Minggu, 28 Oktober 2012

CSS: Khotbah 1

Content 

Di depan sudah dijelaskan bahwa khotbah adalah penguraian Firman Tuhan. Sebuah khotbah yang baik tidak mengikat jemaat kepada khotbah itu sendiri (maksudnya membuat jemaat merasa cukup hanya dengan mendengarkan khotbah), namun harus terus memotivasi dan mendorong jemaat untuk langsung, tekun, dan teratur membaca Alkitab. Selain itu, sebuah khotbah yang baik seharusnyalah memiliki bahasa yang tidak hanya sederhana (mudah dipahami oleh umat awam) dan aplikatif (nggak teoriiii melulu), namun juga memiliki muatan teologi yang sesuai teologi gereja setempat.

Bagian yang terakhir (yaitu 'sesuai teologi gereja setempat') menjadi isu yang ingin saya angkat dalam bagian ini. Mengapa? Karena teologi merupakan salah satu jati diri sebuah gereja, sehingga saat kita mulai memikirkan untuk mencapai apa yang 'disana' (yaitu visi), maka kita perlu memahami titik berangkat kita, termasuk pemahaman atas 'siapa diri kita', dan bagaimana 'kita' memberdayakan diri kita sendiri untuk bergerak mencapai visi.

Bukan rahasia kalau masalah teologi sering menjadi salah satu penghambat pelayanan gereja, yaitu saat para teolog suatu gereja memutuskan untuk 'mengembangkan teologi gereja setempat' sedemikian rupa sehingga 'melayang terlalu jauh dari landasannya' yaitu apa yang disebut di atas sebagai jati diri gereja. Akibatnya adalah keributan terus-menerus yang menghabiskan waktu dan melemahkan gereja dalam menjalankan panggilannya. Kita tentu setuju bahwa tiap gereja memiliki sejarah perkembangan dan teologi yang memperkembangankannya. Nah, saat masa lalu berganti dengan masa kini, dengan berbagai perkembangan dan perubahannya, apakah warisan sejarah dan teologi masa lalu itu boleh dianggap sebagai barang kuno/usang bahkan tidak relevan lagi dengan kekinian, sehingga sah digusur oleh sesuatu yang dianggap lebih mutakhir dan relevan? Kalaupun tidak 'digusur', tetapi ditambahkan 'bumbu yang begitu banyak' sehingga natur aslinya menjadi berubah atau berbeda.

Saya ingin mengajak kita semua untuk: menghargai sejarah dan menghormati apa yang telah ditorehkan dalam sejarah, termasuk bagaimana sebuah gereja dibentuk oleh konsep teologi tertentu. Tentulah tidak ada orang yang mau dianggap 'tidak menghargai' dan 'tidak menghormati', boleh-boleh saja menyangkal demikian. Namun indikatornya jelas dan mudah, yaitu: sejauh mana kita telah berusaha untuk mempelajari konsep teologi gereja kita 'yang asli' sebelum kita 'berani' mengubah atau menambahinya dengan teologi yang Anda anggap lebih relevan, kontekstual, dan up to date! Silakan dijawab sendiri! Mari bicara tentang GKI (dan gereja Saudara masing-masing). Kalau GKI telah ditanam sebagai sebuah gereja Reformasi yang bercorak Calvinis, maka hargailah teologi GKI yang bercorak Calvinis, dan jangan 'menghakimi' bahwa Calvinisme - dengan ciri khasnya: ajaran mengenai Predestinasi - itu sudah tidak relevan dengan globalisasi masa kini yang berkaitan secara tidak langsung dengan munculnya pluralisme agama. Bukan rahasia lagi bahwa banyak teolog GKI yang mulai meninggalkan Calvinisme dan memasukkan teologi-teologi impor ke dalam GKI yang akhirnya membuat teologi GKI menjadi tidak jelas, dan nyaris tidak memiliki warna yang khas lagi. Pastilah ada yang berkomentar demikian: apa yang salah dengan teologi warna-warni yang nggak perlu 'khas'? Kan jadi bagus, indah, dan lengkap, dimana kekayaan teologi yang berbagai macam itu dikombinasi menjadi teologi bersama (ekumenis) yang bisa diterima semua pihak dan aliran. Nanti dulu Saudara, itu bukanlah pokok persoalannya! Pokok persoalannya adalah: sudahkah kita memahami teologi khas kita sebelum kita 'rela menduakan'nya dengan pemahaman lain yang seringkali berbeda perspektifnya.

