih menjadi prioritas Saudara? Ataukah PMBA itu hanya menjadi sebuah tempelan atau alat bagi pencapaian tujuan bahkan nafsu/obsesi pribadi Saudara?
Contohnya tentang 'pergi': kemana kita pergi? Apakah kita hanya ingin pergi ke tempat-tempat yang menguntungkan kita, yang basah, bahkan yang 'amplop'nya besar-besar, sehingga kita tidak mau melayani umat marjinal yang terkadang malah kita yang harus keluar duit pribadi?
Contoh lain tentang 'memuridkan-baptis': apakah kita lebih senang 'memuridkan murid' alias curi domba gereja lain (terutama domba yang gemuk) ketimbang membimbing seorang yang belum percaya untuk menjadi murid Kristus?
Contoh lain lagi tentang 'ajar': apakah kita lebih senang mengajarkan hal-hal yang ringan, menghibur, memotivasi, menjanjikan/membangkitkan harapan palsu, ketimbang mengajarkan ajaran yang benar dan alkitabiah sekalipun keras, sulit dimengerti, bahkan tidak menarik?
Yang lain silakan dilanjutkan sendiri, namun biarlah apapun tujuan 'kedagingan' yang normal kita miliki sebagai manusia TETAP TUNDUK dibawah tujuan Allah itu.

Profile
Penting bagi seorang pengkhotbah untuk memiliki sebuah profile yang tidak melulu sebagai ahli kotbah. Profile itu adalah sebuah kelebihan yang menjadi nilai tambah dari seorang pengkhotbah, bisa berbentuk gelar akademis (master/doktor), dosen seminari, penulis buku/jurnal/artikel, pengarang lagu, pemusik, pembawa acara radio/TV rohani, pelayanan luar (penginjilan, sosial, kemasyarakatan), dan lain sebagainya yang masih berdekatan dengan pelayanan. Bahkan hobi tertentu bisa menjadi profile, seperti bercocok tanam atau travelling, asalkan dapat memberi nilai tambah terhadap pelayanan yang dilakukan. Bukan hal baru penginjilan dilakukan melalui kegiatan pertanian, atau mengasah spiritualitas melalui kedekatan dengan alam. Intilnya, profile adalah sesuatu yang membuat wawasan kita makin luas, sehingga membuat para pengkhotbah 'bernilai lebih' karena pengalamannya yang banyak. Bagaimanapun juga pengalaman adalah guru yang terbaik, dan mendengarkan orang yang berpengalaman adalah sama dengan belajar pada guru yang terbaik. Jangan kungkung diri kita di dalam mimbar. Keluarlah, buat profile yang dapat memperluas wawasan Saudara, sehingga Saudara lebih mampu membawakan khotbah yang lebih berisi, mendarat, dan relevan. Itu tentu selanjutnya dapat membuat khotbah Saudara menjadi khotbah yang selalu ditunggu dan dicari.

Kamis, 01 November 2012

GKI Banjarnegara































Alamat: JL. Let.Jend. Suprapto no 47 Banjarnegara 53415

Email: gkibanjarnegara@yahoo.com

Umat: sekitar 200 orang yang beribadah di Kebaktian Umum

Visi: Menjadi kawan sekerja Allah yang dibangun di atas dasar yang kuat untuk bertumbuh dan berbuah

Misi:
- Mendorong anggota jemaatgiat bergereja
- Membangun gedung GKI Banjarnegara
- Mendukung Yayasan Debora sebagai wujud
   Pengabaran Injil

Ibadah:
- Minggu pk. 06.00: Kebaktian Umum 1
- Minggu pk. 08.00: Kebaktian ASM
- Minggu pk. 08.00: Kebaktian Umum 2

CSS: Khotbah 2

Context

Kalau ajaran/teologi lokal adalah isi dari khotbah, maka context adalah kemasannya. Pengertian simpelnya: bagaimana ajaran yang rumit itu dibahasakan sehingga mudah dimengerti dan inspiratif untuk diikuti oleh jemaat.
Sebuah content yang baik akan terlihat buruk oleh context yang buruk, sebaliknya sebuah content yang buruk akan terlihat begitu meyakinkan oleh context yang baik (sekalipun ngaco isinya).