Ambil contoh mengenai predestinasi yang sangat khas Calvinis. Ajaran predestinasi ini sering menjadi 'sasaran tembak', dengan menonjolkan wajah arogan umat Calvinis yang sepertinya merasa benar dan selamat sendiri, sedang yang lain adalah umat yang terkutuk dan calon penghuni Kerajaan Neraka! Itulah yang menyebabkan Teologia Calvinistik sering dianggap eksklusif, sombong, dll... sehingga harus digusur... Demi perikehidupan dunia yang lebih baik dan bersahabat... Sebetulnya tidak demikian! Seorang penganut Calvinisme yang sejati tidak akan menghakimi saudaranya yang penganut Arminianisme atau Katolikismen, pun terhadap mereka yang beragama lain, sebagai 'calon penghuni kerajaan neraka'. Mengapa?
Pertama, karena Calvinisme percaya bahwa teologi tidak menyelamatkan, hanya Tuhan yang menyelamatkan, dan penyelamatan Tuhan itu 100% ditentukan oleh Allah tanpa sedikitpun kontribusi manusia.
Kedua, ajaran Predestinasi TIDAKLAH MUNGKIN membuat seorang Calvinis Sejati menjadi eksklusif dan sombong! Mungkin seorang Calvinis Palsu yang hanya setengah bahkan seperempat memahami teologi ini bisa menjadi eksklusif dan sombong, seperti pepatah mengatakan: 'tong kosong nyaring bunyinya'! Seorang Calvinis Sejati justru niscayanya menjadi seorang yang inklusif dan rendah hati. Mengapa?
  1. Karena kita sebetulnya TIDAK PERNAH TAHU siapa sebetulnya orang yang dipilih dan orang yang ditolak. Mungkinkah sedikit orang yang dipilih? Ya mungkin! Mungkinkah banyak bahkan semua orang dipilih? Ya mungkin! Kan yang tahu dan yang memilih itu Sang Pemberi Keselamatan itu sendiri, bukan kita! Jangan-jangan kita yang selama hidup aktif melayani Tuhan, menjadi penatua, menjadi pendeta, bahkan menjadi penjala ribuan manusia untuk Tuhan, menjelang ajal menjemput justru berbalik menyangkal Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Jurus'lamat kita! Sebaliknya mereka yang kita cap 'kafir' justru menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Jurus'lamat mereka sebelum nyawa terlepas dari tubuh jasmani ini! Kita tidak akan pernah bisa tahu hal itu sebelum kita meninggal di dalam iman yang sejati kepada Tuhan Yesus! Jadi seorang Calvinis Sejati pastilah orang yang rendah hati dan selalu berharap kepada Tuhan agar diberi kesempatan dan anugerah untuk tetap setia mengikuti dan mempercayaiNya sampai akhir hidupnya. 
  2. Ketidaktahuan ini juga membuat seorang Calvinis Sejati membuka dirinya terhadap dunia, menjadi garam dan terang bagi dunia. Mengapa? Karena kita TIDAK PERNAH TAHU siapa saja orang yang akan kita menangkan jiwanya. Siapa mereka? Tidak tahu! Umat pilihan Tuhan 'terserak' dimana-mana, sehingga berita Injil harus dikumandangkan dan disebarkan SELUAS-LUASNYA, baik melalui perkataan maupun perbuatan, menjadi sebuah undangan terbuka bagi 'mereka yang terserak' untuk percaya dan menjadi murid Tuhan Yesus. 
Pertanyaannya: ini kristenisasi bukan? Pertanyaan ini tidak bisa dijawab dengan 'ya' atau 'tidak', karena pertanyaan ini sebetulnya mencerminkan khas-nya toleransi antar umat beragama di Indonesia, yaitu: disharmoni, alias toleransi bohong! Penginjilan Kristen atau syiar agama lain seharusnya tidak perlu membuat disharmoni dalam kehidupan beragama, apalagi kalau kita memiliki pemahaman bahwa umat terpilih itu 100% ditentukan oleh Tuhan! Mau ditindas atau dihambat bagaimana pun juga tetaplah tidak akan sanggup merampas orang-orang pilihanNya dari tangan Tuhan (demikian pula sebaliknya). Atas pertanyaan itu, saya jawab demikian: kalau penginjilan kita memang dihambat, lakukanlah penginjilan melalui sikap hidup atau keteladanan yang baik kepada semua orang. Banyak juga kok orang yang dimenangkan bagi Tuhan Yesus karena melihat keteladanan yang baik dari para pengikut Kristus, dan bukan karena mendengar ribuan kata doktrinal atau membaca buku teologi yang tebal-tebal.

Paparan di atas hanya ingin menunjukkan perlunya kita mempelajari Calvinisme dengan lebih sungguh-sungguh, sebelum kita menggusurnya dengan teologi lain. Calvinisme masih relevan kok, dan yang paling penting telah teruji ke-alkitabiah-annya. Saya - sebagai umat GKI - mengajak jemaat GKI dan para teolognya untuk kembali belajar, memahami, dan memegang Calvinisme, sebagai sebuah akar dan jati diri gereja yang perlu terus dipelihara, dan membuat jemaat GKI memiliki kejelasan tentang ajarannya sendiri. Sekalipun tidak menyelamatkan, namun biarlah Teologi GKI menjadi sebuah alat bantu bagi umat untuk memahami suara Tuhan, kebermaknaan hidup, dan panggilan sebagai Umat Pilihan Allah! Dan ini akan terwujud apabila pesan mimbar GKI dengan setia menguraikan Firman Tuhan sesuai prinsip dan muatan Teologi Calvinis, yaitu teologi lokal (dan asli) GKI!

Jumat, 26 Oktober 2012

CSS: Visi 3

Ulasan visi ini  memang lumayan panjang, karena memang sengaja tidak saya potong mengingat pentingnya setiap materi tulisan yang ada.
Nah, memasuki pembahasan 4 kuadran CSS di bab-bab berikut, saya akan mencoba untuk mempersingkatnya dengan cukup membahas pokok pikirannya saja.
Namun ada 2 hal mendasar yang ingin saya sampaikan terlebih dahulu:
1. Kunci sukses sebuah gereja ditentukan oleh kegemaran umatnya dalam mendengar Firman Tuhan dan berdoa  (baik secara pribadi, kelompok kecil, maupun dalam sebuah ibadah minggu)
2. Keempat kuadran CSS  berlaku untuk apapun visi yang ditetapkan, yang berbeda hanyalah penekanannya saja
Tentu visi yang besar membutuhkan perhatian pada keseluruhan kuadran, sedangkan visi yang terbatas, mungkin dapat dicapai cukup dengan mengoptimalkan satu atau dua kuadran.

Berikut ini penjelasannya:

Pertama: Kunci rahasia sukses, yaitu Membaca Firman Tuhan dan Berdoa
Saya langsung beri contoh saja, yaitu seorang penginjil asal Tiongkok yang melayani sekitar tahun 1920-an hingga 1940-an, yang bernama John Sung. Ia dipersiapkan Tuhan untuk melakukan pelayanan-pelayan misi yang besar BUKAN saat dia bertumbuh di dalam lingkungan keluarga pendeta, BUKAN saat dia berhasil meraih gelar doktor ilmu kimia hanya dalam waktu 5 tahun (artinya: memiliki otak yang jenius), BUKAN saat dia memutuskan untuk kuliah di sebuah seminari yang prestisius di AS, TETAPI saat dia membaca Alkitab lengkap selama 40 kali saat dia dimasukkan ke dalam RS Jiwa karena dianggap gila oleh rekan-rekannya! Membaca Firman Tuhan adalah sebuah kunci rahasia sukses dari pencapaian visi gereja. Saat jemaat memiliki kegemaran membaca Firman Tuhan, disanalah karya besar Tuhan akan dinyatakan, dan berlaku pula sebaliknya...
Ini bukanlah berarti bahwa Tuhan menjadi tergantung pada manusia. Saya percaya bahwa karya Tuhan tetap besar dimana pun dan kapan pun. Namun karya besar itu akan lebih tampak dan terwujudkan oleh dan melalui orang-orang yang sungguh-sungguh mencari suara dan kehendak Tuhan. Itu sudah pasti!
Melalui kunci inilah sebetulnya kita dapat dengan mudah membedakan mana gereja yang bertumbuh dan gereja bonsai, mana gereja yang akan bertumbuh dan mana gereja yang akan mengalami stagnasi bahkan kemunduran. Itu semua ditentukan oleh bagaimana tingkat kegemaran umatnya untuk belajar Firman Tuhan dan berdoa. Gereja yang bertumbuh tidaklah dimulai dari rumusan visi atau program pelayanan yang hebat-hebat, TIDAK! Bahkan pelayanan yang terlalu hebat seringkali membuat umatnya lebih senang ber-aktivisme dan merasa cukup mendengar khotbah pendetanya ketimbang membaca Alkitab!
Loh, mendengar khotbah kan sama dengan mendengar Firman Tuhan kan?
Saya jawab: tidak! Mengapa? Karena khotbah hanya merupakan penguraian dari Firman Tuhan, bukan Firman Tuhan itu sendiri, yaitu Alkitab! Jadi mendengar banyak khotbah yang hebat-hebat dan menggugah - bahkan penuh kuasa/urapan - tidak akan pernah cukup tanpa pembacaan Alkitab secara langsung, tekun dan teratur. Langsung artinya: ya langsung baca Alkitabnya (bukan melalui buku-buku rohani yang sering 'menyunat' Firman Tuhan disana-sini untuk membenarkan tesisnya) , tekun artinya: baca tiap hari dan renungkan bagian-bagiannya siang dan malam, dan teratur artinya: berurutan dari Kejadian sampai dengan Wahyu, jangan loncat sana loncat sini. Dewasa ini ada begitu banyak khotbah di mimbar-mimbar gereja yang tidak menguraikan Firman Tuhan, namun malah menguraikan pikiran, pendapat, maupun filsafat pribadi si pengkhotbah! Indikatornya gampang, yaitu: berapa banyak khotbah itu berbicara tentang Kristus dan salib Kristus ketimbang berbicara tentang diri sendiri atau orang atau peristiwa tertentu. Hati-hati Saudara, saat khotbah tidak atau sedikit berbicara mengenai Kristus dan salib Kristus, bahkan berbicara tentang sesuatu yang bertolak belakang (misal tentang kesuksesan duniawi atau penyangkalan atas keselamatan yang hanya dimungkinkan melalui Kristus) maka khotbah itu bukanlah khotbah yang menguraikan Firman Tuhan, dan sudah pasti bukan Firman Tuhan itu sendiri! Itu hanyalah firman si pendeta yang ingin meruntuhkan kegemaran umatnya untuk membaca Firman Tuhan bahkan meruntuhkan kebenaran Firman Tuhan! Firman Tuhan adalah Alkitab, jemaat harus lebih gemar membaca Alkitab ketimbang mendengarkan khotbah, jangan terbalik!
Namun jangan salah mengerti juga, seolah-olah terkesan kalau membaca Alkitab di rumah saja sudah cukup, tidak perlu lagi mendengarkan khotbah di dalam Ibadah Minggu di gereja. Banyak saudara yang akhirnya berpandangan seperti itu, namun saya katakan bahwa pandangan itu pun keliru. Mengapa? Karena, pertama: sudah barang tentu bukan pandangan yang Alkitabiah (baca...), kedua: kita membutuhkan penguraian Firman Tuhan oleh mereka yang sudah belajar Firman Tuhan (yaitu para pendeta/teolog) agar kita tidak salah memahami Firman Tuhan! Keengganan untuk belajar dari orang lain, bahkan merasa dirinya sudah terlalu pintar untuk diajari, merupakan sebuah benih kebodohan yang bisa menuai penyesatan. Bagaimanapun juga kita membutuhkan perspektif dari ahlinya, yaitu para pendeta/teolog, yang tentu harus juga kita uji kompetensinya sebagai pendeta/teolog, agar jangan sampai kita digembalakan oleh 'serigala' bahkan 'iblis yang menyamar sebagai malaikat terang'!