Gereja-gereja muda dan modern ternyata lebih berhasil dalam menciptakan sebuah context khotbah yang baik. Sebaliknya gereja-gereja mainstream - yang biasanya sudah tua dan tradisional - sering gagap dalam menciptakan context khotbah yang lebih up to date, seraya berharap bahwa jemaat akan lebih mencari suara Tuhan ketimbang di-entertain (ini hanya alasan saja untuk menutupi kelemahan mereka yang memang lemah mengemas khotbah yang lebih baik!)
Seorang marketer sangatlah memahami bahwa kemasan produk merupakan salah satu penentu laku tidaknya produk yang dijualnya. Bahkan suatu kemasan dapat menjadi sebuah leverage (pengungkit) untuk mendongkrak harga jual, gengsi, bahkan rasa/feel. Sama-sama tas, kulit namun tas bermerek akan berharga lebih mahal, lebih membanggakan saat dipakai, bahkan terlihat lebih serasi dengan penampilan, ketimbang tas sejenis namun tidak ada merek.
Kita tidak sedang ingin me-marketing-kan kotbah disini, namun pemahaman marketing ini dipaparkan untuk sekedar memberi gambaran mengenai betapa pentingnya context kotbah itu!
Saya disini hanya akan memberi beberapa masukan untuk menciptakan context kotbah agar dapat lebih dibahasakan secara lebih jelas, menarik, dan inspiratif. Saya beri singkatan supaya gampang diingat, yaitu STAR (supaya kotbah di gereja Anda bisa benar-benar menjadi bintang)

Siapkan skenario
Kotbah mustinya ada sistematikanya, paling tidak terdiri dari:
1. eksposisi/ulasan atas Firman Tuhan yang dibaca dan
2. bagaimana implikasinya dalam hidup kekinian dan keseharian umat.
Poin ke-1 adalah poin yang diajarkan di seminari-seminari tentang bagaimana kita memahami, memaknai, dan mengomunikasikannya kepada umat, tersedia banyak kelas homiletika yang dapat membahas tuntas hal tersebut, paling tidak dalam 2 - 3 sks, jadi saya tidak akan membahas disini.
Namun poin ke-2, nah ini yang sering luput dari perhatian seminari. Akibatnya jebolan seminari seringkali menjadi seorang 'alien di atas mimbar' yang berbahasa 'dewa' kepada umatnya, dengan menyampaikan kotbah yang terlalu dogmatis dan terlalu 'tinggi', tidak bisa mendarat dalam realitas keseharian umat. Kegagalan mendaratkan/merelevankan Firman Tuhan ini seharusnya menjadi keprihatinan kita bersama, dan bukannya memaklumi bahwa sepantasnyalah 'gelap dan terang tidak dapat bersatu' alias wacana teologis di atas mimbar akan tertinggal disana saat jemaat kembali ke dunia nyata! Herannya, pengkhotbah dari mereka yang berlatar belakang sekular tampaknya lebih mampu mendaratkan/merelevankan Firman Tuhan ini! Mungkin karena mereka sudah memiliki pengalaman berada di dunia nyata (misal bekerja di kantor/perusahaan) sehingga nyambung-nya bisa lebih kena ketimbang mereka yang belajar di bangku-bangku seminari.
Itulah sebabnya jebolan seminari janganlah melulu membaca jurnal teologi. Menonton TV, membaca koran/buku/majalah Politik-Ekonomi-Bisnis, bahkan mengikuti perkumpulan non-gerejawi seharusnya tetap perlu dilakukan untuk memperluas wawasan maupun network.
Tapi ijinkan saya menyarankan satu skenario  untuk meningkatkan kualitas context kotbah ini, terutama untuk poin ke-2 ini, yang saya sebut saja sebagai Kotbah Tiga Babak:
  • Babak 1: Paparkan kondisi real yang related dengan ulasan Firman Tuhan dan jelaskan bahwa hal itu sangat relevan dan perlu menjadi perhatian kita bersama
  • Babak 2: Tunjukan 'si Tantangan', yaitu dia/sesuatu/keadaan yang bisa menyebabkan 'kondisi yang relevan' itu bisa mengalami gangguan atau hambatan, dan bagaimana 'tantangan' ini menjadi sebuah 'keprihatinan' yang perlu diatasi oleh kita
  • Babak 3: Beri Solusi untuk mengatasi si Tantangan, yaitu Tuhan Yesus melalui kebenaran-kebenaran alkitabiah yang membuat kita mampu menjalani kehidupan dalam 'kondisi yang relevan' itu.
Saya pikir, umat akan mendapat alasan untuk mendengarkan sebuah kotbah saat kotbah itu dengan jelas menunjukkan relevansinya dengan kehidupan umat. Kotbah yang tidak (dibuat) relevan... saya yakin tidak akan benar-benar menjadi kebutuhan umat, sehingga aktivitas Ibadah Minggu hanya akan menjadi sebuah kegiatan seremonial dan kebiasaan semata!