Kedua, tentang pemakaian keempat kuadran CSS
Untuk hal ini saya tidak akan menjelaskan terlalu banyak lagi, namun perlu saya garis bawahi bahwa: apapun visinya, misi yang perlu dilakukan tidak akan jauh-jauh dari keempat kuadran tersebut. Perhatikan dan gunakanlah SEMUA kuadran, jangan sepotong-sepotong. Loh, masa visi beda misi harus sama? Bukan begitu, Saudara, pasti misi itu sifatnya customized, tergantung apa visinya. Bagaimanapun, visi memiliki jumlah pengunjung ibadah yang meningkat 2 kali lipat dalam 5 tahun  akan berbeda misinya dengan visi jemaat yang menyelesaikan pembacaan 66 kitab dalam Alkitab dalam setahun, dan jelas pasti berbeda misinya saat visinya adalah musik ibadah yang dibawakan secara orkestrasi penuh.
Ketiga contoh visi di atas pasti akan dicapai melalui misi yang berbeda-beda, namun melalui konsep CSS, kami percaya bahwa apapun visinya, misi tidak akan jauh-jauh dari ke-4 kuadran, yaitu: menyangkut Firman Tuhan, Doa, Kualitas Ibadah, dan Partisipasi Umat. Yang membedakan misi dari visi yang satu dan lainnya adalah: penekanannya! Diharapkan Saudara dapat menetapkan sendiri apa 'penekanannya' untuk visi gereja Saudara.

Untuk itu, marilah kita mulai membahas ke-4 Kuadran CSS satu demi satu.

CSS: Visi 2

Apa visi yang bisa saya buat?
Merumuskan visi merupakan pokok bahasan dari 'seminar satu hari' bahkan lebih! Saya berkali-kali mengikuti seminar dan training yang topiknya adalah: bagaimana cara merumuskan visi. Ada begitu banyak teknik dan metode yang dapat digunakan untuk merumuskan visi. Gereja saya saja merumuskan visinya setelah menjalani proses yang memakan waktu berbulan-bulan.
Lucunya, sekalipun sudah canggih membuat visi, dengan menggunakan bermacam-macam  metode dan melibatkan banyak orang, tetap saja visi seringkali berhenti sebagai pajangan yang sekedar membuat orang kagum sesaat, selebihnya... Ya nggak ada lebihnya lagi ketimbang sebuah kalimat bisu!
Karena itulah saya nggak mau bicara mengenai cara membuat visi, namun lebih kepada:  'apa yang bisa menjadi visi'.

Yang pertama, (tentu saja) hal-hal yang bersifat kualitatif maupun kuantitatif.
Contoh yang kualitatif: ibadah yang diminati oleh generasi muda, ibadah dengan liturgi yang fleksibel, atau ibadah yang membuat sorga turun ke bumi.
Sedangkan yang kuantitatif contohnyai: ibadah  yang setiap minggunya dihadiri oleh 1000 orang, atau ibadah yang melibatkan 20% dari umat sebagai pelayan ibadah, atau ibadah yang meningkat dari 3 kali pelaksanaan menjadi 5 kali.
Silakan saja buat sekreatif dan seluas mungkin. Yang penting visi itu berbicara mengenai sesuatu yang lebih berkembang/maju/baik di masa depan.
Namun ada sedikit saran dari para ahli pembuat visi, bahwa sebuah visi yang baik setidaknya memiliki 5 syarat, yaitu SMART:
1. Specific: fokus, terarah pada satu atau dua hal saja
2. Measurable: dapat diukur, bagi visi yang sifatnya kuantitatif jelas nggak ada problem (karena jelas ada angkanya), yang problem adalah visi yang kualitatif (misalnya seperti contoh di atas mengenai 'ibadah yang membuat sorga turun ke bumi'), musti ada penjelasan-penjelasan tambahan yang membuat visi itu lebih terukur, misalnya: musik dibuat 100% orkestrasi, atau ada Paduan Suara yang melayani setiap ibadah, dan lain sebagainya.
3. Attainable: boleh menantang, namun harus dapat dijangkau dengan mempertimbangkan sumber daya yang ada, yaitu: SDM (kemauan dan kemampuan umat) dan ketersediaan dana/fasilitas
4. Realistic: visi yang menantang dan dapat dijangkau juga perlu realistis, karena ada faktor x yang seringkali menjadi 'penghalang' seperti: budaya gereja setempat (misalnya: nggak mungkin gereja konservatif dibikin karismatik, atau sebaliknya), faktor kepemimpinan yang kaku atau sulit berubah, maupun kondisi lingkungan yang seringkali menjadi penghambat kegiatan gereja
5. Timebound: ada batasan waktu yang jelas, alias deadline, yang bisa di break ke dalam beberapa tahapan.

Yang kedua: visi seharusnyalah merepresentasikan context gereja setempat, yaitu: kondisi, problem/pergumulan, maupun cita-cita/harapan jemaat. Salah satu contoh perumusan visi yang baik adalah seperti yang dilakukan oleh gereja saya, yaitu GKI Nurdin, dimana perumusan visi dilakukan dengan sistem bottom-up, dimulai dari menjaring ide-ide dari umat, mengkristalkannya menjadi beberapa pilihan, lalu melemparkan pilihan-pilihan tersebut kembali ke umat untuk memilih satu visi yang paling cocok bagi mereka.
Cara bottom-up ini dapat menghasilkan sebuah rumusan visi yang baik apabila umat memang telah memiliki rasa concern dan self belonging yang relatif merata. Tetapi apabila kedua hal tersebut tidak ada atau hanya dimiliki oleh sebagian kecil dari umat (misal hanya dimiliki oleh para aktivisnya saja) maka niscaya proses bottom up itu hanyalah menjadi proses 3B: basa-basi bisu, yang akhirnya akan berhenti dalam sebuah statement visi bisu yang tidak visioner, bahkan tidak berdampak apa-apa terhadap kemajuan gereja.
Mungkin perlu kita memperhatikan cara Yohanes Calvin mengorganisasikan gerejanya di Jenewa yang kini dikenal sebagai presbiterial sinodal, dimana gereja memilih orang-orang pilihan untuk memimpin gereja, yaitu mereka yang memang concern dan dipercaya umat untuk memimpin gereja (yaitu para pendeta dan penatua). Ditangan merekalah seharusnya context gereja ditetapkan (jangan di open-pen kepada khalayak umat yang belum tentu concern dan berminat). Setelah beberapa pilihan visi terbentuk, bolehlah kini umat dilibatkan untuk memilih satu visi yang paling mendekati harapan umat (biasanya ditentukan melalui suara terbanyak).
Intinya, visi haruslah sesuai - atau paling tidak mendekati - context jemaat, sehingga visi tersebut mendapat dukungan umat dan memang benar-benar dapat menjadi arahan untuk masa depan gereja yang lebih baik.

Kamis, 25 Oktober 2012

CSS: Visi 1

Barusan saya katakan bahwa kotak tengah, alias visi, merupakan penentu jalannya CSS. Sebuah gereja yang well-formed peribadahannya mungkin sudah tidak memerlukan konsep macam-macam untuk memperbaikinya, wong sudah bagus! Atau sebuah gereja yang sudah nyaman dengan keadaannya sekarang, sekalipun sama sekali nggak mengenal bahkan mengalami ibadah yang sukses - jelaslah tidak membutuhkan CSS! Tapi bagi yang mau mengetahui CSS ini lebih lanjut, saya ingin sharing sedikit mengenai 3 hal:

Apa itu ibadah yang sukses
Dari awal saya sudah cukup banyak memakai kata 'sukses' yang terkait dengan ibadah. Mungkin sudah ada yang merasa terganggu dengan istilah itu, dan menduga bahwa saya sebenar-benarnya adalah penganut teologia kemakmuran (sekalipun bilangnya 'nggak'). Sekarang sudah tiba saatnya bagi saya untuk menjelaskan makna 'sukses' itu. Bagaimana pun juga, pengertian sukses bagi masing-masing orang berbeda-beda. Sukses menurut saya belum tentu sukses menurut Anda. Si A mungkin bilang bahwa sukses related dengan materi, sedang si B berpendapat bahwa sukses adalah memiliki rasa cukup: cukup makan, cukup mobil, cukup rumah, cukup deposito, cukup saham... (Itu sih sama saja!). Apapun pendapat kita mengenai sukses, satu hal yang sama adalah: sukses musti ada batasannya, dimana batasan inilah yang menentukan 'makna sukses'.
Lalu, apakah batasan dan makna sukses bagi sebuah ibadah yang dikatakan 'sukses'? Menurut saya, batasan dari sebuah ibadah yang sukses adalah: ibadah yang memiliki visi dan usaha untuk merealisasikannya. Visi bolehlah segala macam, usaha bolehlah segala cara. Tetapi saat sebuah jemaat berani membuat sebuah visi dan merumuskan usaha-usaha untuk mencapainya di dalam peribadahannya (sebagai main activity gereja), dan bukan hanya sekedar menjalankan kegiatan rutin mingguan, itulah ibadah yang sukses! Saya ingin berbagi inspirasi akan ibadah yang sukses melalui CSS, karena: kotak tengah CSS adalah visi, sedang ke-4 kotak CSS disekitarnya adalah usaha. Ibadah yang memiliki visi adalah ibadah yang sudah 50% sukses, dan ibadah yang diusahakan untuk mencapai visi adalah ibadah yang 100% sukses, tidak peduli apakah visi itu tercapai atau tidak, yang penting sudah berusaha! Loh kok begitu? Kalau visi nggak tercapai artinya gagal dong! Di gereja tidak seperti itu, Saudara. Dalam perusahaan sekular bolehlah kita berpandangan seperti itu, namun di gereja berlaku rumusan: manusia menanam (visi) + manusia menyiram (usaha) + Allah memberi pertumbuhan (perkenanNya) = gereja yang sukses (baca: Kor...)
Masalahnya sekarang adalah: siapa yang paling berkompeten membuat visi ibadah, dan seperti apa?