TAyangan sederhana
Saat ini gereja banyak yang sudah diperlengkapi dengan perangkat multimedia yang canggih seperti LCD projector atau monitor layar lebar, jelas bukan sebuah investasi yang murah demi lebih lancarnya pelaksanaan ibadah. Apabila gereja Anda sudah memiliki perangkat seperti itu: syukurilah dan gunakanlah untuk mendukung penyampaian kotbah! Namun apabila gereja Anda belum memilikinya: jangan sedih dan tetap pergunakan apa yang ada!
Intinya adalah: kotbah perlu didukung oleh sebuah 'tayangan sederhana' yang 'cukup pas' untuk mendukung penyampaian kotbah, dan tidak menjadi 'pengalih perhatian'.
Tayangan yang rumit dan kompleks memang terlihat berkualitas dan memukau. Namun hati-hati, karena umat bisa akan lebih memperhatikan tayangannya ketimbang kotbahnya!
Siapkan saja satu kata sederhana atau gambar sederhana untuk memudahkan umat memahami dan mengikuti kotbah Anda.
Saya beri contoh yang sangat sederhana, misalnya saat Anda sedang menguraikan tentang Hukum Kasih. Tidak perlu Anda memenuhi layar monitor dengan kutipan ayat dan gambar, cukup Anda tayangkan gambar satu panah vertikal di tayangan pertama (kasih kepada Tuhan) dan satu panah horizontal di tayangan kedua (kasih kepada sesama). Apabila gereja Anda belum memiliki proyektor atau layar monitor, guntingan karton atau styrofoam pun sudah cukup untuk mendukung kotbah Anda! Buat tayangan sesimpel mungkin, sehingga tayangan tetaplah berfungsi sebagai 'alat bantu' dan bukannya 'fokus utama'.

Ringkaskan
Di akhir kotbah, berilah sebuah ringkasan dalam 'satu buah kalimat yang habis dibaca dalam satu tarikan nafas'. Jangan bebani jemaat dengan sebuah kesimpulan panjang, cukuplah sesuatu yang singkat dan menjadi esensi dari kotbah itu sendiri.
Banyak gereja yang mengakhiri kotbah dengan doa, saat hening, maupun persembahan pujian. Namun sebenarnya umat lebih membutuhkan sebuah 'buntalan' yang dapat dibawa pulang, yaitu inti sari kotbah itu sendiri.
Kenapa musti 'habis dibaca dalam satu tarikan nafas'? Ini jangan dimaknai secara harafiah, karena maksud sebenarnya adalah: harus sesingkat-singkatnya sehingga mudah untuk diingat dan dibawa pulang. Sebuah ringkasan kotbah yang terlalu panjang juga berkemungkinan besar tidak akan dibaca oleh umat. Jadi, buatlah kesimpulan yang sesingkat mungkin, bisa ditayangkan di layar multimedia, maupun sekedar dikatakan.