Siapa yang membuat visi?
Masalah 'menetapkan visi' menjadi sebuah masalah besar dalam pembuatan visi, masalah 'menjual visi' merupakan masalah yang jauh lebih besar lagi, sedangkan masalah 'siapa yang seharusnya membuat visi' adalah masalah yang terbesar. Saya bisa membuat 3 buku yang tebal-tebal untuk membahas ketiga hal tersebut, namun dengan jawaban yang tetap 'nggantung'. Mengapa? Karena jawaban dari ketiga pertanyaan 'berat' itu adalah diri kita sendiri, yaitu: seberapa besar kita memiliki self belonging atau rasa memiliki terhadap gereja kita. Dan masalah 'rasa memiliki' ini jelaslah berhubungan dengan masalah 'hati' yang seringkali sulit untuk 'diubahkan' atau 'ditransformasikan', bahkan cenderung fleksibel tergantung waktu dan kondisi. Begitu cepatnya hati seseorang berubah dari 'strong engaged' menjadi 'extremely dis-engaged' karena masalah-masalah yang begitu simpel dan terkadang kekanak-kanakan, seperti karena terlewat disebut namanya dalam doa syafaat atau karena tidak disalami oleh pendeta. Betul?
Masalah 'rasa memiliki' ini jelaslah memerlukan pembahasan lebih lanjut di bagian lain, namun untuk sementara ini cukuplah kita memahami bahwa seorang yang memiliki 'rasa memiliki' akan sangat mudah untuk memikirkan hal-hal yang perlu ditingkatkan dalam pelayanan gereja (baca: merumuskan visi). Sebaliknya seorang yang tidak punya 'rasa memiliki' maka berkecenderungan berperilaku sebagai 'nasabah' ketimbang sebagai 'stakeholder'. Apakah itu? Pengertian gampangnya: nasabah adalah pembeli, sedangkan stakeholder adalah pemilik. Dari pengamatan saya, saat ini begitu banyak gereja yang mayoritas dihadiri oleh 'nasabah' ketimbang 'stakeholder', entah gereja yang dihadiri puluhan orang maupun yang dihadiri oleh puluhan ribu orang! Memang lebih enak menjadi 'nasabah' (pastilah ini menunjukkan 'rasa memiliki' yang rendah) ketimbang menjadi 'stakeholder' gereja, sehingga umat berkecenderungan menjadi pasif dan taste-seeker. Istilahnya 6D: datang, duduk, diem, dengar, duit (beri persembahan), datang lagi (kalau dapat sesuatu); dan ditambah 1P: pindah ke gereja lain, kalau keinginan dan harapan kita tidak terpenuhi (alias kalau nggak dapat sesuatu dari gereja tersebut). Menyedihkan sekali kalau bergereja kita itu nggak lebih dari 6D+1P itu! Anda bukan nasabah yang kulturnya 6D+1P itu! Anda adalah stakeholder, pemilik bahkan bagian dari Tubuh Kristus!
Sebagai sama-sama Tubuh Kristus, seharusnyalah kita semua terpanggil untuk mengupayakan tercapainya sebuah tubuh yang sehat dan dapat berfungsi dengan baik, bukannya malah lari ke tempat lain yang dianggap lebih sehat, lebih 'memberi sesuatu', bahkan lebih 'dekat ke sorga'! Cuma ya itu: bagaimana menumbuhkan rasa memiliki, menyadarkan umat akan keberadaan dirinya sebagai bagian dari Tubuh Kristus, ini yang sulit! Namun, tetap ada way out nya (ini bocoran edisi Busa berikut-berikutnya): rasa memiliki TIDAK dapat dibangun melalui musik yang bagus, khotbah yang menyihir, atau oleh seorang pendeta besar yang setengah dewa sekalipun! Kalau pun bisa dibangun melalui hal-hal itu, Itu bersifat short term! Begitu musiknya jadi kurang nggigit, khotbah gereja tetangga lebih ampuh dan memikat, maupun pendeta besar itu pergi atau meninggal, maka bangunan rasa memiliki itu akan rubuh pelan-pelan! Yang betul adalah: rasa memiliki dibangun secara permanen melalui:
1. Keteladanan berjenjang, dan
2. Edifikasi
Sementara terima dulu ya, nanti ada kesempatannya hal ini dibahas secara lebih mendalam. Jadi, visi dapat dibuat oleh siapa saja, nggak selalu oleh para rohaniawan yang seringkali malah lebih menikmati status aman ketimbang membuat terobosan-terobosan baru yang selalu berisiko gagal.
Alkitab sendiri mencatat betapa banyak 'orang awam' yang membuat terobosan-terobosan dalam kehidupan spiritualitas:
  • Tuhan Yesus sendiri bukanlah berasal dari golongan imam atau nabi, Dia dibesarkan oleh keluarga pengusaha kayu, yang dalam keberadaanNya sekaligus sebagai Anak Allah membuat revolusi paling dahsyat dalam cara umat manusia beriman
  • Murid-murid Yesus juga sebagian besar berasal dari kalangan sekular, namun mereka mampu mendirikan sebuah organisasi spiritualitas yang akhirnya menjadi organisasi terbesar di dunia yang bernama gereja. 
  • Bapak gereja seperti Agustinus dan Yohanes Calvin juga bukanlah berasal dari kalangan rohaniawan, namun mereka mampu memberi warna kekristenan yang terus menjadi pegangan gereja masa kini. 
  • Bahkan cikal bakal GKI Jawa Barat pun bukanlah berasal dari penginjilan para rohaniawan Kristen, namun dari pertobatan seorang Ang Boeng Swi yang akhirnya membuahkan sebuah sinode wilayah yang besar dalam percaturan gereja-gereja di Indonesia. 
Anda pun sangat mungkin untuk memberi warna bagi kehidupan bergereja di tempat Anda! Masalahnya: apakah Anda punya rasa memiliki terhadap gereja Anda, sehingga Anda bisa:
  • bertahan di gereja Anda sekalipun teman-teman Anda yang lain 'lari' ke tempat lain yang tampak luarnya lebih 'hijau', 'segar', dan 'basah'? 
  • memikirkan apa yang bisa Anda lakukan untuk memperbaiki kinerja gereja Anda, baik secara kualitas maupun kuantitas? 
  • membuat komitmen pribadi untuk melakukan sesuatu yang bisa Anda lakukan sendiri, dan bukannya mengharapkan orang lain yang melakukan? 
  • menahan mulut untuk menanyakan 'why', dan membuka mulut lebar-lebar untuk menanyakan 'how can I ...'

CSS: Pengantar tentang CSS

Keren ya namanya: Church Success Square, disingkat CSS. Ini bukanlah topik tentang gereja sukses seperti yang dianut oleh para guru sukses ataupun teolog/pengkhotbah kemakmuran. Dijauhkanlah saya dari memegang teologi yang Tidak-Alkitabiah seperti itu!! (Mengapa saya 'hakimi' sebagai 'Tidak-Alkitabiah? Mudah-mudahan di Busa yang lain saya akan membahasnya, nggak sekarang) CSS adalah sebuah konsep bergereja yang terutama ditujukan untuk meng-streamline peribadahan agar dapat lebih 'sukses' dalam pelaksanaannya. Supaya dapat lebih jelas, Saya ingin menjelaskan 2 background munculnya konsep CSS ini:

Pertama: Saat Busa ini ditulis, saya sedang dipercaya Tuhan untuk menjabat sebagai penatua dan Ketua Bidang Kebaktian di sebuah GKI di Jakarta. Sebagai Ketua Bidang Kebaktian, saya merasa prihatin dengan kondisi kebaktian di gereja saya yang terus mengalami kemerosotan jumlah pengunjung ibadah dalam 10 tahun terakhir. Dulu, rata-rata pengunjung kebaktian adalah 800 orang, sekarang tinggal separuhnya... Berbagai cara sudah diupayakan untuk mem-blok penurunan itu dan membalikkan tren-nya, mulai dari memanggil konsultan yaitu pendeta dari gereja seazas yang kami anggap lebih maju, mendatangkan pendeta-pendeta dari luar GKI yang konon khotbahnya lebih menarik dan berisi (ternyata nggak juga sih), menciptakan suasana ibadah yang lebih inspiratif melalui musik, ushering, maupun multimedia yang makin berkualitas... Nggak berhasil juga! Sehingga akhirnya Tuhan memberi petunjuk kepada saya untuk menggarap 4 sektor peribadatan yang saya beri label CSS ini. Apakah CSS telah terbukti menjadi 'obat manjur' bagi 'penyakit' gereja saya, yang mungkin dapat menyembuhkan 'penyakit' gereja Anda juga? Jawabnya: mari bersama-sama kita buktikan, karena memang belum pernah dibuktikan kesaktiannya! Buka rahasia saja, saat saya menulis pengantar CSS ini, saya baru sebulan menemukan, memikirkan, dan memformulasikan konsep ini. Tapi, saya punya keyakinan bahwa CSS ini merupakan sebuah jawaban, lebih bagus ketimbang hanya sekedar mengeluh, bertanya, bahkan menyerah atau apatis.

Kedua Sejak peluncuran buku saya yang pertama mengenai 'Tiga Dimensi Keesaan dalam Pembangunan Jemaat' yang mengerucut pada konsep ACHIEVE (Active - Contemplative Worship, Healing - Inspiring Ministry, Ecclesial Reforming, Value-Added Life, dan Encounter with God) ), muncul sebuah pertanyaan besar: bagaimana cara menerapkannya? Ada sebuah missing link antara teori itu dengan daya aplikatifnya yang secara mudah dan masuk akal dapat diterapkan. Selain itu memang diperlukan adanya sebuah program pendahuluan untuk menciptakan sebuah landasan awal bagi bangunan Pembangunan Jemaat (PJ) yang dicita-citakan. Bagaimanapun juga, ada beberapa persyaratan yang perlu dipenuhi terlebih dahulu sebelum PJ dapat dipahami sebagai sebuah 'kebutuhan bersama'. Istilahnya: UPSA (untungnya buat saya apa) atau UPKA (untungnya buat kita apa). PJ sebagai sebuah teori yang muncul di lingkungan sosiolog sebagai wujud keprihatinan akan kemerosotan gereja di Barat, memang belum mampu mendongkrak kehidupan bergereja yang lebih bergairah di sana. Hal yang sama jangan sampai terjadi dengan wacana PJ di gereja-gereja Indonesia: sekedar menjadi barang antik, alias pajangan, yang nggak terlalu dibutuhkan, atau - lebih parahnya - hanya sekedar pilihan mata kuliah di seminari untuk sekedar menambah poin kelulusan bagi seorang mahasiswa teologi! Saya menyusun CSS bukan untuk menjadi sebuah barang antik, namun untuk menjadi sebuah pembuka jalan bagi PJ yang penting dan perlu bagi kehidupan bergereja yang sehat dan berguna (dalam bahasa standarnya: vital dan menarik).

Pertanyaannya: apakah CSS sebagai sebuah konsep peribadahan memang berkapasitas dan berkompeten sebagai pembuka jalan - bahkan penyusun landasan - bagi PJ yang cakupannya luas sekali? Di gereja saya, bahkan urusan ibadah dan PJ diurusi oleh dua bidang pelayanan yang berbeda. Jawabnya: bisa dan memang PJ harus dimulai dari peribadahan! Mengapa? Karena jemaat yang ber-PJ adalah jemaat yang (tentunya) beribadah, betul? Bagaimanapun juga, alasan pertama kita datang ke gereja adalah karena ingin beribadah. Dari ibadah inilah jemaat dapat diarahkan untuk naik level ke tingkat spiritualitas berikutnya, yaitu PJ, dimana didalamnya terkandung unsur: hidup ibadah yang holistik (tidak hanya ibadah liturgis belaka), pelayanan kepada sesama, rasa memiliki untuk turut mengembangkan gereja, hingga akhirnya secara personal dan bersama menjadi saksi melalui hidup yang bernilai tambah dan yang 'mengalami Tuhan'. Itulah sebabnya CSS memang related dengan PJ, karena melalui peribadahan yang 'sukses' maka PJ yang membuat gereja menjadi 'sehat' dan 'berguna' adalah sebuah keniscayaan. Semoga terwujud yang demikian!

CSS: Pengantar tentang BUSA

Konon sabun yang busanya banyak nggak selalu berkorelasi positif dengan daya bersihnya. Memang demikian halnya, karena busa hanyalah alat bantu alias pelicin agar proses menyuci dapat lebih mudah dilakukan. Daya bersih mutlak ditentukan oleh zat aktif pembersih yang terkandung di dalam sabun tersebut. Buku ini adalah BUSA, yaitu Buku Saku. Mengapa saya membuat Busa? Ada 3 alasan: Pertama: karena buku ini memang hanya menjadi alat bantu bagi kita semua dalam memahami secara lebih mudah beberapa aspek bergereja. 'Zat aktif' nya yang menjadi core keberfungsian gereja dapat Anda temukan di Alkitab maupun buku-buku paten yang membahas masalah bergereja. Kedua: karena sudah seharusnyalah konsep-konsep besar dikemas dalam bentuk yang sederhana, dan bukan sebaliknya: konsep kosong dikemas secara bombastis. Saya banyak belajar tentang 'mengemas secara sederhana' agar yang besar menjadi enteng untuk di 'kunyah' Ketiga: ini betulnya klise, yaitu masalah keterbatasan waktu dan dana untuk menulis. Sejak saya meluncurkan buku saya yang pertama di tahun 2008 yang lalu, saya ingin sekali menerbitkan buku lagi. Tapi... Kesibukan membuat pemikiran2 tak tersalurkan dan lenyap begitu saja... Sayang sekali. Karena itulah saya memutuskan untuk membuat busa, yang simpel, ringkas, dan 2M: murah dan mudah pembuatannya. Nggak perlu skill khusus, waktu khusus, atau bahkan marketing khusus untuk mewujudkannya. Bahkan saya tidak terlalu dipusingkan dengan masalah pajak, royalti, stok buku yang menumpuk, atau bahkan keinginan untuk melakukan cetak ulang. Bebas saja, bahkan saya bisa membagikannya secara gratis apa yang sudah Tuhan berikan secara gratis juga di dalam pikiran saya, sehingga setiap busa pasti ada edisi on-line nya, yang bisa diakses secara gratis dalam blog pribadi saya: ... Supaya jangan jadi makin berbusa-busa, saya persilakan Anda untuk lanjut ke bagian selanjutnya... Jakarta, 29 Mei 2012 Tepat 2 bulan sejak kembalinya ibunda tercinta ke Rumah Sejati di Sorga